Content: / /

Kontribusi Dinas Perkebunan Jatim untuk Kesejahteraan Petani dan Perekonomian

Fokus

22 Desember 2017
Kontribusi Dinas Perkebunan Jatim untuk Kesejahteraan Petani dan Perekonomian

Karyadi, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur

Liramedia.co.id, SURABAYA - Perkebunan merupakan salah satu sub sektor yang sangat penting dan strategis dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Provinsi Jawa Timur. Di samping menjadi sumber pendapatan lebih dari 4,3 juta tenaga kerja secara langsung, perkebunan juga mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) maupun terhadap perolehan devisa ekspor non migas.

Sumbangan sektor perkebunan bagi perekonomian Jawa Timur tercermin pada PDRB bidang perkebunan. PDRB Perkebunan Jawa Timur selama tiga tahun terakhir terus meningkat dengan capaian Rp 2 triliun per tahun. Jika tiga tahun lalu PDRB mencapai Rp 14 triliun, kini meningkat menjadi Rp 20 triliun.

PDRB sebesar Rp 20 triliun ini adalah jumlah dari seluruh komoditi perkebunan Jawa Timur seperti tebu, tembakau, kopi, kakao, cengkeh, cabe jamu, dan banyak komoditi yang lain. Ini bisa dicapai karena seluruh masyarakat perkebunan Jatim dalam tiga tahun terakhir berada pada jalur yang benar (on the track).

Dibawah kepemimpinan Kepala Dinas Perkebunan, Bapak Ir Samsul Arifien, MMA, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Ir Karyadi, MM, Dinas Perkebunan Jawa Timur semakin menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan dan meningkatkan produktivitas dan mutu komoditi perkebunan, meningkatkan lahan yang subur untuk budidaya perkebunan, menambah sarana dan prasarana perkebunan, mengurangi hama penyakit dan mencegah gangguan usaha komoditi perkebunan, meningkatkan kemampuan kelembagaan petani dalam akses teknologi, informasi pasar, permodalan, hingga kemitraan.

Hal tersebut terlihat dari program-programnya selama beberapa tahun terakhir ini, yang secara langsung dapat meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan melalui peningkatan produksi perkebunan, peningkatan nilai tambah hasil produk perkebunan dan peningkatan pemberdayaan petani perkebunan terhadap faktor produksi, teknologi, informasi pemasaran dan permodalan sehingga memiliki daya saing tinggi kinerja sub sektor perkebunan utamanya pada komoditi unggulan tebu, tembakau, kopi dan kakao.

Salah satu programnya ialah memangkas masa angkut tebu dari sawah ke pegilingan menjadi 12 jam, sebagai upaya untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas produksi gula tahun 2017. Saat ini rata-rata waktu yang dibutuhkan sekitar 15 jam, sehingga berpengaruh pada hasil produksi.

Terkait itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir Karyadi, MM, pernah mengatakan, sesuai dengan Perda Nomor 17 tahun 2012 tentang Peningkatan Rendemen Dan Hablur Tanaman Tebu, disebutkan masa angkut tebu dari sawah ke pegilingan adalah maksimal 12 jam.

Dikatakan Karyadi, lamanya masa angkut ternyata berakibat terhadap hasil produksi yang bisa berkurang hingga 10%. Pengurangan itu disebabkan gula yang terlalu lama dibiarkan dan tidak segera digiling, secara otomatis akan mengalami kekeringan dan air gula yang diproduksi penyusut. Padahal bahan baku dari produksi gula adalah air yang ada di dalam batang tebu.

Mengatasi masalah tersebut, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur pernah mempertemukan petani dan direksi pabrik. Selama ini, masih ada dikotomi sama-sama menjadi raja dari sektor kebutuhan pokok tersebut. “Padahal tanpa petani, pabrik tebu juga tidak mampu menggiling. Sebaliknya, petani tidak dapat menjual tebu kalau tidak ada pabrik," terangnya.

Saat ini budidaya tebu di Jatim melibatkan 537.000 KK yang tergabung dalam lebih dari 2.000 kelompok tani. Mereka tergabung dalam wadah koperasi petani tebu rakyat (KPTR) sebanyak 105 unit.

Kebutuhan produksi gula di Jatim sebesar 450.000 ton. Jatim surplus gula hingga 580.000 ton dan didistribusikan untuk kebutuhan gula di luar provinsi, seperti Kalimantan, NTT, NTB, Papua, serta Bali.

Tahun 2016, produksi gula nasional sebesar 2.222.971 ton, Jatim mampu memproduksi gula sebesar 1.029.803 ton atau 46,33% terhadap produksi nasional. Luas areal tebu di Jatim 200.703 Ha dengan produksi tebu sebesar 16.260.000 ton. Dalam setiap hektarenya mampu meproduksi tebu sebesar 81,02 ton dengan produksi gula 5,13 ton.

