Harga emas dunia diproyeksikan kembali mencetak rekor baru di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat. Analis komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa jika eskalasi konflik terus berlanjut, harga logam mulia tersebut berpeluang menembus level psikologis 6.000 dollar AS per troy ounce dalam waktu dekat.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama lonjakan harga emas. Dalam situasi perang dan ketidakpastian global, investor cenderung memburu aset safe haven untuk melindungi nilai kekayaan mereka.
Proyeksi Harga Emas Dunia
“Ada indikasi, jika perang masih terus berkecamuk, kemungkinan besar level 6.000 Dollar AS per troy ounce akan tercapai di bulan Maret ini,” ujar Ibrahim Assuaibi melalui keterangan pers pada Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menambahkan, jika konflik tidak mereda, pekan depan harga emas dunia bisa bergerak di rentang 5.365-5.500 dollar AS per troy ounce. Bahkan, Ibrahim memperkirakan penutupan mingguan berpeluang berada di level 5.500 dollar AS.
“Dalam satu minggu sampai hari Sabtu pagi, kemungkinan besar harga emas dunia ditutup di level 5.500 dollar AS per troy ounce, kemudian harga logam mulia di Rp3.400.000 per gram,” paparnya.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga emas dunia di pasar spot bergerak dari 5.182 dollar AS per troy ons dan naik 1,80 persen ke posisi 5.278-5.280 dollar AS per troy ons, menjadi level tertinggi dalam sepekan terakhir. Secara mingguan, kenaikan harga emas mencapai 3,12 persen. Harga emas global sejak Jumat, 27 Februari 2026, berada di 5.277,29 dollar AS per troy ons, naik 1,74 persen dari perdagangan sebelumnya.
Dampak pada Pasar Domestik
Kenaikan harga emas global dipastikan berdampak langsung pada pasar domestik. Ibrahim memperkirakan harga emas dalam negeri bisa menembus Rp 3,5 juta per gram.
Di dalam negeri, harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ikut naik. Berdasarkan data resmi Logam Mulia pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga emas Antam ukuran 1 gram menjadi Rp 3.085.000, meningkat Rp 40.000 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 3.045.000 per gram.
Ancaman Resesi Global dan Pasokan Energi
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Konflik yang melibatkan salah satu produsen utama minyak dunia ini dinilai berisiko mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah, bahkan dalam skenario terburuk dapat memicu resesi ekonomi global.
Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi lebih dari 3 juta barrel per hari pada Januari 2026. Negara Republik Islam ini juga memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital dalam perdagangan minyak dunia.
Mengutip CNBC internasional, selama ini pasar minyak cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan dari kawasan tersebut. Namun, Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih di era Presiden George W. Bush dan pendiri Rapidan Energy, menilai pelaku pasar meremehkan potensi pembalasan Iran atas serangan Amerika Serikat.
“Ini situasi yang sangat serius,” ujar McNally.
Ia memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah berpotensi melonjak 5-7 dollar AS per barrel saat perdagangan dibuka, seiring pasar mulai memperhitungkan risiko geopolitik. Pada perdagangan terakhir, harga minyak mentah Brent ditutup di level 72,48 dollar AS per barrel, naik 2,45 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,78 persen ke posisi 67,02 dollar AS per barel.
Risiko di Selat Hormuz
McNally menilai Iran dapat meningkatkan tekanan dengan membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas kapal komersial. Jika itu terjadi, harga minyak berpotensi melonjak di atas 100 dollar AS per barrel.
Menurut data firma konsultan energi Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak per hari atau sekitar sepertiga total ekspor minyak laut dunia melewati Selat Hormuz pada tahun 2025. Sekitar tiga perempat volume tersebut dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China sendiri menerima setengah impor minyak mentahnya melalui jalur tersebut.
“Penutupan Selat Hormuz dalam waktu yang berkepanjangan hampir pasti akan memicu resesi global,” kata McNally.
Gangguan Pasokan Gas dan Biaya Asuransi
Selain minyak, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar, juga melewati selat itu. Jika jalur tersebut terganggu, pasokan sulit digantikan dalam waktu singkat.
Analis Kpler, Matt Smith, menyebut lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Beberapa kapal tanker dilaporkan mulai mengalihkan rute untuk menghindari potensi risiko di Selat Hormuz.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan media pemerintah Iran mencatat adanya serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Tom Kloza, analis dari Kloza Advisors, mengatakan eskalasi ini dapat meningkatkan biaya asuransi kapal tanker atau bahkan membuat perusahaan asuransi enggan menanggung perjalanan melalui Selat Hormuz. “Serangan terhadap negara-negara Teluk mengubah kalkulasi risiko dan bisa menekan perusahaan asuransi untuk menaikkan premi secara agresif,” katanya.
Informasi lengkap mengenai proyeksi harga komoditas dan dampak konflik Timur Tengah ini disampaikan melalui pernyataan analis komoditas Ibrahim Assuaibi dan laporan dari berbagai sumber media internasional pada Minggu, 1 Maret 2026.
