Content: / /

Melihat Profil Edi Rumpoko, Walikota Batu dari PDIP

Profil

17 September 2017
Melihat Profil Edi Rumpoko, Walikota Batu dari PDIP

Edi Rumpoko

Liramedia.co.id, BATU - Tertangkapnya Walikota Baru, Eddy Rumpoko menjadi pusat perhatian publik. Terlebih, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) besutan Megawati ini seringkali lolos dari jeratan hukum.

Dia pernah disidik Polda Jawa Timur karena keterlibatan ijazah palsu SMP Taman Dewasa Perguruan Taman Siswa Surabaya. Seiring waktu, Polda Jawa Timur mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3). Lalu, perkara lain muncul, yakni gugatan sang istri, Aprillia Sulistyowati, melalui Pengadilan Agama (PA) Kota Malang untuk nafkah anak dan kerugian immateriil sebesar Rp 12 miliar pada 2001 silam.

Kini, alumnus SDK Xaferius Surabaya ini kembali berurusan dengan penegak hukum. Yang dihadapi bukanlah kepolisian maupun Pengadilan Agama, melainkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Untuk diketahui, sampai saat ini, tidak ada satupun perkara yang ditangani KPK dan masuk ke Pengadilan mendapat vonis bebas majelis hakim. Artinya, operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK terhadap Edi Rumpoko pada Sabtu siang, 16 September 2017, merupakan dugaan kuat bahwa mantan Pimpinan Umum Harian Suara Indonesia (1985-1990) ini telah menerima suap dari rekanan proyek Pemkota Batu, Provinsi Jawa Timur.

Lalu, siapa sebenarnya Edi Rumpoko ? Dihimpun Liramedia.co.id dari berbagai sumber, Eddy Rumpoko merupakan pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara pada 8 Agustus 1960. Meski dari Manado, sejak kecil Edi Rumpoko sudah tinggal di Surabaya.

Sejumlah jabatan penting pernah disandangnya, baik di organisasi ataupun di korporasi. Diantaranya Direktur Utama PT.Jenaka Agung, Direktur Utama PT Duta Perkasa Unggul Lestari, Direktur PT. Tanjung Pura Resort (2004), Komisaris PT Karunia Bumi Matahari (2003), Manager Director PT Tlogomas Primatama (2006), Komisaris Utama PT Ijen Sarana Media.

Jabatan di organisasi antara lain Ketua DPW Pemuda Pancasila Jawa Timur (1990-1995), DPD REI Jatim (1996-2000), Ketua Pengda Ikatan Motor Indonesia Jatim (2000-2005), Ketua Generasi Muda FKPPI Jatim (1999-2006), Kabid Alam dan Lingkungan DPP Pemuda Pancasila (2002), Pengurus Kadin Jatim (2004), Ketua PSSI Kota Batu, Wakil Ketua KONI Jatim, Ketua Dewan Pembina Yayasan Arema Indonesia.

Untuk Walikota Batu dijabatnya sejak 24 Desember 2007. Pada periode 2007-2012, ia didampingi Wakil Wali Kota Budiono. Untuk melanjutkan kepemimpinannya di Batu, pada tahun 2012 ia maju kembali berpasangan dengan Punjul Santoso. Pasangan Eddy-Punjul berhasil memenangkan pilkada Kota Batu 2012 dengan perolehan sebesar 46.724 suara (44,7%). Eddy Rumpoko dilantik menjadi wali kota untuk periode kedua berpasangan dengan Punjul Santoso pada tanggal 26 Desember 2012.

Dari riwayat keluarganya, Eddy Rumpoko merupakan putra sulung almarhum Brigjen TNI (Purn) Sugiyono dan Egnie Rumambe Sugiyono. Brigjen TNI Soegiyono atau yang lebih dikenal dengan Ebes Sugiyono sendiri adalah Wali Kota Malang periode 1973-1983 dan seorang perintis berdirinya PS Arema bersama Acub Zaenal  (mantan Gubernur Irian Jaya periode 1973-1975 dan mantan pengurus PSSI periode 80-an). 

Ebes Sugiyono juga pernah menjadi Wakil Gubernur Irian Jaya (1983-1986) dan juga salah satu pendiri Batalyon Infanteri (Yonif) 507/Sikatan (sekarang Yonif 500/Raider), Kodam V/Brawijaya dan pernah menjadi Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya. Itulah mengapa Eddy Rumpoko sering menggunakan angka 507, dikarenakan sang ayah merupakan salah satu pendiri Batalyon Pemukul Kodam V/Brawijaya itu

Eddy menikah dengan Hj. Dra Dewanti Rumpoko, M.Si dan memiliki anak bernama Dinasty Rumpoko, Ganisa Pratiwi Rumpoko dan Raras. Dewanti Rumpoko lah yang akan menggantikan posisi suaminya itu sebagai Walikota Batu, setelah terpilih pada Pilkada Kota Batu, yang digelar pada 15 Februari 2017. Dia berpasangan dengan Punjul Santoso, yang memperoleh suara 44,10%.

Tidak hanya di korporasi, karir politik Edi Rumpoko cukup mentereng. Terakhir, dia sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang yang ditunjuk pada 14 Maret 2015 menggantikan Hari Sasongko, sebelum akhirnya dipecat pada Oktober 2016 lalu.

Kini, di ujung jabatannya sebagai Walikota Baru yang berakhir pada 26 Desember 2017, nasib Edi Rumpoko berakhir di tangan KPK seiring dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Sabtu (16/9/2017). Penangkapan terkait dugaan fee proyek senilai miliaran rupiah.

Sampai saat ini, pihak KPK belum mengeluarkan rilis resmi tentang dugaan penangkapan Eddy Rumpoko. KPK hanya membenarkan bahwa telah terjadi OTT di Jawa Timur.

"Kami konfirmasi benar ada Tim KPK yang lakukan OTT siang tadi di salah satu kabupaten/kota di Jawa Timur. Sekitar 5 orang diamankan, termasuk kepala daerah dan pejabat unit pengadaan. Sejumlah uang juga diamankan. Diduga pemberian terkait dengan fee proyek di daerah setempat," kata Humas KPK, Febri Diansyah, Sabtu (16/9/2017) malam. 

Edi Rumpoko pun harus siap menerima keputusan DPP PDIP, yang menyatakan akan memecatnya sebagai kader. Pernyataan itu disampaikan oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, pada Sabtu malam.

“Langsung kami pecat, dan tidak ada bantuan atau advokasi hukum bagi yang terkena OTT,” demikian penegasan Hasto di Jakarta. (ins/Jun)

 

Tinggalkan Komentar