Content: / /

YKPN dan Dinas Pertanian Jatim Bahas Peluang dan Mekanisasi Pertanian

Bisnis

31 Desember 2019
YKPN dan Dinas Pertanian Jatim Bahas Peluang dan Mekanisasi Pertanian

Pengurus Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara Jatim bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim

Liramedia.co.id, Surabaya – Ketua Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara (YKPN) perwakilan Jawa Timur, Dr Ir Jamhadi, MBA, bersama jajarannya membahas kerjasama peluang dan mekanisasi di bidang pertanian bersama dengan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Hadi Sulistyo. Bahasan tersebut dilaksanakan di kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur pada Senin siang, 30 Desember 2019.

Jamhadi, yang juga CEO PT Tata Bumi Raya ini menyampaikan, banyak peluang di bidang pertanian yang harus dioptimalkan. Untuk itu, YKPN Jawa Timur akan bersinergi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur serta stakeholder lainnya termasuk akademisi untuk memetakan potensi-potensi komoditi pertanian yang ada.

Contohnya dengan membuat necara komoditi. Dengan neraca komoditi, akan dipetakan antara kebutuhan konsumsi, kebutuhan industri, dan jumlah produksinya. Dengan neraca komoditi, petani akan melakukan budidaya atau menanam, sehingga impor bahan pangan bisa dihindari. Sebaliknya, Jawa Timur bisa menjadi eksportir bahan pangan.

Akan tetapi, Jamhadi menilai, melakukan budidaya masih dianggap mahal daripada impor. Karena itu, Jamhadi mengatakan pertanian harus dilakukan mekanisasi dan melibatkan akademisi untuk melakukan penelitian guna mendapatkan bibit unggul, yang awalnya produktvitas 6 ton per hektar menjadi 12 ton per hektar.

“Selain itu, millenial juga harus bertani, karena ada asuransi pertanian apabila gagal panen. Dengan teknologi yang dikuasasi milenial, akan meningkatkan SDM untuk memajukan sektor pertanian,” ujar Jamhadi, yang jadi Ketua Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya.

Terkait peluang, Jamhadi menyebutkan, ada beberapa peluang investasi yang bisa dimanfaatkan oleh investor. Beberapa diantaranya ialah pengembangan pupuk organik, pengembangan benih hibrida, revitalisasi alat pertanian, seperti pompa air, pengolah tanah, alat tanam hingga prosessing.

Peluang lainnya ialah pelatihan dan magang, revitalisasi unit penggilingan dan pemasaran produk, industri bahan pembuatan kompos, bahan bakar, pakan ternak/silase, media jamur, papan partikel. Juga pengembangan industry pengolahan berbahan baku tepung dan pati, industri pangan serat, pakan, minyak. Peluang lainnya ialah pengembangan industri pengolahan berbahan baku tepung dan pati.

“Sektor pertanian menjadi peluang investasi yang menguntungkan. Modelnya bisa dengan membangun industri menengah berbasis kemitraan, membangun industri perbenihan padi hibrida berbasis kemitraan/koperasi, membangun industry alsintan, membangun industri menengah berbasis kemitaran serta mendorong ekspor,” kata Jamhadi, yang pernah menjadi Ketua KADIN Surabaya 2 periode ini.

Jamhadi bersyukur, Jawa Timur masih surplus untuk beberapa komoditi. Seperti jagung, gabah, kedelai, dan peluang untuk pengembangan komoditi bawang putih.

Untuk padi, Jawa Timur pada tahun 2019 ini diperkirakan surplus 3.454.856 ton. Rinciannya, produksi padi 11.933.069 ton gabah kering giling (GKG) dari luasan panen 2.079.758 hektar. Sementara produksi beras sebanyak 7.756.495 ton, dan kebutuhan konsumsi sebanyak 4.301.639 ton.

“Sedangkan untuk hilirisasi ada peluang pengadaan drier sekitar 1.600 unit kerjasama dengan Gapoktan. Juga pengembangan jagung Caritas di Madura. Maka itu, harus tanam di lahan yang cocok karena sudah ada penelitian yang mendukung,” lanjut Jamhadi, yang jadi pernah jadi Staf Ahli Gubernur Jawa Timur di era Soekarwo.

Untuk terus mendukung pengembangan pertanian di Jawa Timur, Jamhadi mengatakan dalam waktu dekat ini, YKPN Jawa Timur akan melakukan Memorandu of Understanding (MoU) dengan PATHUMThANI University di Thailand.

“MoU itu untuk sinergi dalam rangka meningkatkan produktivitas budidaya komoditi pertanian di Jawa Timur serta hilirisasi industry sektor agrobis dengan low cost,” kata Jamhadi. (did)

 

Tinggalkan Komentar