Digugat Perdata, BTN Sidoarjo Mangkir, Muncul Fee Mediator Rp 20 Juta

Digugat Perdata, BTN Sidoarjo Mangkir, Muncul Fee Mediator Rp 20 Juta

Arnold Jan Mirhard (kiri) di sidang gugatan perdata yang diajukannya.

Liramedia.co.id, SIDOARJO – Ferry Wasis Gada Yakti sangat menyayangkan ketidakhadiran pihak Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Sidoarjo pada sidang gugatan yang diajukan Arnold Jan Mirhard. Ferry Wasis Gada Yakti selaku debitur BTN Sidoarjo menyatakan, kehadiran pihak BTN Sidoarjo sangat penting karena bisa menguak ketidakberesan proses cassie yang dialaminya.

Sidang yang digelar pada Selasa, 10 November 2020 ini hanya dihadiri oleh Arnold Jan Mirhard selaku Penggugat dan Ferry Wasis Gada Yakti selaku Tergugat I. Sidang ini digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jl. Jaksa Agung Suprapto Raya Suprapto No.10, Sidoarjo.

Menurut Ferry, proses cassie yang dilakukan oleh BTN Cabang Sidoarjo diduga tida procedural atau cacat administrasi. Dijelaskannya secara kronologi, dirinya merupakan debitur BTN Cabang Sidoarjo, yang mengajukan pinjaman senilai Rp 85 juta. Pengajuan pinjaman itu disetujui pada 25 Juli 2008 dengan masa tenor 180 bulan (15 tahun) dengan angsuran per bulan Rp 998.700.

Selama kurang lebih 10 tahun, terhitung sejak Juli 2008 sampai Desember 2018, dia sudah melakukan pembayaran angsuran Rp 119.844.000 (998.700 x 120 bulan/10 tahun). Namun ditengah proses itu, usaha Ferry sedang goyah, dan mengalami bangkrut.

Karena itu, dia mendatangi kantor BTN Cabang Sidoarjo untuk menjelaskan perihal kondisi usahanya. Lalu, Ferry mengajukan keringanan ke BTN Cabang Sidoarjo. Meski demikian, Ferry tidak lepas dari tanggungjawabnya untuk mengangsur pinjaman ke BTN.

Pada Januari 2019, Ferry membayar angsuran Rp 1.165.000. Kemudian tanggal 12 Februari, membayar lagi angsuran sebesar Rp 2.800.000. Setelah itu, Ferry kembali mendatangi kantor Cabang BTN Sidoarjo untuk mengajukan keringanan, dan berusaha melunasi angsurannya dengan cara menjual rumahnya. Lalu Ferry meminta print out sisa bayar ke BTN Sidoarjo, dan saat itu sisa bayar sejumlah Rp 44.025.926 per tanggal 12 Februari 2019.  

Kemudian, pada Maret 2019, Ferry datang lagi ke Kacab BTN Sidoarjo untuk memberitahun progress penjualan rumahnya supaya bisa melunasi angsurannya ke BTN. Dia juga mengajukan keringanan. Sebulan berikutnya pada Mei 2019, Ferry kembali mendatangi kantor BTN Sidoarjo untuk meminta waktu membayar angsuran atau melunasinya. Lalu Ferry menyerahkan nomor Handphone istrinya ke karyawan BTN Sidoarjo, yang saat itu diterima Angga. Ferry berharap, jika ada informasi apapun dari BTN agar menghubungi nomor tersebut.

Pada Juni 2019, Ferry kembali membayar angsuran Rp 2.200.000. Lalu, pada Agustus 2019, dia kembali membayar angsuran lagi ke BTN sebesar Rp 1.110.000. Pada September 2019, Ferry kembali datang ke BTN Sidoarjo untuk menanyakan pelunasan, namun betapa kagetnya saat tahu dari BTN Sidoarjo jika angsurannya itu sudah dialihkan ke oranglain atau cassie.

Kata Ferry, alasan BTN, dia susah dihubungi dan tidak ada pembayaran. Begitu juga dengan surat peringatan yang dikirim ke rumahnya tidak sampai karena rumah kosong. Padahal menurut Ferry, nomor yang dihubungi oleh BTN Sidoarjo bukanlah nomornya atau nomor istrinya, melainkan nomor broker/perantara rumah yang ingin dijualnya. Begitu juga surat peringatan yang dikirimkan, karena menurut Ferry di rumah tak pernah kosong dan selalu ada orang.   

Setelah itu, Ferry datang ke BTN Sidoarjo pada 14 September 2019 untuk mendapatkan solusi terkait pengalihan itu. Pihak BTN memberikan informasi bahwa yang meng-cassie ialah Arnold Jan Mirhard, kantornya beralamat di kawsan Perum Griya Permata Hijau, Kabupaten Sidoarjo.

Setelah mendapatkan informasi yang meng-cassie ialah Arnold, Ferry mendatangi rumahnya seperti yang diinformasikan pegawai BTN Sidoarjo. Namun, kantor tersebut kosong. Saat dihubungi melalui nomor ponselnya, Arnold tak pernah merespons. Baru dihubungi lagi, Arnold menyerahkan perkara ini ke Aditya selaku Kuasa Hukumnya.

Setelah bertemu dengan Aditya, Ferry diminta untuk  membuat surat permohonan kesanggupan pelunasan hutang. Menurut Ferry, surat permohonan itu dibuat tertanggal 15 Oktober 2020. Setelah surat permohonan dibuat dan disampaikan ke Arnold, namun Arnold tidak ada respon lagi. Setelah itu pada 22 Oktober 2020, Ferry mendapat surat dari Pengadilan Negeri Sidoarjo yang isinya digugat.

Yang membuat aneh, Ferry menyebutkan, salah satu dasar gugatan itu ialah Tergugat telah mengeluarkan dana untuk penebusan dan pengurusan proses cassie sebesar Rp 122.638.910. Rinciannya, dana penebusan piutang di BTN sebesar Rp 44.638.910, fee mediasi (Rp 20 juta), biaya appraisal (Rp 5 juta), biaya akta notaris (Rp 7 juta), fee mediator investor (Rp 20 juta), surveyor lapangan (Rp 1 juta), dan fee legal gugatan wanprestasi (Rp 25 juta).

Dalam sidang kedua di Pengadilan Negeri Sidoarjo pada Selasa, 10 November 2020, pihak BTN Cabang Sidoarjo mangkir. Hakim dalam persidangan itu mengatakan, pihak BTN Sidoarjo sudah dipanggil juru sita sebanyak 2 kali, namun tak pernah hadir alias mangkir.

Dalam sidang itu, Hakim memerintahkan agar dilakukan mediasi. Diharapkan, dari mediasi itu terdapat titik temu demi kepentingan seluruh pihak. Sedangkan Penggugat, Arnold Jan Mirhard yang didampingi Aditya menyerahkan proses mediasi dan menggunakan mediator dari Pengadilan Negeri Sidoarjo.

“Kami akan menunggu dari mediator untuk jalannya mediasi, apakah diteruskam atau dimediasi,” kata hakim.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Cabang BTN Sidoarjo hingga berita ini ditayangkan masih bungkam. Begitu juga saat Liramedia.co.id melakukan konfirmasi secara resmi yang diterima Galih pada 14 November 2020, juga belum ada jawaban. (Did)

Image
Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius mengumumkan peluncuran “Zenius untuk Guru” (ZuG), sebuah Sistem Manajemen Pembelajaran gratis yang dibuat oleh guru, untuk guru