Content: / /

Planet Kakao Hasil Inovasi Dinas Perkebunan Jatim Meraih Penghargaan

Advertorial

16 September 2017
Planet Kakao Hasil Inovasi Dinas Perkebunan Jatim Meraih Penghargaan

Wisata kakao yang dikembangkan Pemkab Trenggalek sebagai wujud pengembangan kakao oleh Dinas Perkebunan Jatim

Liramedia.co.id, SURABAYA - Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK) Puan Maharani dalam acara Pekan Kerja Nyata (PKN) Revolusi Mental di Stadion Manahan, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat, 25 Agustus 2017 lalu.

Penghargaan tersebut diberikan karena tiga program inovasi pelayanan publik yang dikembangkan Pemprov Jatim masuk dalam Top 40 Inovasi Pelayanan Publik, salah satunya ialah Planet Kakao yang merupakan inovasi dari Dinas Perkebunan Jawa Timur. Penghargaan diterima langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

Selain Planet Kakao, inovasi lainnya ialah layanan WARAS (Wisata Arsip Untuk Anak Sekolah) dan MR SAHDU (Manajemen Resiko Sanggahan dan Pengaduan) Pelayanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Ketiganya menjadi bagian dari 40 terbaik dari total 3.054 inovasi pelayanan publik baik dari Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah maupun BUMN/BUMD yang dikompetisikan.

Terkait dengan inovasi Planet Kakao, inovasi yang digagas Dinas Perkebunan Jawa Timur ini kepanjangan dari Pengelolaan dan Edukasi Terpadu Kakao Melalui Kebun Rakyat Demi Indonesia Daulat Cokelat.

Ide tersebut bermula dari terjadinya penurunan produksi kakao perkebunan besar Jatim, dari 32 ribu ton menjadi 15 ribu ton. Untuk mengembalikan produksi kakao yang menurun, maka dilakukan alih teknologi dari perkebunan besar kepada perkebunan rakyat secara terpadu mulai budidaya hingga produk hilir.

Program tersebut dilakukan secara besar-besaran sejak 2011, dimana setiap tahunnya dikembangkan kakao seluas 5.000 hektar. Hasilnya, saat ini produksi kakao sudah melampaui angka 32 ribu ton. Berkat inovasi Planet Kakao, kini perkebunan bisa menghasilkan kakao sebanyak 36 ribu ton. Jumlah ini telah melampaui produksi kakao Jatim sebelum reformasi.

Fokus utama dari Planet Kakao adalah menggerakkan rakyat untuk menggarap kakao yang sebelumnya hanya dimonopoli kebun besar milik negara. Inovasi ini sudah dirintis sejak 2010 lalu. Hasilnya, luas kebun rakyat kini jauh di atas kebun negara. Yakni 41.332 hektar berbanding 14.280 hektar. Begitu juga dalam produksi. Produksi kebun rakyat meroket hingga 20.564 ton sedangkan kebun besar negara hanya 14.856 ton.

Dengan inovasi Planet Kakao, kini bahkan para petani pun menguasasi kemampuan budidaya dan pabrikasi sekelas kebun-kebun besar. Program PLANET Kakao adalah inovasi yang menghasilkan solusi menyeluruh dalam komoditas kakao.

Dengan pembibitan pola mandiri, diperoleh manfaat yang banyak. Antara lain, petani penjadi lebih pintar dalam melakukan pembibitan dan pemelihaan tanaman kakao. Kemudian, petani merasa lebih memiliki sehingga rajin memelihara tanamannya. Yang ketiga, alokasi anggaran APBD untuk bantuan lebih efiisien.

Jika mengandalkan bantuan, harga per bibit mencapai Rp.5.250,- per batang. Namun, jika menggunakan pola mandiri, hanya membutuhkan Rp 2.050,- per batang. Ini membuat pengembangan arael bisa lebih dipercepat.

