Content: / /

Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Jatim Memasuki Purna Bakti

Profil

19 September 2017
Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Jatim Memasuki Purna Bakti

Ir Samsul Arifien, MMA

Liramedia.co.id, SURABAYA – Usai sudah pengabdian Ir Moch Samsul Arifien, MMA, di Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Timur. Banyak perubahan yang dibawa oleh Samsul Arifien selama menjadi Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur sejak tahun 2010.

Pada Agustus 2017, Samsul Arifien sudah tidak lagi menyandang jabatan Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur. Aturan pegawai negeri sipil (PNS) mengharuskan Samsul Arifien pensiun dari jabatan yang disandangnya sejak tahun 2010 silam. Saat ini, usianya memasuki 60 tahun.

Samsul Arifien dilantik menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan Jatim sejak Senin, 9 Agustus 2010 silam. Pelantikan itu berdasarkan keputusan Gubernur Jatim No. 821.2/1309.1310/212/2010 tentang Pengangkatan Dalam Jabatan. Dia dilantik bersama 15 pejabat eselon II lainnya di Gedung Grahadi, Surabaya. Kemudian, pada Desember 2016, jabatannya diperpanjang seiring dengan dilantiknya kembali di tempat yang sama.

Selama menduduki posisi Kepala Dinas Perkebunan Jatim, banyak perubahan dan inovasi yang dilakukan Samsul Arifien. Diantaranya cocoa belt atau sabuk kakao di sepanjang Pantai Selatan Jawa Timur. Tidak hanya itu, Samsul juga gencar agar kakao bisa menghasilkan produk turunan. Contohnya minuman coklat, permen coklat, atau bahan coklat lainnya.

Dia juga melakukan kerjasama dengan petani untuk mengoptimalkan wisata kakao di beberapa daerah, seperti di Blitar yang terkenal Kampung Coklat dan Trenggalek. Dan patut dibanggakan, inovasi Planet Kakao berhasil meraih penghargaan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK), Puan Maharani dalam acara Pekan Kerja Nyata (PKN) Revolusi Mental di Stadion Manahan, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat, 25 Agustus 2017 lalu. Planet Kakao merupakan kepanjangan dari Pengelolaan dan Edukasi Terpadu Kakao Melalui Kebun Rakyat Demi Indonesia Daulat Cokelat.

Di komoditi tembakau, peran Samsul Arifien juga tak bisa diabaikan. Dia mampu menjadikan petani tembakau terbantu, dengan diserapnya semua hasil panennya oleh pabrik rokok.

Sedangkan di komoditi kopi, bantuan bibit dan sertifikasi Indeks Geografis (IG) turut menjadikan kopi dari Jawa Timur dipandang dunia internasiona. Itu berimbas kepada harga kopi yang naik drastic, dari Rp 20.000-Rp22.000 per kg, menjadi Rp 35.000 sampai Rp 45.000 per kg.

Komoditi tebu pun demikian. Samsul membuat terobosan dengan melakukan bongkaratoon di sejumlah wilayah penghasil tebu. Akibatnya, rendemen yang dihasilkan naik, dari skeitar 5%-6% menjadi 8%-9%.

Kebijakan Samsul Arifien yang pro petani juga bisa dilihat dari banyaknya produksi mente di sepanjang pantai Pamekasan-Sampang Madura. Disana, petani diminta oleh Samsul untuk melakukan tumpang sari disamping tanaman jambu mente. Petani cengkeh dan kepala juga tak luput dari binaan Dinas Perkebunan Jawa Timur dibawah kepemimpinan Samsul Arifien.

Di kantornya, Samsul Arifien dikenal sebagai sosok yang cukup disiplin. Pria kelahiran Tulungagung pada 12 Agustus 1957 ini cukup tegas, namun selalu memberi contoh kepada bawahannya.

Ayah dari 3 putra ini juga hobi menulis. Sampai saat ini, beberapa karya tentang komoditi perkebunan telah diterbitkan. Diantaranya buku Ketika Kopi Berbunga, buku Tebuku Maniskan Separuh Nusantara,  Tembakau di Persimpangan Jalan, 35 TH Dinas Perkebunan Jatim Menggapai Mimpi.

