Content: / /

Kampanye ”Indonesia Merdeka Diare”

Pendidikan

23 Oktober 2017
Kampanye ”Indonesia Merdeka Diare”

Ilustrasi

Liramedia.co.id - Nurhadi (34), warga Made, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya, sempat kebingunan manakala putrinya, Alena Dinara Shatira, menderita sering buang air besar pada akhir awal September 2017 lalu. Tetangganya menyarankan agar Alena diberi minum teh pahit. Upaya itu pun dilakoninya.

Namun, putrinya yang masih berusia 1,6 tahun masih saja merengek nangis. Buang air besar pun terus berlanjut. Kemudian, dia mencoba membuat cairan oralit dari campuran gula dan garam. Sejauh dia berupaya mengobati sendiri putrinya itu, tetap saja tak membuahkan hasil. Diare yang dialami Alena masih belum sembuh.

Karena tak ingin sakit yang dialami putrinya itu bertambah parah, Nurhadi membawanya ke Rumah Sakit (RS) Wijaya, di Jl Menganti 398, Kecamatan Wiyung Surabaya.

“Anak saya opname selama 3 hari di rumah sakit Wijaya. Diagnosa dari dokter, katanya alergi susu. Maklum, sejak bayi anak saya diberi susu formula disamping ASI (air susu ibu, red),” kata Nurhadi, yang sehari-hari bekerja sebagai desain grafis ini.

Selama proses penyembuhan itu, kata Nurhadi, putrinya diberi susu soya yang dibeli khusus di apotik. Dokter menyarankan, untuk sementara dihindari dulu susu formula sampai benar-benar sembuh. “Dan alhamdullillah, setelah opname 3 hari sudah tidak diare lagi,” ujar suami dari Indah Yani ini.

Alena Dinara Shatira menjadi salah satu dari sekian penderita diare di dunia, khusunya di Indonesia. Dinukil dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, satu dari tujuh anak Indonesia pernah mengalami diare dengan frekuensi 2-6 kali dalam setahun. Dari data yang sama menyebutkan, diare menjadi penyebab kematian pada anak nomor 2 tertinggi di Indonesia.

Hal tersebut diperkuat dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2011 yang menyebutkan, angka kejadian diare pada anak di dunia mencapai 1 miliar kasus tiap tahun, dengan korban meninggal sekitar 4 juta jiwa. Angka kematian balita di negara Indonesia akibat diare ini sekitar 2,8 juta setiap tahun. Dari jumlah itu, Jawa Timur merupakan daerah kedua dengan sebaran frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) terbesar di Indonesia setelah Sulawesi Tengah.

Data yang didapat dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur menyebutkan, penderita diare di Jatim pada tahun 2009 lalu tercatat 989.869 kasus dengan proporsi balita sebesar 39,49% (390.858 kasus). Kejadian ini meningkat di tahun 2010, sebanyak 1.063.949 kasus dengan 37,94% (403.611 kasus) diantaranya adalah balita.

Pada tahun 2015, Dinkes Jatim telah menangani jumlah penderita diare sebanyak 887.184 kasus dengan 421.417 laki-laki, dan 465.767 perempuan. Kasus terbanyak di Sidoarjo 68.479 kasus, lalu disusul Jembar 61.038 kasus, Malang 53.702 kasus, Surabaya 50.283 kasus, Kab pasuruan 42.212 kasus, dan beberapa daerah lain.

Kenali penyebab diare

Lalu apa penyebab diare ? Pakar nutrisi, Emilia Achmadi MS. RDN menjelaskan, penyebab diare yang paling umum adalah infeksi pada usus yang diakibatkan oleh virus, bakteria maupun parasit yang menyebabkan radang pada usus. Infeksi seperti ini sering muncul dari makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kotoran atau langsung dari orang lain yang sedang mengalami infeksi yang sama (dari orang tua atau pengasuh kepada anak).

“Kondisi diare ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu diare berair dengan durasi pendek, diare berdarah dengan durasi pendek, dan apabila terus berlangsung selama lebih dari dua minggu, diare yang berkepanjangan,” jelasnya.

Emilia menambahkan, pada bayi usia kurang dari satu tahun dan pada anak balita, diare dapat juga disebabkan oleh sensitivitas (tidak sama dengan alergi) terhadap makanan seperti konsumsi sari buah yang berlebihan, perkenalan terhadap jenis makanan baru yang terlalu cepat dan juga kondisi yang disebut dengan intoleransi terhadap laktosa atau lactose intolerance yaitu ketidak mampuan tubuh mengolah laktosa dalam susu yang dikarenakan tidak optimalnya produksi enzim laktase.

Intoleransi terhadap laktosa menyebabkan munculnya gas, kembung, yang kemudian berakhir dengan diare itu sendiri. Cara paling efektif menanganinya adalah dengan mengganti susu, dari susu biasa menjadi susu bebas laktosa.

Susu bebas laktosa adalah sumber protein dan kalsium yang baik, tidak berbeda dari susu biasa. Fakta ini menghilangkan kekhawatiran dibanyak kalangan ibu yang khawatir akan terhambatnya pemulihan anak dari diare.

Susu bebas laktosa memiliki nilai gizi yang sama seperti susu lainnya, termasuk kandungan energi, protein, vitamin D dan mineral seperti kalsium dan potasium. Dalam banyak kasus, pemberian susu bebas laktosa menjadi alternatif bagi ibu yang memiliki anak bayi dan balita yang mengalami masalah diare yang dapat didiskusikan bersama dokter anak apabila ada tanda-tanda masalah pencernaan laktosa.

