Content: / /

Asap Pabrik PT Alu Aksara Pratama Ancam Kesehatan Warga

Fokus

06 Oktober 2017
Asap Pabrik PT Alu Aksara Pratama Ancam Kesehatan Warga

Tampak asap pabrik PT Alu Aksara Pratama

Liramedia.co.id, MOJOKERTO - Masyarakat di sekitar Jl Raya Perning kembali diresahkan oleh asap pabrik PT Alu Aksara Pratama, selaku produsen tepung merk Rose Brand. Asap mengepul disertai bau tak sedap sudah menjadi hal yang biasa dirasakan oleh warga.

Pada saa tertentu, asap itu berhembus ke permukiman warga di sekitar pabrik PT Alu Aksara Pratama yang berlokasi di Jl Raya Perning KM 39, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Sontak, warga yang mengidap penyakit asma harus menahan napas agar penyakitnya tidak kambuh. Begitupun dengan warga lain, mereka mulai khawatir diserang penyakit pernafasan.

Tidak tahan dengan kondisi yang dialaminya dan mengancam kesehatannya, seorang warga melaporkan yang dialaminya ke DPW Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) DPW Jawa Timur. Mendapati laporan itu, tim DPW LIRA Jatim mendatangi lokasi sekitar pabrik PT Alu Aksara Pratama pada Jumat, 6 Oktober 2017. Hasilnya, memang tampak asap tebal membumbung keluar dari pabrik.

Asap itu berwarna pekat keluar dari cerobong pabrik. Jika terkena angin, asap itu langsung menuju ke permukiman penduduk yang tak jauh dari lokasi pabrik. “Sudah berhari-hari kami menanggung bau tak sedap yang keluar dari asap itu. Pagi hari, asap itu keluar dengan cukup pekat warnanya,” kata seorang warga, Sunanji, kepada Liramedia.co.id.

Menyikapi itu, Anggota DPW LIRA Jawa Timur, Yulianto, sangat menyayangkan sampai sekarang tidak ada upaya dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) Mojokerto, untuk mengatasi polusi yang kerap dikeluarkan oleh pabrik.

Menurut Yuli, memang keberadaan industri termasuk PT Alu Aksara Pratama di Jetis cukup baik untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun, disisi lain dampak limbah atau polusi yang harus diperhatikan.

“Jangan sampai warga di sekitar PT Alu Aksara Pratama terus berdampingan dengan polusi atau limbah pabrik. Karena nilai ekonomi yang dihasilkan warga dari pabrik tersebut tidak sebanding dengan dampak lingkungan yang ditanggungnya. Efeknya bisa terhadap kesehatan yang berujung kematian,” tegas Yuli.

Dari catatan yang dihimpul Liramedia.co.id, bukan kali ini saja PT Alu Aksara Pratama (AAP) berselisih dengan warga sekitar karena limbah atau polusi yang ditimbulkannya. Pabrik tepung ini pernah terjerat kasus pencemaran pada 2006. Saat itu, AAP terbukti limbahnya melebihi baku mutu, yakni untuk kandungan Total Suspended Solid (TSS), Bio Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan mengandung logam berat. Akibatnya, sanksi pidana telah dijatuhkan, yakni 1,5 tahun percobaan dan denda Rp 3 juta. Namun, kini rupanya AAP belum jera dan terus melakukan pencemaran yang banyak dikeluhkan oleh warga.

Buktinya, pada Rabu, 23 Desember 2009 lalu, PT Alu Aksara Pratama kembali didemo puluhan warga RT 23 RW 02, Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Mereka memprotes karena selama tujuh tahun terakhir, PT Alu Aksara Pratama mencemari wilayah itu dengan limbah industri. Intrusi air limbah yang meresapi air tanah warga sudah mencemari sumur-sumur milik 52 keluarga. Air tanah itu sama sekali tidak bisa dipergunakan.

Kemudian, pada 15 Juni 2010 lalu, Tim patroli air gabungan dari Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur, Perum Jasa Tirta I, Polda Jatim, Dinas PU Pengairan Jatim, dan LSM, menemukan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT Alu Aksara Pratama.

Limbah AAP melebihi baku mutu, seperti dari kandungan atau kadar Bio Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS). Adapun kadar BOD dari inlet instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT AAP atau sebelum limbah diolah, yakni sebesar 1572 mg/liter, setelah diolah menjadi 427,4 mg/liter. Jumlah itu ternyata masih melebihi standar baku maksimal baku mutu sesuai SK Gub No 45 Tahun 2002 untuk industri tapioka, yakni sebesar 150 mg/liter.

Untuk kadar COD, dari inlet IPAL diketahui kadarnya sebesar 3414,6 mg/liter dan stelah diolah dan keluar di outletnya menjadi 1094,9 mg/liter. Jumlah itu juga melebihi kadar standar baku mutu, yakni 300 mg/liter. Sedangkan TSS, dari inlet sebesar 816 mg/liter setelah keluar outlet IPAL menjadi 186 mg/liter. Ini juga melebihi batas ambang standar baku mutu, yakni sebesar 100 mg/liter.

Dari hasil, sampel air limbah yang diambil di luar IPAL, yakni di up stream (sisi hulu sungai sebelum tercemari limbah) dan down stream (sisi hilir sungai usai tercemari limbah) saluran IPAL ke sungai, diketahui pula kadar BOD, COD, Phospat Total (PO4-P), dan Minyak Lemak melebihi standar baku mutu.

Untuk BOD di up stream dikatahui sebesar 2,77 mg/liter. Ini lebih kecil dari standar baku mutu sesuai Perda No 2 Tahun 2008 tentang Mutu Air Kelas III, yakni 6 mg/liter. Namun, usai tercemari limbah AAP, kadar BOD di down stream pun meningkat menjadi 67,5 mg/liter. Untuk COD, di up stream sebesar 7,711 mg/liter atau lebih rendah standar baku mutu, yakni 50 mg/liter. Usai tercemar limbah, di down stream COD meningkat menjadi 188,93 mg/liter.

Sedangkan kadar PO4-P di up stream diketahui sebesar 0,091 mg/liter. Ini lebih rendah dari standar baku mutu yakni sebesar 1 mg/liter. Setelah tercemar limbah di down stream kadarnya meningkat menjadi 3,681 mg/liter. Untuk minyak dan lemak di up stream diketahui sebesar 4500 mg/liter. Ini sudah melebihi ambang baku mutu, yakni sebesar 1000 mg/liter. Ternyata usai tercampur limbah AAP, kadar minyak lemaknya pun kian bertambah dan menjadi 7000 mg/liter. (did)

 

Tinggalkan Komentar