Selain Investasi di Sektor G to G, Jamhadi Ajak Pengusaha Maroko Kembangkan Investasi B2B

Selain Investasi di Sektor G to G, Jamhadi Ajak Pengusaha Maroko Kembangkan Investasi B2B

Jamhadi, Jamal Ghozi, dan Khofifah Indar Parawansa

Surabaya, liramedia.co.id. - Pertemuan antara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa beserta jajarannya dengan Konsulat Kehormatan Maroko, Jamal Ghozi dan pengusaha asal Jawa Timur Jamhadi yang juga Ketua APVOKASI Jatim, dan Jepang Wahyu Setiawan (pengusaha), membahas tentang rencana Maroko berinvestasi di Jawa Timur. Nilainya cukup fantastis, yakni mencapai Rp 9,1 triliun.

Investasi tersebut akan dialokasikan ke sejumlah proyek-proyek strategis nasional yang ada di Jawa Timur. Seperti proyek pengembangan pelabuhan di Probolinggo, yang ditaksir butuh investasi awal Rp 2,1 triliun.

Kemudian pengembangan destinasi wisata berbasis budaya yang diarahkan bisa masuk ke geopark di Kabupaten Ponorogo. Namun kesepakatan investasi belum ke Perjanjian Kerjasama (PKS).

“Ini masih di posisi awal. Prioritasnya yang mana nilainya berapa itu bisa diketahui setelah Perjanjian Kerja Sama (PKS),” kata Khofifah.

Menurut rencana, sejumlah proyek investasi itu akan dikerjakan oleh BUMD di bawah Pemprov Jatim. Misalnya PT Jatim Grha Utama (JGU) yang akan mendapat alokasi proyek pengembangan Pasar Induk Puspa Agro. Nilainya Rp1,7 triliun.

Lalu Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) untuk pengembangan JIPPE senilai Rp 347 miliar, PT Waskita Bumi pembangunan tol Krian Legundi senilai Rp2,4 triliun, PT Trans Jawa untuk proyek pembangunan tol Pasuruan Probolinggo senilai Rp1,5 triliun, dan pengembangan PT Kasa Husada senilai Rp 300 miliar.

Jamhadi yang turut serta dalam kesempatan tersebut mengajak pengusaha Maroko, selain investasi di sektor pemerintah (G to G/government to government), juga mengembangkan investasi di sektor swasta (B2B/business to business).

Dijelaskan Jamhadi yang pernah menjabat sebagai East Java Global Economic Service, Jawa Timur sangat tepat dijadikan sebagai tempat berinvestasi bagi pengusaha Maroko di segala bidang. Tercatat, Jatim mengalami pertumbuhan nilai investasi secara year on year tertinggi pada tahun 2020, yakni 33,8%. Disusul Banten yang tumbuh 27,3%. Sedangkan Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah mengalami penurunan.

Pertumbuhan ini didorong oleh penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 22,6 triliun maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 55,7 trililun. Berdasar data BKPM RI, Jatim menduduki peringkat ketiga dengan nilai realisasi investasi sebesar Rp 78,3 triliun, setelah Jawa Barat (Rp 120,4 triliun) dan DKI Jakarta (Rp 95 triliun). Di posisi keempat ada Banten (Rp 62 triliun), disusul Jateng di peringkat lima (Rp 50,2 triliun).

"Melalui capaian investasi itu, Jatim sebagai provinsi yang sangat layak dan aman untuk berinvestasi. Jatim siap menampung investor dari Maroko," ujar Jamhadi, yang juga Ketua Aliansi Pendidikan Vokasional Seluruh Indonesia (APVOKASI) Jawa Timur. 

Reporter. Junaedi.

Image