Diakui dr Emilia, diare dapat membawa dampak negatif terhadap tingkat kebugaran dan perkembangan mental. Sebagai pemicu utama malnutrisi pada anak terlebih bayi dan balita, diare menjadi salah satu penyebab terganggunya proses pertumbuhan yang berdampak pada kebugaran dan produktivitas di usia dewasa.

Lebih lanjut, terbukti bahwa diare berdampak besar pada perkembangan mental dan kesehatan. Anak- anak yang mengalami diare yang parah memiliki hasil tes intelektualitas yang rendah.

Namun orangtua tidak perlu khawatir berlebihan. Sebab, dr Emilia memberikan langkah yang perlu diambil apabila anak menderita diare. Diantaranya meneruskan pemberian ASI bila anak masih mendapat ASI, memberikan cairan sebisanya anak minum atau elektrolit sesuai anjuran dokter, jangan berikan jus buah maupun soda, teruskan konsumsi susu.  “Susu bebas laktosa dapat membantu, sekali lagi ikuti saran dokter anak anda,” lanjutnya.

Pernyataan serupa disampaikan dr Andy Darma, SpA (K) dalam media gathering kampanye “Indonesia Merdeka Diare” yang digelar Nutricia di JW Marriot Hotel Surabaya, pada Kamis 14 September 2017 lalu.

Menurutnya, seorang anak dikatakan mengalami diare saat mengalami buang air besar lebih dari dua hingga tiga kali sehari dengan kondisi feses yang lembek atau cair. Penyebab timbulnya diare ialah infeksi virus, bakteri, parasit, jamur, alergi, atau intoleransi makanan.

Namun sebanyak 60 % kasus diare disebabkan oleh infeksi rotavirus.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 30% anak yang mengalami diare akibat infeksi rotavirus, juga mengalami intoleransi laktosa.

”Pada saat diare, utamanya yang disebabkan oleh rotavirus, terjadi kerusakan jonjot usus, sehingga produksi beberapa enzim pencernaan, termasuk enzim laktase yang berguna untuk mencerna laktosa menjadi berkurang. Laktosa yang tidak tercerna kemudian tidak dapat diserap, sehingga menyebabkan diare semakin berat, kembung, dan tinja berbau asam. Kondisi itulah yang disebut dengan intoleransi laktosa,” paparnya.

Oleh sebab itu, dia mengimbau perlunya penanganan yang tepat dan cepat untuk meredakan diare pada anak. Seringkali, kata dr Andy, banyak ibu yang menganggapnya sepele kasus diare ini. Hanya satu dari 10 ibu yang memberikan penanganan tepat saat anak diare.

Dikatakan dr Andy Darma, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi diare pada anak, yaitu bagi yang masih menyusui, tetaplah memberikan ASI.

“Karena ASI adalah asupan yang terbaik, cegah dehidrasi dengan memberikan oralit, konsultasikan dengan tenaga medis, jaga kebersihan tubuh dan lingkungan anak, serta berikan nutrisi bebas laktosa atas rekomendasi dokter,” jelas pria yang jadi dokter di Klinik Khusus Pencernaan Anak ini.

“Apabila anak tidak mau makan dan minum, orangtua perlu mengusahakan asupan bernutrisi yang mudah diterima oleh anak. ASI dan cairan rehidrasi oral (oralit) adalah yang utama selain tambahan zinc,” lanjut dr Andy Dharma SpA.

Mengingat pentingnya orangtua mengetahui penanganan diare secara tepat serta dampak yang ditimbulkan akibat diare pada anak seperti yang disampaikan di atas, maka PT Nutricia Sarihusada bertekad agar Indonesia bebas dari penyakit diare, melalui kampanye ”Indonesia Merdeka Diare”. Kampanye ini dilaksanakan di beberapa kota, salah satunya di Surabaya pada 14 September 2017 lalu.

Nabhila Chairunissa selaku Brand Manager Digestive Care PT Nutricia Sarihusada, mengungkapkan, kampanye ”Indonesia Merdeka Diare” pernah dilaksanakan di Jakarta dan Medan. Menurut dia, upaya nyata ini merupakan komitmen dari PT Nutricia Sarihusada untuk mengurangi dampak terburuk dari diare di Indonesia.

“Melalui kampanye ini, kami harap informasi yang disampaikan dapat membantu ibu mengetahui pedoman cara mengatasi diare pada anak. Sehingga ibu akan tahu apa yang harus dilakukan bila suatu saat anak terkena diare,” katanya.

Kata Nabhila, pengetahuan yang memadai itu bisa jadi bekal bagi para ibu agar memberikan penanganan yang tepat saat anaknya menderita diare. Karena bila anak menderita diare berkelanjutan, maka akan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. Dan lagi, akan mengurangi nafsu makan yang berakibat pada menurunnya berat badan si anak.

“Karenanya, Nutricia berkomitmen untuk memenuhi asupan nutrisi yang baik saat dan setelah diare, sehingga anak dapat mengejar pertumbuhan fisiknya. Sebab, pada saat menderita diare, si anak susah diberi makan, bahkan mengalami dehidrasi,” jelasnya. (SP/did)

Tinggalkan Komentar