Content: / /

Warga Mojokerto Tolak Rencana Pembangunan Pabrik Pengolahan Limbah B3

Kades

23 Oktober 2017
Warga Mojokerto Tolak Rencana Pembangunan Pabrik Pengolahan Limbah B3

Lokasi ini akan dijadikan pabrik pengolahan limbah B3 oleh Pemprov Jatim

Liramedia.co.id, MOJOKERTO - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berencana membangun pabrik pengolahan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) di Mojokerto. Langkah itu diambil karena kapasitas limbah B3 yang dihasilkan industri di Jatim sudah over kapasitas.

Rencananya, pabrik itu akan dibangun di Mojokerto. Namun, hambatan bakal ditemukan. Sebab, warga setempat menolaknya. Mereka takut fasilitas tersebut akan mencemari lingkungan dan sumber air.

Pabrik pengolahan limbah B3 itu akan dibangun Pemprov Jatim di lahan milik Perhutani seluas 57 hektare. Lokasinya berada di sisi selatan Desa Cendoro, Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Koordinator Forum Masyarakat Desa Cendoro, Siswanto mengatakan, keberadaan pabrik pengolahan limbah B3 dikhawatirkan akan mencemari lahan pertanian dan sumber air tanah yang menjadi penopang hidup warga sekitar.

"Lokasi pabrik pengolahan limbah B3 berbatasan langsung dengan sawah warga, sangat berpotensi mencemari lingkungan dan sawah warga. Kalau sawah warga tercemar, warga mau makan apa karena mayoritas warga sini bertani. Air yang dikonsumsi dan untuk mandi warga dari sumur. Kalau ada pengolahan limbah B3, resapan limbah akan mempengaruhi air sumur warga," kata Siswanto.

Siswanto mengakui Pemprov Jatim baru sekali melakukan sosialisasi kepada warga pada 10 September 2017. Saat itu Pemprov Jatim mengumpulkan 60 orang warga dan 10 orang dari unsur Pemerintah Desa dan BPD Cendoro.

"Saat itu Pemprov Jatim memberikan penjelasan jika pabrik pengolahan limbah B3 sudah melalui kajian, pencegahan (dampak lingkungan) sudah dijelaskan. Namun, kajian tak bisa menjamin 100% aman. Contoh di Lakardowo (Kec. Jetis), PT PRIA sudah ada kajian, kenyataannya saat ini warga banyak yang kena gatal-gatal, kualitas air sangat keruh. Kami belajar dari kasus itu," terangnya.

Siswanto menjelaskan, suara penolakan rencana pembangunan pengolahan limbah B3 berasal dari mayoritas warga Desa Cendoro. Hal itu dibuktikan dengan adanya 1.000 tandatangan yang dibubuhkan warga di spanduk dan kertas.

Spanduk putih berisi tandatangan penolakan warga itu saat ini dipasang di lokasi yang akan ditempati pengolahan limbah B3.

"Pada 25 September kami sudah ajukan surat penolakan dan tanda tangan seribu warga baik ke Pemprov Jatim maupun ke Pemkab Mojokerto, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan," ungkapnya.

Jika Pemprov Jatim tetap melaksanakan pembangunan pengolahan limbah B3, kata Siswanto, warga akan menggelar aksi protes dalam skala besar.

"Kami akan blokade semua wilayah, kami akan turun jalan. Kalau Pemerintah ngotot, warga juga akan ngotot menolak. Kami akan demo ke Pemkab Mojokerto maupun Pemprov Jatim. Kalau mental, kami akan mengadu ke KLHK," tegasnya.

Dikonfirmasi adanya penolakan dari warga, Camat Dawarblandong Budiono memilih akan kembali melakukan pendekatan kepada warga. Bersama Kepala Desa Cendoro, pekan depan pihaknya akan kembali mengumpulkan LPM, BPD dan tokoh masyarakat.

"Juga akan datang dari Pemprov Jatim. Tetap akan kami yakinkan warga kalau proyek itu aman," tandasnya. (dtc)

Tinggalkan Komentar