Content: / /

Impian Jamhadi Bawa Surabaya Sebagai Kota Berkelas Dunia

Profil

17 Juli 2019
Impian Jamhadi Bawa Surabaya Sebagai Kota Berkelas Dunia

Jamhadi dan pengurus KADIN Surabaya bersama Konjen Australia untuk Surabaya

LiraMedia.co.id, SURABAYA - Jamhadi dan Kota Surabaya ialah bagian yang tak terpisahkan. Meski lahir di Mojokerto, namun Kota Surabaya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya hingga ke tangga kesuksesan seperti sekarang ini.

Jamhadi sukses tidak hanya membangun bisnis melalui PT Tata Bumi Raya Group, dia juga berperan aktif dalam organisasi yang dibentuk maupun yang diikutinya.

Selain sebagai Ketua Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Kota Surabaya, Jamhadi juga mendapat amanah di beberapa organisasi, seperti mendirikan Surabaya Creative City Forum (SCCF) bersama Samsul Hadi, Ketua Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya, Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur, Tim Ahli KADIN Jawa Timur, dan sejumlah organisasi.

Amanah yang diemban Jamhadi bukan datang secara kebetulan, tapi melalui sepak terjang dan dibuktikan dengan kinerja. Jamhadi tidak sekadar mampu, tapi mau. Banyak orang mau, tapi tidak mampu. Begitu sebaliknya, ada yang mampu tapi tidak mau.

Nah, Jamhadi melengkapi keduanya, serta merangkul siapapun tanpa terkecuali. Prinsipnya, jujur, amanah, berbenah, dan tak kenal lelah, termasuk tak lelah menghibahkan sebagian banyak waktu dan tenaganya untuk memberikan kontribusi dan berpikir tentang Kota Surabaya sejahtera dan berbudaya.

Pernah suatu ketika, diantara kesibukan mengelola bisnisnya, Jamhadi menyusun ide-idenya tentang Kota Surabaya hingga larut malam, bahkan terkadang sampai dini hari.

Beberapa ide itu kemudian dijabarkan ke dalam naskah buku tentang Visi Kota Surabaya. Lelah?

"Sejak kecil, saya digembleng orangtua untuk bekerja keras. Bukan untuk diri sendiri dan keluarga, juga untuk bangsa dan negara termasuk Kota Surabaya dan Jawa Timur. Orangtua saya ialah perajin besi, misalnya membuat piring dari seng. Sama dengan orangtua, saya tidak merasa lelah selama saya bisa bekerja untuk membangun Kota Surabaya dan Jawa Timur ini," ujar Jamhadi, yang lahir pada November 1961 silam.

Menyebut Kota Surabaya dari segi ekonomi, Jamhadi menilai bahwa Kota Pahlawan ini tidak bisa lepas dari kabupaten atau kota di sekitarnya. Karena sarana pendukung Kota Surabaya menjadi kota berkelas dunia berada di daerah sekitarnya.

Ambil contoh keberadaan Terminal bus yang ada di Sidoarjo. Begitu pula airport di Sidoarjo. Surabaya juga didukung pelabuhan dari Gresik, meski Surabaya punya Pelabuhan Tanjung Perak.

Pun demikian dengan Bangkalan, Mojokerto, Pasuruan, dan daerah lain.

"Itu dari sarana penghubung dan perdagangan. Jadi kenapa Kota Surabaya disebut kota jasa dan perdagangan, karena Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya sebesar Rp 463 triliun atau 52% di tahun 2018 dibentuk dari jasa perdagangan, 17% dari industri pengolahan, lalu berikutnya konstruksi dan ICT (teknologi, informasi, dan komunikasi)," jelas Jamhadi.

Uang yang beredar di Surabaya, disebut Jamhadi, sebesar Rp 2,2 triliun dari nilai Rp 97 triliun di Jawa Timur. Dari jumlah itu, 30% beredar di kawasan central business district (CBD) 1, seperti Kecamatan Gubeng, Bubutan, dan pusat kota karena perbankan ada di wilayah tersebut.

