Content: / /

Aris Gunawan, Jadi Filantropi Dalam Ketiadaan

Profil

14 Juli 2019
Aris Gunawan, Jadi Filantropi Dalam Ketiadaan

Aris Gunawan bersama Kapolsek Driyorejo, Gresik

LiraMedia.co.id, GRESIK - Orang menyebutnya suka bikin resek, jagoan demonstrasi, dan tak jarang sentilan hingga sangkaan negatif dialamatkan kepadanya.

Seringkali dia berseteru dengan pihak perusahaan atau pabrik yang menyalahi aturan perundang-undangan dan lingkungan, pembuangan limbah B3 (bahan beracun berbahaya) secara serampangan salah satu contohnya.

Jika tak kenal dekat, mungkin dia disebut preman. Tapi siapa sangka, dibalik ketegasan dan keberanian serta aksi-aksinya, dia getol membela "wong cilik" dari kebijakan semena-mena penguasa dan pengusaha, dan nuraninya sangat ciut sekali jika melihat anak-anak asuhnya dalam keadaan kekurangan. Anak-anak asuhnya terdiri dari anak yatim piatu dan anak-anak terlantar.

Dialah Aris Gunawan. Aris Gunawan ialah Ketua Front Pembela Suara Rakyat (FPSR). Sesuai dengan namanya, FPSR yang berdiri pada tahun 2015 ini bergerak menyuarakan aspirasi rakyat kecil yang termaginalkan oleh pembangunan industri.

Di luar itu juga memberikan advokasi terhadap buruh dan warga dalam memperoleh hak-haknya sesuai dengan perundangan yang berlaku serta layanan dari Pemerintah.

Tidak cukup sampai disitu, Aris Gunawan sekaligus pendiri FPSR ini sangat getol dalam memerangi industri yang membuang limbah di sembarang tempat.

Sepak terjang Aris Gunawan juga masuk ke ranah birokrasi jika terdapat kinerja yang tidak menyalahi aturan.

Pantang menyerah dalam membela rakyat kecil dan terus berada di garda terdepan dalam setiap aksinya, Aris ingin menunjukkan bahwa rakyat kecil tidak mudah ditindas atas nama kekuasaan dan kebijakan.

Suatu ketika Aris pernah membawa kasus pembuangan limbah B3 ke ranah hukum. Lebih parah lagi, dia harus berhadapan dengan oknum yang turut serta menjadi bagian dari kasus itu.

Bagi Aris, keberanian dan tegak lurus dalam membela kepentingan masyarakat ialah harga paten yang tak bisa ditawar lagi.

Begitu pula saat Aris membela puluhan buruh pabrik yang dikebiri hak-haknya. Dan masih banyak lagi upaya Aris untuk membela kepentingan masyarakat luas.

Apakah tidak takut dikriminalisasi atau dihabisi lawannya?

"Bagi saya, mati adalah urusan Alloh. Sebelum matiku itu tiba, entah detik ini atau lusa, saya ingin terus berbuat yang terbaik untuk orang banyak. Meskipun itu banyak yang mencibirnya, tapi setidaknya saya telah berbuat demi kebaikan," jawab Aris.

Bagi Aris, perbuatan baik kepada orang hasilnya melebihi harta apapun. Diyakininya, perbuat baik kepada orang, pasti kebaikan itu akan kembali kepadanya. Walau tidak kembali hari kepadanya secara langsung, bisa saja kelak kebaikan yang ditebarkannya kembali kepada anak cucunya.

Pesan mendalam dari Aris ialah jangan pernah sukses dengan menjerumuskan rekan sendiri atau orang lain. Dia berkeyakinan, karma dari sukses hasil menjerumuskan orang terutama rekan sendiri pasti akan ada.

"Terutama jangan pernah menipu teman sendiri, karena sadar atau tidak, karma itu ada. Lagi pula, jika menipu rekan atau menjerumuskan, itu sama saja mematikan jalan rejekinya sendiri. Orang itu takkan pernah dipercaya lagi, sehingga sulit diterima relasi," tegas Aris Gunawan.

Menamkan filantropi

Meski Aris terbilang bukan kaya secara harta, tapi untuk jiwa sosialnya sangat kaya. Tiap tahun secara rutin, ratusan anak yatim disantuninya. Dia juga punya sejumlah anak asuh yang disekolahkan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat sekolah menengah.

Aris juga memberi harapan disaat beberapa remaja menganggur, dengan memasukkannya kerja ke beberapa pabrik dan perusahaan.

Aris mengatakan, harta sesungguhnya yang dimilikinya ialah anak-anak asuhnya. Misinya untuk membantu itulah yang menutupi rasa takutnya.

"Selain Allooh, beking saya dalam hidup bukan seorang jenderal atau penguasa, tapi anak yatim. Doa-doa merekalah yang memudahkan langkahku di kehidupan ini dan menghilangkan rasa takut," jelas Aris.

Dari prinsip itu, alasan kenapa Aris jarang pamer foto dengan pejabat pemerintah atau petinggi instansi hukum.

"Bagi saya, habitat saya adalah orang kecil, orang tidak beruntung punya harta melimpah. Meski begitu, tidak masalah apa yang saya dapat dari kerja keras, saya dibagikan untuk anak yatim piatu karena saya berhutang kepada mereka. Berhutang karena mereka selalu mendoakan saya, maka seyogyanyalah saya berbalas budi," ujarnya dengan nada haru.

Aris menyatakan, pemberiannya kepada masyarakat seperti santunan bukanlah sekadar sedekah, bukan pula amal. Apa yang diberikannya itu merupakan bentuk komitmen terhadap dirinya sendiri.

Aris ikhlas, sebagian jerih payahnya dibagi untuk masyarakat kurang mampu terutama anak-anak asuhnya yang mencapai puluhan dan tersebar di beberapa daerah.

"Saya datang dari keluarga miskin yang tidak punya apa-apa. Hal itu menggerakan saya untuk bisa membantu orang banyak. Komitmen saya membantu orang, dan tidak menjerumuskan kawan. Hidup itu sekali, maka harus bermanfaat untuk orang lain," ungkap Aris. (sumber : Polipreneur.com)

Tinggalkan Komentar