Content: / /

Menelusuri Jejak Kampung Poligami di Kabupaten Sidoarjo

Peristiwa

21 Februari 2020
Menelusuri Jejak Kampung Poligami di Kabupaten Sidoarjo

Situasi di Gang Masjid Al Huda, yang dahulu bernama Gang Wayo. (Alinea.id/Manda Firmansyah)

Liramedia.co.id, Sidoarjo - Sidoarjo. Di Kabupaten dengan jumlah penduduk kurang lebih 2,8 juta ini memiliki sejumlah cerita menarik yang tak habis dikisahkan. Sebut saja salah satunya ialah kisah Kampung Poligami.

Sebutan Kampung Poligami di salah satu desa di Sidoarjo sejak lama didengungkan oleh masyarakat. Orang menyebut, Kampung Poligami berada di Gang Wayo, di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

Jika hendak ke Gang Gayo, tidak ada papan petunjuk. Tapi jika bertanya, warga sekitar akan menunjuk ke Gang Masjid Al-Huda. Namun, orang-orang mengenalnya sebagai Gang Wayo.

Setidaknya dua tahun belakangan, gang yang dilalui jalan alternatif Pasuruan dan Malang ini menjadi perbincangan lantaran beberapa media menyebutnya sebagai “kampung poligami”.

“Kampung Poligami” yang santer jadi bahan pembicaraan sesungguhnya hanya gang kecil yang dihuni sekitar 15 kepala keluarga, yang tinggal di sekitar 10 rumah.

Cak No, seorang penjual es tebu di seberang gang mengatakan, plang gang tersebut sudah lama diganti. Sebelumnya tertulis Gang Wayo. Menurutnya, nama wayo berasal dari warga sekitar yang gemar berpoligami.

Wayo sendiri diambil dari bahasa Jawa, yaitu wayuh, yang artinya beristri lebih dari satu. Seorang pria paruh baya warga Gang Masjid Al-Huda, yang tak mau disebut namanya mengatakan, pelaku poligami sudah lama beranjak dari sini.

Ia membenarkan, dahulu ada pelaku poligami yang kebetulan berkumpul di lingkungan tempat tinggalnya.

“Yang berpoligami ada yang orang sini, ada juga yang orang luar. Dan kebetulan berkumpul di sini. Tapi sekarang sudah tidak ada, ceritanya sudah habis,” tuturnya.

Menurut dia, para pelaku poligami eksis sekitar tahun 1990-an. Nama Gang Wayo diganti menjadi Gang Masjid Al-Huda seiring dengan kepindahan warga yang berpoligami.

"Sebagian (orang) masih tahu dan sebagian tidak, akhirnya menyimpang (pemberitaannya)," ujarnya.

Sri, seorang warga yang tinggal di ujung Gang Masjid Al-Huda menuturkan, istilah kampung poligami hanyalah rekayasa. Ia menyebut, istilah itu dibuat oleh orang yang ingin mengganggu kampungnya.

"Ini bukan kampung poligami. Begitulah, mereka buat nama sendiri," ujar Sri.

Sri mengungkapkan, nama Gang Wayo yang dahulu terpampang dan dikaitkan dengan gemar berpoligami, sebenarnya hanya bualan ulah dari segelintir orang yang ingin membuat gaduh kampungnya.

Menurut Sri, banyak orang di sekitar Gang Wayo dahulu gemar menggosipkan kampung poligami.

"Saya orang sini, setahu saya tidak ada yang poligami. Memang ada yang nikah dan ada yang tidak," tutur Sri.

Sri mengaku sebagai warga yang paling sepuh di lingkungannya. Ia menerangkan, sematan kampung poligami itu lantas tak sengaja mengundang media massa. Bahkan, Sri membeberkan, ada narasumber palsu yang mengaku korban kekerasan dalam rumah tangga karena praktik poligami di Gang Wayo.

Pengakuan narasumber itu kemudian dikutip banyak media. Ada pula narasumber yang mengaku-ngaku dipoligami dan masuk salah satu stasiun televisi.

Di dalam narasi di stasiun televisi itu disebutkan, di gang ini hampir semua warga memiliki pasangan hidup atau istri lebih dari satu. Bahkan, ada warga yang memiliki istri tujuh orang hingga dikenal sebagai kampung poligami di tahun 1980 hingga 1990-an.

Dikisahkan, narasumber itu menghidupi ketiga anaknya usai suaminya menikah lagi dengan perempuan tetangganya.

Lalu, ia dikabarkan berprofesi sebagai penjual kopi dan mie instan selama sepuluh tahun, tak mau bercerai secara resmi melalui pengadulan agama, dan memilih mengikhlaskan diri meski bergelut dengan trauma.

Sri mengisahkan, tujuan semula menyematkan wayo di gang ini agar anak muda segera menikah. Sebab, kata dia, anak muda di lingkungannya banyak yang menghabiskan waktu mengembara mencari cinta.

"Gara-gara anak mudanya enggak nikah-nikah, geregetan, jadinya dinamakan Gang Wayo. Biar mereka sadar," ujar Sri. (*)

Tinggalkan Komentar