Lalu CBD 2 seperti Tanjung Perak, dan sekitarnya. Dan berikutnya di CBD 3 yang berada di Surabaya barat.

"PAD (pendapatan asli daerah) Surabaya sebesar Rp 5 triliun, APBD Rp 9,6 triliun. Atas capaian itu, pemimpin Surabaya harus punya tolok ukur dari sisi ekonomi dan sisi lainnya. Jika ada pembangunan, apakah itu akan berdampak terhadap kemajuan warganya, itu tolok ukurnya bisa dilihat dari survei. Contoh kecil ialah survei tingkat kebahagiaan warga Surabaya. Kepala daerah yang sukses jika di daerahnya income per kapita penduduknya meningkat, dan tingkat kebahagiaan meningkat," ujar Jamhadi, memaparkan.

Jamhadi lebih lanjut memaparkan tentang membangun Kota Surabaya ke depan dari sisi ekonomi diluar sisi pendidikan, kebudayaan, maupun sosial. Dalam upaya itu tidak lepas dari trade, tourism, dan investment.

Dari sisi trade atau perdagangan, Jamhadi menjelaskan, upaya Pemkot Surabaya harus memfasilitasi 52% sektor jasa dan perdagangan yang dibentuk dari PDRB. Caranya, salah satunya dengan membuat event tematik tiap bulannya.

Upaya itu dinilai mampu menjadi daya tarik buyer atau pun wisatawan lokal dan luar negeri.

"Itu belum dikerjakan sepenuhnya. Cuma yang sudah terlaksana ialah pada Mei ada SSF (Surabaya Shopping Festival). Selebihnya belum ada. Padahal, SSF itu mampu mendatangkan buyer-buyer dan wisatawan luar negeri. Saat itu, selain buyer dan wisatawan dari Asia dan Eropa serta Amerika, datang pula dari Somalia, dan negara-negara Afrika," jelas Jamhadi.

Dampak positif dari dilaksanakannya event tematik itu ialah meningkatnya okupansi hotel dan produk UMKM Kota Surabaya juga dilirik.

"Hotel penuh, perdagangan meningkat, warganya giat. Event itu menunjang jasa perdagangan Surabaya, tempatnya pun tiap bulan di gelar secara bergantian. Misal Juni pameran pendidikan dilaksanakan di JX Expo, lalu bulan berikutnya pameran otomotif di Grand City Convex, berikutnya lagi pameran IT di Dyandra, dan seterusnya," kata Jamhadi.

Dari sisi wisata, Jamhadi menekankan pentingnya mengoptimalkan wisata religi seperti di kawasan religi Sunan Ampel, Masjid Al Akbar Surabaya, kuil di Kenjeran, dan lainnya. Juga wisata bahari di kawasan Kenjeran.

Tak lupa juga keberadaan cagar budaya yang menjadi daya tarik serta museum. Potensi itu bisa ditunjang dengan membuat paket wisata, semisal paket wisata dari Turki-Denpasar-Surabaya.

"Karena direct flight sudah terhubung di Bali dengan berbagai bandara internasional, begitu juga di Bandara Juanda yang terhubung penerbangan langsung. Tapi jangan lupa, infrastruktur transportasi juga harus terhubung sampai pelosok Surabaya dengan dibuat sheltering," kata Jamhadi.

Kemudian dari investasi, Jamhadi menyebut peluang bisnis di Surabaya masih terbuka lebar. Masih ada beberapa sektor yang belum terjamah secara maksimal. Diakui Jamhadi, investasi di kota Surabaya, baik PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) maupun PMA (Penanaman Modal Asing) terus tumbuh.

Dari PMA, investor yang menanamkan modalnya terbanyak masih Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

"Setelah TTI (trade, tourism, investment), baru tentang sisi kebudayaan, pendidikan, sosial, dan lainnya, termasuk smart city," ujar Jamhadi. (did)

Tinggalkan Komentar