Selain menulis buku, Samsul Arifien juga punya bakat di bidang seni. Buktinya, di sela-sela kesibukannya tugas kedinasan, dia menciptakan puisi dan lagu. Salah satu judul lagunya ialah  “Hymne Perkebunan Jawa Timur” dan “Pengabdianku”. Lagu itu berkisah tentang dharma bakti, rasa terima kasih, dan kesadaran diri sebagai bagian dari insan Perkebunan. 

Suatu ketika, Samsul Arifien pernah bilang, bahwa dalam mengemban tugas sebagai abdi negara, dia memegang teguh prinsip dan memadukan Karya, Karsa dan Rasa. “Motto hidup saya seperti air yang mengalir, yang tidak melawan arus, supaya diluruskan, dari sisi ketergantungan nasib, takdir kesemuanya itu dari Allah SWT,” katanya.

Samsul juga berprinsip, semua yang hadir kepadanya merupakan penolong, termasuk pula saat dirinya jadi Kepala Dinas Perkebunan Jatim. “Saya jadi kepala dinas ditolong oleh Bapak Gubenur. Lalu saat saya berkujung ke petani saya juga ditolong. Saya dikasih kopiah dan saat saya berkunjung ke petani lainnya saya dikasih baju koko dan sarung maka lengkaplah saya ditolong oleh petani tersebut”. 

Dalam menjalan tugas dinasnya, tiap hari Samsul sampai di kantornya sebelum jam 07.00 WIB, dan pulang jam 16.30 WIB. Jika ada tugas tertentu, tidak jarang dia harus melebihi jam kerja. Samsul juga bisa membagi antara waktu di kantor dengan keluarga.

“Semua pekerjaan saya selesaikan di kantor dan tidak pernah saya bawa pulang. Pemerintah itu administrasi, jadi kita harus tertib dan disiplin baik di kantor maupun di luar kantor. Hal inilah yang membuat waktu untuk keluarga saya tidak terganggu.” 

 Satu tekad yang tetap dicapai Samsul meski tidak di Dinas Perkebunan Jatim, yakni mensejahterakan petani. Sisa dari Samsul di Dinas Perkebunan ialah Forum Masyarakat Perkebunan (FMP).

Riwayat pendidikan

Samsul Arifien menyelesaikan pendidikan SD sampai SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan) di Tulungagung, lalu menempuh kuliah S1 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang pada tahun 1977 – 1982. Sedangkan gelar Pasca Sarjana diraihnya pada tahun 2001 di UPN “VETERAN” Surabaya.

Sebelum jadi Kepala Dinas Perkebunan Jatim, beberapa jabatan strategis dipangkunya. Dia mengawali karir sebagai Kepala Unit Pelaksana Proyek (Ka UPP) Intensifikasi Tembakau Virginia pada Cabang Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur di Bojonegoro tahun 1983 – 1984. Selanjutnya dipercaya sebagai Kepala Seksi Penyuluhan Cabang Disbunda Proinsip Dati I Jatim tahun 1985 – 1990 di Pamekasan.

Seiring dengan berjalannya waktu, ia ditarik ke propinsi sebagai Kepala Seksi Tanaman Tahunan Dinas Perkebunan Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur tahun 1990 – 1997. Sedangkan pada tahun 1997 – 2001 menjabat Kepala Seksi Sumber Daya Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur.

Posisi selanjutnya sebagai Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur tahun 2001 – 2003. Kemudian sebagai Kepala Balai Benih Tanaman Perkebunan Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur tahun 2003 – 2006.

Sedangkan, tahun 2006 – 2009 menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pengembangan dan Teknik Produksi Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur. Tidak lama kemudian posisinya berubah menjadi Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur tahun 2009 – 2010. Dan, jabatan dan amanah yang diembannya berikutnya diangkat oleh Gubenur Jawa Timur, Soekarwo, sebagai Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur tahun 2010 sebagai Kepala Dinas Perkebunan Jatim dengan pangkat/golongan Pembina Utama Muda – IV/c. (Jun)

Tinggalkan Komentar