Selain kopi, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur juga melakukan inovasi untuk komoditi kakao, yaitu Planet Kakao. Program ini membuat Dinas Perkebunan Jawa Timur meraih penghargaan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK) pada 25 Agustus 2017 lalu.

Program PLANET Kakao adalah inovasi yang menghasilkan solusi menyeluruh dalam komoditas kakao. Dengan pembibitan pola mandiri, diperoleh manfaat yang banyak. Antara lain, petani penjadi lebih pintar dalam melakukan pembibitan dan pemelihaan tanaman kakao. Kemudian, petani merasa lebih memiliki sehingga rajin memelihara tanamannya.

Yang ketiga, alokasi anggaran APBD untuk bantuan lebih efiisien. Jika mengandalkan bantuan, harga per bibit mencapai Rp.5.250,- per batang. Namun, jika menggunakan pola mandiri, hanya membutuhkan Rp 2.050,- per batang. Ini membuat pengembangan arael bisa lebih dipercepat.

Program ini sangat inovatif karena mengelola kakao dari hulu ke hilir. Tidak berhenti pada pembangunan tanaman (on farm). Planet Kakao dilengkapi dengan program adopsi pengolahan kakao menjadi produk sekunder yang selama ini dikuasai oleh pabrikan. SDM petani juga terus berkembang melalui kelembagaan kelompok dan terbukanya pikiran dan terus belajar. Apalagi dengan terbentuknya Kampung Coklat di Blitar.

Kini keberadaan Kampung Coklat dan kerjasama dengan para petani bisa menjawab pertanyaan. Bahwa teknologi pabrikan bisa dikuasai oleh petani yang semula sama sekali tidak bisa. Dengan demikian, nilai tambahnya berlipat ganda.

Lain dari itu, Dinas Perkebunan Jatim juga mengembangkan lahan komoditi kakao sepanjang Jawa Timur (Cocoa Belt) seluas 5.050 ha dan intensifikasi seluas 1.750 ha per tahun, pengembangan jambu mete (Cashew belt) seluas 2.700 ha di pantai utara Madura, peremajaan kelapa seluas 3.965 ha, perluasan kopi arabika pada ketinggian di atas 800 mdpl seluas 2.050 ha, rehabiltasi kopi robusta seluas 265 ha, rehabilitasi dan peremajaan cengkeh 6.425 ha dan pengembangan cabe jamu 125 ha.

Untuk tanaman tebu dilakukan kegiatan bongkar ratoon yang terealisasi secara keseluruhan melampaui target nasional seluas 28.400 hektar, yaitu mencapai 39.977 hektar atau 140 %. Secara rinci capaian realisasi tersebut terdiri dari : Bongkar ratoon bibit dari dana APBN (rekanan) 14.463 hektar; Bongkar ratoon bibit swadaya petani dari dana KKPE, PKBL dan PMUK seluas 18.168 hektar; serta Bongkar ratoon lahan milik pabrik gula (HGU dan tebu sewa) seluas 7.366 hektar. Disamping itu terdapat anggaran directive presiden untuk pengembangan tebu di Madura (Bangkalan dan Sampang) seluas 4.000 ha.

Pembangunan perkebunan lain yang juga dilakukan berupa intensifikasi dan denfarm pemupukan tembakau seluas 12.000 ha, diversifikasi perkebunan untuk peningkatan pendapatan petani perkebunan serta pemberdayaan petani perkebunan sebanyak 25.800 orang petani.

Untuk mendukung produksi dan produktivitas komoditi perkebunan, juga dilakukan pemberian bantuan sarana dan prasarana berupa 2.632 unit alat pengolahan hasil yang terdiri dari (pengolah kopi basah, sangrai, pembubuk, pengolah kopi espresso, pengupas kulit, pengolah bubuk, pendingin hasil sangrai, pengemas kopi; pengolah bubuk kakao, pengolah biji kering, penjemur, dryer, kotak fermentasi kakao; penyuling nilam; pengolah gula merah tebu dan kelapa; terpal; rehab oven dan gudang), 1 unit alat pengukur kadar air kakao, 31 unit APPO, 136 unit pompa air, 26 unit cultivator tembakau, 26 unit handtractor, 118 unit handsprayer dan 20 unit mistblower, 28 unit powersprayer, 1.100 unitgunting dan gergaji pangkas, 52 unit chainshaw, pembuat lubang biopori, 7 unit, penakar hujan 7 unit, crane timbangan tebu, serta 3.000 unit setup lebah madu.

Semua program Dinas Perkebunan Jawa Timur itu tidak terlepas dari visi pembangunan perkebunan di Jawa Timur periode pembangunan 2015-2019 adalah, yaitu “Jawa Timur sebagai provinsi agrobisnis perkebunan yang tangguh, berdaya saing dan berkelanjutan”. (Adv/Did)

Tinggalkan Komentar