Dipecat Gara-Gara Tiktok

Dipecat Gara-Gara Tiktok

Tone

Tone, pemilik akun TikTok @tonesterpaints ini menceritakan pengalaman menyedihkannya, dipecat dari pekerjaannya gara-gara TikTok.

Awalnya Tone ini memiliki pekerjaan sebagai paint mixer atau tukang nyampur cat. Dan ia sangat mencintai pekerjaannya ini.

Menurutnya pekerjaan mencampur cat adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Saking senengnya dia sama pekerjaannya ia pun membagikan serunya aktivitas mencampur cat di konten TikTok.

Tipe konten si Tone ini adalah tipe satisfying video.

Proses pencampuran cat ini ternyata memang sangat digemari orang. Viewers videonya sekaligus followernya bertumbuh secara signifikan.

Singkat kata, si Tone ini ingin menunjukkan betapa powerfulnya TikTok untuk marketing perusahaan cat dimana ia bekerja. Ia pun meminta waktu untuk presentasi ke bagian marketing perusahaan.

Dijelaskan dengan sangat detail bagaimana TikTok bisa berguna untuk marketing produk cat bisnis ini. VP marketing menolaknya mentah-mentah. Menurutnya bisnisnya sama sekali tidak cocok dengan konsep marketing yang dishare sama si Tone ini.

Tone tetep membuat konten-konten video TikToknya. Bahkan ia makin asyik menuruti request follower-followernya dengan membuat campuran-campuran unik dan aneh di cat itu. Termasuk mencampurkan blueberry pada kaleng cat tersebut. Dan perusahaannya tidak suka dengan apa yang dilakukan Tone ini.

Sampai akhirnya ia dipecat. Karena dikhawatirkan konten-kontennya bisa menurunkan brand image dari produk tersebut.

Singkat kata, setelah dipecat Tone ini makin berkibar sebagai salah satu TikTok influencer global dengan genre "satisfying video" tukang nyampur cat.

Apa yang di alami si Tone ini mungkin sedikit mirip dengan apa yang saya alami. Berkali-kali ketika diundang sebagai pembicara baik untuk kalangan UKM maupun korporasi dan instansi, saya merasakan penolakan yang sama.

Gak mungkin lah Mas kita menggunakan TikTok, kita kan harus mempertahankan image brand kita. Bisa-bisa hancur brand kita kalau "main" TikTok.

Pertama, mindset "main" ini yang harus diluruskan. TikTok dianggap cuma main-main. Sama sekali tidak ada keseriusan disana. Dipikir cuma joget-joget, ngereceh, tidak ada dampaknya pada bisnis. Bisnis kan serius.

Jika Anda pebisnis beneran, pasti Anda selalu berorientasi pada profit kan, gimana menumbuhkan aset baik tangible maupun intangible.

Singkatnya mana yang efektif dan efisien mengantarkan Anda kesitu ya itu yang harus diseriusi. Termasuk mengeksplorasi channel marketing baru yang berpotensi memberikan ROI paling tinggi.

Bagi saya yang tiap hari bergelut dengan data, biasa membaca bagaimana perilaku pelanggan dalam menggunakan berbagai platform social media, menebak TikTok sebagai the new rising star itu gampang banget.

Yang susah itu meyakinkan orang kalau TikTok bakal besar dan poweful buat bisnis. Tipikal orang Indonesia kan tidak mempercayai trend, proyeksi. Tapi harus melihat siapa yg sukses dulu.

Padahal kalau sudah ada yg sukses, besar kemungkinan ia jadi terlambat masuk. Tepatnya di kuartal akhir 2019, dimana statistik aplikasi ini sangat mencengangkan.

Harvard Businees Review (HBR) pun sampai bikin artikel khusus yang spesial bahas TikTok. Siapa yang meragukan reputasi HBR.

Pas awal 2020 sebelum pandemi, ketika selebriti tanah air pada berbondong-bondong masuk TikTok, pebisnis masih ragu untuk masuk kesini. Mungkin karena masih beranggapan kalau image brand nya terlalu sultan. Padahal brand core of the core nya sultan, seperti Apple atau Tesla sudah TikTokan loh.

Kedua, banyak yang beranggapan TikTok itu sarangnya maksiat. Lebih banyak mudharatnya ketimbang positifnya.

TikTok itu algoritma AI nya lebih dominan ketimbang platform social media tipikal, macam Facebook, YouTube atau Instagram.

Artinya ia lebih gampang baca interest atau ketertarikan kita, kemudian menyodori kita konten-konten yang kita tertarik saja. Bahkan di awal kita sudah ditanya interest kita apa. Kecuali kalau kita gak jawab. Maka TikTok akan menebak selera kita berdasar video random yang ia kirimkan ke laman kita.

Singkatnya konten model apapun yang kita cari ada disitu. Mulai receh sampai yang berbobot. Yang unfaedah sampai faedah.

Algoritama Artificial Intelligence nya TikTok akan mengaturnya tergantung seperti apa yang biasa kita buka. Mereka bisa melihat dengan mudah kita engaged dengan konten seperti apa.

Nah terus gimana cara kita menyikapi trend seperti TikTok ini? Jangan nunggu bukti. Nunggu orang yang sukses dulu.

Kalau mindset kita seperti ini, gak mungkin kita menjadi leader, ujungnya pasti ya ngekor aja.

Terus?? Pakai prinsipnya W. Edwards Deming “In God we trust. All others must bring data.” Gitu katanya.

Kita percaya sama Tuhan aja, selain itu semua harus bawa data. Artinya kalau ada data bisa kita pertimbangkan.

Dari data kita bisa menentukan arah, membuat proyeksi, membaca trend, yang semuanya akan kita jadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Termasuk menseriusi TikTok buat bisnis Anda.

Kebetulan TikTok ini lagi bagus-bagusnya ROI nya. So jangan ragu lagi.

Ingat "menseriusi" ya. Bukan "main" TikTok.

Penulis : Saiful Islam (Inbound Marketing Coach)

Image
Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius mengumumkan peluncuran “Zenius untuk Guru” (ZuG), sebuah Sistem Manajemen Pembelajaran gratis yang dibuat oleh guru, untuk guru