Content: / /

HUT ke-20, Yakes Telkom Jatim Bali Nusra Adakan Talk Show Kesehatan

Peristiwa

25 April 2018
HUT ke-20, Yakes Telkom Jatim Bali Nusra Adakan Talk Show Kesehatan

Prof Bambang memaparkan tentang ancaman penyakit bagi seseorang

Liramedia.co.id, SURABAYA - Di Hari Ulang Tahunnya (HUT) ke-20, Yayasan Kesehatan (YAKES) Telkom Area 5 Jatim Bali Nusra mengadakan Talkshow kesehatan bertajuk 'Tetap Bugar dan Bergairah Sepanjang Hari'.

Talk Show berlangsung di Aula Balairung Telkom Ketintang, Selasa (24/4/2018), diikuti 300 Pensiunan dan karyawan Telkom dengan mendatangkan nara sumber Konsultan Gizi, Prof Bambang W, DR, SP, G (K) dan Konsultan Fisioterapi dan Sport DR. Rwahita Satyawari SP. KFR (K).

Tingginya penyakit Hipertensi dan Diabetes Militus (DM) di Indonesia mengakibatkan kekhawatiran pengelola kesehatan dan para dokter di Indonesia. Demikian juga untuk pengelola Yayasan Kesehatan Telkom area 5 Jatim Balnus.

"Peserta yang berobat di Yakes Telkom makin banyak yang berpenyakit kronis terutama yang mengarah ke penyakit Diabetes Militus (DM) Hipertensi," kata Manager Yakes Area 5 Jatim Balnus, Abdul Jalil didampingi Asisten Manager Pengendalian Medis, Sukma S. Denny.

Tujuan dilaksanakan talk show ini adalah untuk merubah mindset peserta bahwa untuk mengontrol penyakit tersebut tidak bergantung pada obat tetapi justru pada pola hidup sehat.

"Pasien Yakes Telkom ini adalah karyawan dan pensiunan Telkom dimana yang berobat setiap harinya rata-rata 150 sampai 200 pasien dan 70 persennya dari pensiunan," kata Jalil.

Menurut Jalil, Yakes Telkom semula fokus pada pengobatan, maka untuk ke depan pihaknya akan memfokuskan pada pembinaan. Sehingga diharapkan, dari biaya yang selama ini dikeluarkan lebih banyak kepada obat-obatan.

"Diharapkan pula juga untuk pembiayaan dalam hal preventif dan duratifnya saja," lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Profesor Bambang mengharapkan pada pensiunan Telkom, meski sudah memasuki lanjut harus tetap sehat dan bugar. Meskipun sepuh, tapi tetep sehat, karena untuk pola hidup sehat dulu sama jaman now sangat beda.

"Kalau orang-orang dulu tidak banyak makanan yang dikonsumsi seperti sekarang yang mengandung kolesterol, asam urat dan hypertensi," jelasnya.

Yang terpenting dalam hidup ini, kata Bambang, kita harus berusaha dulu supaya umur biologisnya itu kelebihannya lebih mudah dari umur kronologis. Umur Kronologis dihitung dari tanggal lahir, misalnya umurnya 70 tahun, tapi biologis diukur dari kemampuan fisiknya.

"Jadi ada yang umurnya 70 tahun, tapi anunya masih jaman now, fisiknya. Dan itu tugas saya adalah makanan apa yang baik sehingga umur biologisnya lebih muda dari umur kronologisnya. kata Bambang disambut tertawa peserta talk show," ujarnya.

Bambang mengingatkan agar karyawan dan pensiunan Telkom mengurangi makanan yang bersumber dari karbohidrat. Karena akan membantu menurunkan diabetes.

"Hindari makanan glukosa. Karena semua makanan yang manis dapat memicu diabet dan kadar gula tinggi. Orang diabet banyak mengkonsumsi gula," tegas Bambang.

Sebagai seorang pekerja, kata Bambang, harus bisa mengatur Fisik. Fisik tidak boleh bekerja terlalu keras, harus ada istirahatnya. Fisik seseorang harus bisa menyesuaikan dengan hidupnya.

"Jangan terlalu banyak stres. Stres itu bukan karena problem tapi karena ada kekecewaan dan kecemasan dalam diri masing-masing," tegasnya.

Konsultan Fisioterapi dan Sport DR. Rwahita Satyawari SP. KFR (K) menambahkan, kalau kita ingin tetap sehat dan tetap bugar serta bergairah di sepanjang usia, maka kita perlu melakukan sesuatu upaya.

Untuk orang Indonesia ini, sesuatu yang sangat penting, karena biasanya ada orang jaman-jaman dahulu seperti orang tua kita, kakek nenek kita yang berpikiran bahwa kalau sudah lanjut usia ya sudah wajar. Padahal tidak begitu. Kalau sudah lemes, kalau gula darahnya naik, kalau sudah tekanan darahnya naik dan sebagainya itu sudah biasa.

"Sebenernya itu sesuatu yang tidak tepat. Jadi kita perlu melakukan sesuatu. Bagaimana mengatur pola makan yang sehat. Yaitu beragam, bergizi, seimbang, aman dan halal," tandas Rwahita. (did)

Tinggalkan Komentar