Content: / /

MEMBACA RASA

Fokus

26 April 2020
MEMBACA RASA

Ilustrasi

Seorang teman pengusaha curhat panjang. Via voice note. Sambil terisak-isak. Gak kuat. Harus ambil keputusan berat. Belasan tahun operasi bisnis harus di stop. Telaah pada putaran cash cukup berat. Hutang dagang gak kebayar. Inventory gak berputar.

Pria ini harus tegar walau isak sedihnya gak bisa dia sembunyikan.

Saya faham dia baik. Baru saja rasanya beberapa bulan yang lalu saya hadir di usahanya. Wajah optimis. Puluhan orang semangat. Dan semua harus berakhir dengan PHK massal tanpa pesangon.

Berat memang. Produknya tersier. Ini sebab saya berhenti jadi konsultan bisnis. Hari-hari saya cukup larut dalam sedih. Jadi mikirin usaha teman saya.

Larut. Kadang diam sendiri. Seperti melamun panjang. Saya baperan kalo sudah begini. Ikut kepikiran panjang.

Apa rasanya tiba-tiba gak ada kerjaan. Apa rasanya tiba-tiba gak gajian. Apa rasanya tiba-tiba harus hidup berwirausaha. Padahal belasan tahun otot tubuh sudah diabdikan bekerja pada sistem yang ajeg dan stabil. Sulit pivot kalo belasan tahun sudah kaku sebagai pekerja.

Saya jujur gak habis fikir. Bagaimana makan anak dan istrinya, bayaran sekolah, beli kebutuhan hidup, bayar listrik.

Negeri ini bukan Kanada yang bisa transfer 2.000 dollar Canada ke rekening warganya. Atau seperti Jepang yang transfer 100 ribu yen langsung ke penduduk. Penduduk negeri ini sudah lama yatim piatu. Harus hidup sendiri.

*****

Penerbangan domestik ditutup. Entah bener atau nggak. Masih simpang siur. Ada sahabat masih bisa take off Malang ke Jakarta.

Maka ground handling landasan kehilangan pesawat yang biasa parkir, lalu crew check in off, abang troli gak ada job, supir taksi bandara puasa, outlet jualan di bandara off, pemasukan angkasa pura off, moda transportasi off, pedagang asongan terminal dan titik-titik hubung juga off.

Pariwisata jelas stop. Tempat yang biasa ramai kunjungan jelas stop. Bisnis event-MICE pelatihan dan sejenisnya jelas stop. Mall dan pusat keramaian jelas stop. Supplier toko wisata jelas terpukul, pemandu wisata terpukul, karyawan karyawati juga off, putaran sektor wisata yang jadi harapan dampak ekonomi langsung ke arus bawah terhantam.

Maka turunan pekerja yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu jelas gak ada yang bisa nge gaji.

Dari mana gajinya jika omset gak ada? Pengusaha bukan Yayasan yang punya dana gratis yang siap dibagi-bagi.

Pemerintah larang PHK tapi pengusaha harus bayar gaji pakai apa?

Maka akan ada jutaan orang hari ini, detik ini, malam ini, yang sedang kosong pandangannya. Bingung. Gak tau lagi harus gimana.

Seorang istri yang menggendong kelaparan, karena gak ada susu. Kedinginan. Belum makan. Ibu menyusui pun ASI nya juga kosong. Gak ada supan makan untuk sang ibu. Berat.

Seorang ibu yang berdebar menatap angka pulsa di meteran pra bayar. Yang sulit untuk kembali diisi ulang KWH nya. Mengancam gelap rumahnya.

Seorang suami yang harga dirinya runtuh, perasaannya hancur, kehabisan cash, sementara istri dan anaknya merengek butuh asupan hidup. Hari ini, itu terjadi, walau kita gak mendengar dengan jelas. Tapi sudah terjadi.

Seseorang di PHK, itu bukan 1 jiwa. Itu pukulan bagi 4 jiwa yang hidup atasnya. Anak-anak, pasangan hidup, orang tua. Keras. Pedih. Sakit.

*****

Namanya manusia ya harus makan. Itu dorongan biologis paling mendasar. Puasa pun ya harus buka. Ada sahurnya. Gak bisa puasa terus berhari-hari.

Jika seseorang di PHK, mungkin bisa ke keluarganya yang masih punya uang. Lalu bagaimana jika keluarganya juga di PHK.

PHK kali ini bukan kejadian satu dua orang, tapi kejadian langsung satu kampung.

PHK di pramuniaga pusat perbelanjaan.

PHK di pabrik yang tidak lagi berproduksi.

PHK di restoran yang sudah kehilangan pembeli.

PHK di outlet-outlet UMKM pinggiran yang kehilangan traffic.

Lalu bagaimana jika mereka sudah gak ngerti lagi cara cari makan yang halal?

*****

Pertama kegelisahan,

Lalu kebingungan,

Meningkat menjadi kegusaran,

Lalu masuk pada tekanan,

Hingga berujung pada kemarahan,

Dan bayangkan jika ada jutaan orang lapar dan marah.

Marah atas ketidakpedulian sesama.

Marah atas rasa ketidak adilan yang mendera.

Marah atas kelaparan yang seharusnya tidak terjadi.

Sebelum kemarahan ini menjadi kolektif dan tidak bisa kita perbaiki lagi, alangkah baiknya kita semua mulai peduli ke sesama.

Saudaraku yang masih ada cash, masih bisa bikin dapur umum, masih bisa ngasih makan gratis, mari jaga perut sesama.

Minimal saudara kita bisa makan.

Minimal saudara kita gak kelaparan.

Minimal saudara kita ngerti kalo mau kenyang harus kemana.

Mari membaca rasa. Rasa yang ada di hati saudara kita.

*) Ditulis oleh : Ustadz Rendy Saputra (Founder Berkah Box)

Tinggalkan Komentar