Content: / /

Jamhadi dan Prof Romdoni Bahas Upaya Mewujudkan Wisata Kesehatan di Surabaya

Pendidikan

27 Juli 2019
Jamhadi dan Prof Romdoni Bahas Upaya Mewujudkan Wisata Kesehatan di Surabaya

Prof Romdoni dan Jamhadi

LiraMedia.co.id, SURABAYA - Pertemuan antara Dr Ir Jamhadi, MBA, dengan Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni, Sp.PD, Sp.JP (K), menjadi momen penting dalam upaya mewujudkan Jawa Timur khususnya Kota Surabaya sebagai jujukan pelayanan kesehatan berkelas internasional.

Bahasan kedua tokoh ini mulai pengelolaan rumah sakit berstandar ISO dan penanggulangan limbah medis. Profesor Romdoni yang menjabat Direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari tidak menampik bahwa bisnis rumah sakit terus booming. Bisnis ini dinilai menguntungkan disamping bisnis pendidikan asalkan dikelola dengan manajemen yang bagus.

Dia juga menegaskan bahwa RSI siap menjadi rumah sakit berkelas internasional. "Dari pada pergi berobat ke Singapura atau negara lain, RSI siap jadi rumah sakit di Surabaya sebagai rujukan," ujar Profesor Romdoni.

Jamhadi dalam pertemuan itu menyatakan bahwa Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) Kota Surabaya sudah lama merancang supaya Kota Surabaya memiliki wisata kesehatan yang tak kalah dengan negara-negara lain.

Untuk mewujudkan itu tidak lepas dari penerapan standar ISO, yang di dalamnya mencakup smart living, smart health, dan lainnya. Cuma yang jadi batu sandungan ialah pengolahan limbah medis.

"KADIN berpikir agar Kota Surabaya jadi kota wisata kesehatan. Wisata kesehatan dipilih sebagai cara untuk banyak orang melakukan perjalanan yang berfokus pada perawatan medis dan penggunaan layanan kesehatan di negara lain. Untuk menuju itu, di Jawa Timur masih kurang pengolahan limbah. Saat ini limbah itu dibawa dan diolah di Cileungsi, Jawa Barat," ujar Jamhadi, Ketua KADIN Kota Surabaya.

Diharapkan Jamhadi, Jawa Timur segera punya pengolahan limbah medis dengan kapasitas besar. Dia menyebutkan, pilihan lokasinya berada di Lamongan.

"Ada lahan di Lamongan yang siap dibangun pengolahan limbah medis. Hanya saja, dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, KADIN, atau pihak terkait harus melakukan serangkaian kajian agar jangan sampai limbah itu masuk ke air dan merembes kemana-mana," ungkap CEO Tata Bumi Raya ini.

Data yang dirangkum menyebutkan, sebagian warga Indonesia memilih Malaysia sebagai salah satu negara tujuan untuk melakukan wisata kesehatan. Menurut Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), tercatat 1,2 juta wisatawan internasional datang ke Malaysia untuk melakukan perjalanan medis pada tahun 2018.

Dari angka tersebut, 700.000 adalah pasien dari Indonesia. Pada wisata kesehatan ini, pasien Indonesia datang dengan berbagai perawatan mulai dari demam hingga yang paling kompleks. MHTC yang merupakan agensi wisata kesehatan dibawah Kementrian Keuangan ini mencatat pasien dari Indonesia melakukan pengobatan seperti onkologi, fertility, cardiology, kardiologi, ortopedi, dermatologi dan kadang hanya sekedar pemeriksaan kesehatan umum di Malaysia.

Alasan warga Indonesia memilih Malaysia sebagai destinasi wisata kesehatan adalah jarak antar negara yang dekat, fasilitas yang tak kalah canggih, dan bahasa yang masih serumpun.

Selain Malaysia, warga negara Indonesia juga sering berobat ke rumah sakit di Singapura yang dinilai memiliki fasilitas perelengkapan medis lebih lengkap. Namun, Jamhadi menilai bahwa fasilitas medis yang ada di rumah sakit di Indonesia juga lengkap. (did)

Tinggalkan Komentar