WhatsApp tengah menghadapi tekanan besar setelah digugat atas dugaan celah keamanan enkripsi, mendapat kritik tajam dari tokoh teknologi global, hingga ancaman pemblokiran total oleh pemerintah Rusia. Rangkaian polemik ini mencuat sejak awal tahun 2026 dan berdampak pada jutaan pengguna di berbagai negara.
Gugatan Hukum Terkait Keamanan Enkripsi
Meta digugat oleh sekelompok pengguna dari Australia, Brasil, India, Meksiko, dan Afrika Selatan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat, San Francisco, pada Jumat (23/1/2026). Penggugat menuding sistem end-to-end encryption WhatsApp tidak sesuai kenyataan karena diduga dapat diakses oleh tim internal perusahaan.
Dokumen gugatan menyebutkan bahwa karyawan Meta hanya perlu mengirimkan permintaan melalui sistem internal untuk mendapatkan akses ke pesan pengguna. Setelah disetujui oleh tim engineering, sebuah jendela baru akan muncul di komputer staf yang menampilkan pesan berdasarkan nomor User ID unik pengguna.
Penggugat juga mengeklaim bahwa akses tersebut memungkinkan staf melihat riwayat percakapan sejak awal penggunaan, termasuk pesan yang telah dihapus. Selain itu, perusahaan dituduh memberikan ancaman berat kepada karyawan yang berupaya mengungkap aktivitas internal tersebut ke publik.
Bantahan Resmi dari Pihak Meta
Juru bicara WhatsApp, Andy Stone, membantah keras seluruh tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim yang tidak masuk akal. Ia menegaskan bahwa WhatsApp telah menggunakan protokol Signal untuk enkripsi selama satu dekade terakhir.
Head of WhatsApp, Will Cathcart, turut memberikan klarifikasi bahwa kunci enkripsi disimpan secara lokal di ponsel pengguna sehingga perusahaan tidak memiliki akses untuk membukanya. Cathcart menilai gugatan ini tidak memiliki dasar kuat dan hanya mencari perhatian media.
“Ini diajukan oleh perusahaan yang sama yang pernah membela NSO, setelah spyware mereka digunakan untuk menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah,” ujar Cathcart merujuk pada firma hukum penggugat dan keterkaitannya dengan kasus Pegasus pada 2019.
Kritik dari Elon Musk dan Pavel Durov
Isu keamanan ini memicu reaksi dari pemilik platform X, Elon Musk, dan CEO Telegram, Pavel Durov. Melalui unggahan di media sosial, Musk menyatakan bahwa WhatsApp tidak aman dan menyarankan pengguna untuk beralih ke fitur X Chat.
Pavel Durov mendukung pernyataan tersebut dengan menyebut sangat tidak masuk akal mempercayai keamanan WhatsApp pada tahun 2026. Durov mengeklaim telah menemukan sejumlah celah serangan saat menganalisis implementasi enkripsi pada aplikasi milik Meta tersebut.
Pemblokiran Total di Rusia
Di saat yang sama, pemerintah Rusia mulai membatasi akses WhatsApp untuk mendorong warga beralih ke aplikasi domestik bernama Max. Aplikasi Max dirancang sebagai super-app yang wajib terpasang di perangkat baru serta digunakan oleh pegawai pemerintah dan sektor pendidikan sejak 2025.
Badan pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor, menuduh WhatsApp digunakan untuk mengorganisasi aksi teror, penipuan, dan perekrutan pelaku kejahatan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa pemulihan akses hanya akan dilakukan jika Meta mematuhi regulasi lokal Rusia.
Pihak WhatsApp mengonfirmasi upaya pemblokiran ini melalui unggahan resmi di X dan menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah mundur yang mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi privat yang aman. Perusahaan menegaskan akan terus berupaya menjaga konektivitas bagi para penggunanya di Rusia.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Meta dan otoritas komunikasi Rusia yang dirilis pada Februari 2026.
