Karena Tak Punya Ponsel, Siswa SMP Dapat Nilai Nol

Karena Tak Punya Ponsel, Siswa SMP Dapat Nilai Nol

Aditya saat di rumahnya

Liramedia.co.id, JAKARTA – Sungguh miris yang dialami Aditya. Salah satu siswa SMP di Jakarta Barat ini mendapat nilai nol lantaran tidak bisa mengikuti pelajaran jarak jauh via online.

Aditya mengaku nilainya selama satu semester kosong lantaran dirinya tak bisa mengikuti pembelajaran daring disebabkan tak memiliki ponsel pintar.

Bukan tanpa alasan Aditya tak bisa membeli gawai sebagai penunjang belajar online. Ayahnya yang seorang montir, kini kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Sedangkan kakaknya bernama Rivai hanya lulusan SD dan masih menganggur.

Sang kakak, Rivai menuturkan, pihak sekolah mengetahui kendala yang dialami adiknya. Bahkan pihak sekolah sempat mengunjungi Aditya.

Adiknya diberikan kesempatan melakukan ulangan susulan. Meskipun, tetap diminta agar pihak orang tua bisa mengusahkan kebutuhan belajar di tengah pandemi Covid-19 ini.

"Mereka katanya hanya bisa membantu untuk memberi kesempatan ulangan susulan kepada adik saya. Tapi mereka juga harap orang tua dapat memenuhi kebutuhan Adit," kata Rivai, Senin (26/10/2020).

Menanggapi itu, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Evy Mulyani mengatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bukan hanya dilakukan secara daring menggunakan telepon pintar maupun laptop. Tapi terdapat sejumlah alternatif lain agar siswa bisa tetap menjalankan PJJ di tengah masa pandemi Covid-19.

"Berbagai alternatif PJJ telah diterapkan sehingga tidak hanya melalui daring yang memerlukan gawai dan akses internet tetapi juga Belajar Dari Rumah di TVRI, radio edukasi Kemendikbud," ujar Evy saat dikonfirmasi Liputan6.com pada Senin malam (26/10/2020).

Evy menjelaskan, pihaknya juga menyediakan beragam modul pembelajaran yang mana itu bisa diunduh oleh berbagai pihak yang berkepentingan, termasuk orang tua siswa.

"Kemendikbud juga telah menyediakan berbagai modul sederhana bagi guru, orang tua, dan siswa  sehingga dapat dipergunakan atau dipelajari mandiri dengan kolaborasi guru dan orang tua," jelasnya.

Evy mengatakan, PPJ semestinya tidak menjadi beban bagi peserta didik. Dia menerangkan bahwa model pembelajaran serta penugasan tak melulu mesti mengandalkan daring.

"Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa dengan memperhatikan kondisi psikologis siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah," terang Evy.

Evy berharap, supaya semua pihak dapat bahu membahu menegakkan pemenuhan hak anak dalam pendidikan selama pandemi ini tanpa membebani para siswa.

"Semua pihak termasuk seluruh kepala daerah, kepala satuan pendidikan, orang tua, guru, dan masyarakat tentunya harus bergotong-royong mempersiapkan pembelajaran di masa pandemi ini. Dengan semangat gotong-royong di semua lini, kita pasti mampu melewati semua tantangan ini," tandasnya. (*)

Source : liputan6

Image
Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius Meluncurkan 'Zenius untuk Guru'

Zenius mengumumkan peluncuran “Zenius untuk Guru” (ZuG), sebuah Sistem Manajemen Pembelajaran gratis yang dibuat oleh guru, untuk guru