Program ini sangat inovatif karena mengelola kakao dari hulu ke hilir. Tidak berhenti pada pembangunan tanaman (on farm). Planet Kakao dilengkapi dengan program adopsi pengolahan kakao menjadi produk sekunder yang selama ini dikuasai oleh pabrikan.

SDM petani juga terus berkembang melalui kelembagaan kelompok dan terbukanya pikiran dan terus belajar. Apalagi dengan terbentuknya Kampung Coklat di Blitar. Kini keberadaan Kampung Coklat dan kerjasama dengan para petani bisa menjawab pertanyaan. Bahwa teknologi pabrikan bisa dikuasai oleh petani yang semula sama sekali tidak bisa. Dengan demikian, nilai tambahnya berlipat ganda.

Inovasi PLANET Kakao adalah sebuah terobosan karena melibatkan kelompok petani rakyat. Kreativitas dalam inovasi ini juga bisa dilihat dalam produk akhir, pembangunan wisata agro berbasis cokelat, dan munculnya tokoh-tokoh lokal dari kalangan petani dengan visi yang sama untuk membangun Indonesia daulat coklat dari Jawa Timur.

Salah satu produk inovasi ini juga bisa dilihat dalam produk akhir bisa dilihat di sentra pengolahan kakao yang menjadi berbagai macam produk yang siap dijual. Sebut saja di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar. Dalam hal ini, Dinas Perkebunan Jatim membantu kelompok-kelompok masyarakat menjadi UMKM cokelat agar mampu mengolah dan menjual. Selain di Blitar, juga ada Rumah Coklat di Kabupaten Trenggalek. Dan lagi di sentra pengolahan kakao menjadi produk jadi seperti yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Adi Putri’ di Desa Panjer, Kec. Plosoklaten, Kab. Kediri.

Disana, pengembangan usaha Adpico (Adi Putri Chocolate) dalam memproduksi dan menjual bubuk cokelat murni, bubuk cokelat three in one, permen cokelat rasa mild, mete, dan dark, serta opak gambir rasa cokelat sudah menunjukkan peningkatan usaha. Kelompok itu juga sudah mampu meningkatkan kapasitas produksi dari semula 5-10 kg bubuk menjadi hampir 50 kg bubuk cokelat per bulan.

Capaian ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Jawa Timur melalui Disbun Jatim. Selain fokus menangani produk dengan brand Adpico, sebenarnya KWT Adi Putri masih bisa mengembangkan usaha lewat penjualan lemak dan bubuk kakao mentah. Bahan-bahan itu sangat dibutuhkan pasar untuk campuran kopi, kue, dan lemak (minyak kakao) bisa untuk campuran bahan kosmetik. Diversifikasi usaha untuk menyiasati optimalisasi alat-alat pengolahan biji kakao yang mereka miliki.

Sekadar informasi tambahan, kontribusi Jatim terhadap kakao nasional hanya 5% atau 32 ribu ton dari produksi nasional sebanyak 720 ribu ton, tapi keberadaan kakao di Jatim sebagai komoditi strategis bisa mengangkat martabat masyarakat dengan meningkatkan pendapatan petani perkebunan dan tumbuhnya sentra ekonomi regional.

Komoditi kakao dikembangkan pada Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PTPN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Sentra pertanaman kakao pada Perkebunan Rakyat di Jatim seluas 32.010 ha terbagi atas Kabupaten Madiun 4.784 ha, Pacitan 4.192 ha, Trenggalek 3.975 ha, Blitar 3.537 ha, serta 18 kabupaten lain di Jatim seperti Ponorogo, Malang, dan lain-lain.

Produksi kakao pada Perkebunan Rakyat sebesar 14.730 ton, dengan produktivitas rata-rata 913 kg/ha/tahun biji kering. Kondisi tanaman kakao yang tua/rusak (TT/TR) seluas 913 Ha, tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 14.752 Ha, dan Tanaman menghasilkan (TM) seluas 16.129 Ha. Jumlah petani binaan sebanyak 2.483 petani, jumlah gapoktan 123 gapoktan. (adv/Jun)

Tinggalkan Komentar