Meraup Omset Ratusan Juta Rupiah dari Memanfaatkan Peluang Jahe untuk Ekspor, Seduluran RENG TANI

Meraup Omset Ratusan Juta Rupiah dari Memanfaatkan Peluang Jahe untuk Ekspor,  Seduluran RENG TANI

Surabaya,  [liramedia.co.id] - Pernah dapat info terkait Aris Wahyudianto, pemuda asal Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Aris bukanlah artis terkenal, bukan selegram, atau bukan politisi dan pejabat.

Dia hanya seorang petani muda, yang memanfaatkan secercah harapannya di sektor pertanian. Komoditi yang dibudidayakannya ialah komoditas rempang jenis jahe. Pekarangan yang tidak begitu luas dimanfaatkan untuk menanam jahe.

Media tanamnya juga bukan barang mahal, hanya pot dan karung bekas, yang ditaruh di samping rumahnya. Aris bukanlah pengusaha dengan modal seabrek. Aris hanya punya tetangga, sahabat, dan kerabat. Itulah modal bagi Aris untuk mengoptimalkan ikhtiarnya menggeluti sektor pertanian.

Selain membudidayakan jahe di lahannya sendiri dengan total 2.000 tanaman jahe merah, Aris mengajak tetangga, sahabat, dan kerabatnya untuk ikut serta menanam jahe melalui media pot.

Tak lupa, edukasi cara budidaya tanaman jahe dibekali ke para tetangga, sahabat, dan kerabatnya. Tidak rumit. Kata Aris, agar tanaman jahe tumbuh sehat, tanaman tersebut selalu disiram tiga hari sekali dan diberi pupuk organik, lalu disemprot daunnya dengan menggunakan campuran air kencing kambing dan air kelapa. Setelah masa panen, Aris mengumpulkan jahe-jahe yang ditanam oleh tetangga, sahabat, dan kerabatnya.

Dari sinilah senyum merekah datang karena cuan yang didapat Aris tidak sedikit, tentu dengan pembagian pendapatan kepada tetangga, sahabat, dan kerabatnya yang turut serta menanam jahe. Untuk setiap satu pohon mampu menghasilkan 3 sampai 5 kilogram jahe merah atau mampu menghasilkan 6 sampai 10 ton jahe pada sekali panen yang mencapai usia 10 bulan hingga 1 tahun.

Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah hingga miliaran rupiah dengan harga jahe antara Rp 40.000 sampai Rp 60.000 per kg. Jangan khawatir jahe tidak terserap pasar, karena hingga kini, Aris kewalahan memenuhi permintaan dari pabrik jamu untuk diproduksi menjadi obat-obatan herbal karena selama ini banyak pabrik jamu bahan bakunya dipenuhi dari impor untuk mencukupi kapasitas terpasang produksinya. Belum lagi permintaan pasar ekspor yang begitu banyak.

Apalagi, sejak adanya pandemi covid-19 seperti sekarang ini, pemesanan jahe pun terus meningkat, bahkan hampir tidak bisa tercukupi. Di pasar ekspor, permintaan jahe datang dari negara-negara di Asia, Eropa dan Amerika, diantaranya.Singapura, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Pakistan, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan Perancis. Di sejumlah negara Eropa, jahe gajah untuk kebutuhan industri minuman seperti bir, produsen kue, dan bumbu masak membutuhkan rimpang jahe untuk bahan campuran.

Tahun 2018 lalu, dari catatan Badan Pusat Statistik, ekspor tertinggi tanaman biofarmaka di Indonesia ialah Jahe. Volume ekspor jahe sebesar 23.551,9 ton senilai 13,53 juta dollar AS. Untuk produksinya sebesar 216.587 ton.

  Seperti apa spek jahe yang diterima pasar ekspor? Rimpang jahe gajah harus utuh/ tidak patah-patah, luka, busuk dan bersih. Kemudian ukuran dari rimpang tersebut rimpang utuh minimal sesuai dengan standar jenis rimpang dan kadar air berkisar antara 12- 14 % untuk rimpang kering. Negara eksportir mempunyai karakteristik yang berbeda.

Pangsa pasar di Asia diantaranya Cina mempunyai kebutuhan jahe yang cita rasa pedas, yaitu jahe merah.  Di Eropa dan Amerika Serikat lebih menginginkan jenis rimpang jahe gajah karena jahe gajah cita rasanya tidak terlalu pedas. Untuk spesifikasi ekspor rimpang jahe ke negara Asia lebih mudah karena terkait dengan ukuran di bawah standar ukuran ekspor ke negara-negara Amerika atau Eropa, dapat diekspor dengan kondisi rimpang jahe  yang utuh, tidak patah, bersih, dan tidak luka atau busuk. (Red).

Image
IDI Papua Berharap Jaminan Keamanan Pada Tenaga Kesehatan

IDI Papua Berharap Jaminan Keamanan Pada Tenaga Kesehatan

Terkait situasi penyerangan, pembakaran, dan penembakan terhadap tenaga kesehatan di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang,