Content: / /

Tim Ahli KADIN Jatim Dukung Program OPOP Pemprov Jatim

Bisnis

09 Agustus 2019
Tim Ahli KADIN Jatim Dukung Program OPOP Pemprov Jatim

Jamhadi (kiri) bersama Erlangga Satriagung (Ketua KONI Jatim)

Liramedia.co.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mencanangkan One Pesantren One Product (OPOP) di puncak HUT Koperasi ke-72 di Surabaya, Rabu 7 Agustus 2019. OPOP bertujuan menciptakan Santripreneur di pondok pesantren dan produk unggulan pesantren yang diterima pasar serta pemberdayaan ekonomi pesantren yang inovatif berbasis digital ekonomi.

Terkait dengan hal tersebut, Dr Ir Jamhadi, MBA, sebagai Tim Ahli KADIN Jatim mendukung penuh langkah Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur) menerapkan program One Pesantren One Product (OPOP). Alasannya, setiap kabupaten atau kota di Jawa Timur memiliki potensi hasil alam termasuk pertanian yang berbeda namun menarik, dan potensi tersebut bisa lebih dikenal di kancah global.

Beberapa potensi produk daerah yang disebutkan Jamhadi ialah di Tulungagung potensinya industri barang dari marmer, industri batik, industri makanan dan minuman, industri pakaian jadi dari tekstil, pembenihan ikan hias.

Di Blitar ialah gula kelapa, industri minyak atsiri, mebel, pembenihan ikan hias, rambutan. Di Kediri ialah industri gula merah, industri rokok, mebel kayu, limun. Di Malang ada apukat, apel, ternak sapi perah, gerabah, sayuran, cabe.

Di Jember ialah industri kerajinan pop art, industri pemindangan, industri pengasapan ikan, objek wisata agro. Di Banyuwangi ialah industri kerajinan pop art, industri makanan dan minuman, industri pengolahan dan pengawetan ikan, kopi.

Di Pasuruan ialah padi budidaya rumput laut, bordir, budidaya sapi perah, industri kerajinan perak, mebel. Di Sidoarjo ialah budidaya jaring jala apung, industri alas kaki, industri kerupuk ikan, industri tas kulit, industri tempe.

Di Bojonegoro ialah anyaman bambu, industri makanan jajanan, industri penggergajian dan pengolahan kayu, mebel, tembakau. Di Gresik ialah budidaya ikan bandeng, industri makanan dan minuman, garmen, mangga, wisata budaya.

Sumenep punya potensi sapi potong, industri ukiran kayu, jagung, pisang, tembakau. Di Kediri ialah industri barang perhiasan, industri kerupuk dan sejenisnya, industri roti, kue kering dan sejenisnya, industri tahu, tenun adat.

Dan di Surabaya alat angkut, industri kerajinan pop art, industri makanan dan minuman, garmen dan tekstil, industri pengolahan ikan dan biota laut lainnya.

"Dengan jumlah pesantren sekitar 11.864 lokasi di seluruh Jatim, perlu dibuatkan cluster product per kabupaten kota sesuai potensi di kabupaten kota tersebut. Dibuatkan spek yang sama untuk satu produk," jelas Jamhadi.

Lanjut Jamhadi, bahwa klaster produk yang dikenal dengan komunal branding di setiap kabupaten akan menjadi industri berbasis ekonomi masyarakat yang sustain dan global.

Bahkan, ekonomi pesantren bisa menjadi penggerak ekonomi secara global, karena dengan jumlah umat muslim di dunia sekitar 2 miliar dari sekitar 7 miliar orang di seluruh dunia bisa menghasilkan potensi bisnis syariah sekitar USD 6 miliar.

"Jika bisnis syariah berkembang di Jatim dari potensi pesantren di Jatim tersebut, maka Jatim bisa ambil peran. Anggap sekitar 10% saja itu sudah luar biasa besar," kata Jamhadi, CEO PT Tata Bumi Raya.

Saat ini, dari sisi industri keuangan syariah, Indonesia di urutan ke-10 setelah Malaysia, Bahrain, UAE, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Pakistan, Oman, dan Yordania. Dari halal travel, Indonesia di urutan keempat setelah UAE, Malaysia, dan Turki. Dan dari sisi mode fashion, Indonesia di urutan kedua setelah UAE. (did)

Tinggalkan Komentar