Finansial

Eskalasi Konflik Timur Tengah Soroti Ekonomi Global: Harga Minyak dan Emas Melonjak, Rupiah Tertekan

Advertisement

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk Teheran, pada Sabtu (28/2/2026). Iran merespons dengan menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA). Eskalasi ini memicu penutupan Selat Hormuz dan lonjakan signifikan pada harga minyak dunia serta emas.

Selat Hormuz Ditutup, Ancaman pada Jalur Energi Global

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melalui Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026). Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi ekspor minyak dan gas dunia ini kini terancam terganggu. Laporan Gulf News menyebutkan, sejumlah kapal di Teluk menerima peringatan radio frekuensi tinggi dari IRGC agar tidak melintasi selat.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Data dari Vortexa mencatat, sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melewati selat ini setiap hari, di mana 82 persen pengiriman ditujukan ke pasar Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Meskipun Angkatan Laut Inggris menegaskan perintah Iran tidak memiliki dasar hukum internasional, kewaspadaan global meningkat. Angkatan Laut AS mengimbau kapal untuk menjauhi area tersebut, sementara Kementerian Perhubungan Yunani menyarankan armadanya menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.

Beban Fiskal Indonesia Terancam Akibat Kenaikan Harga Minyak

Eskalasi konflik di Timur Tengah juga diproyeksikan berdampak signifikan pada Indonesia. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti potensi kenaikan harga minyak dunia yang dapat menambah beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pemerintah.

“Ketegangan di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga minyak dunia. Ketika harga minyak naik, beban subsidi pemerintah untuk BBM akan membengkak. Anggaran bisa jebol jika tidak ada realokasi subsidi BBM,” ujar Nailul Huda. Ia menambahkan, jika harga minyak dalam APBN terlampaui jauh, ruang fiskal pemerintah akan tertekan.

Nailul juga menekankan bahwa dengan kondisi fiskal saat ini dan ketidakpastian global, penerimaan negara tidak dapat menjadi solusi tunggal. Opsi penambahan utang juga semakin terbatas, mengingat laporan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan S&P yang menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.

Proyeksi Lonjakan Harga Minyak Dunia hingga 120 Dollar AS per Barel

Nailul Huda lebih lanjut memperkirakan harga minyak dunia berpotensi naik hingga 120 dollar AS per barel, menyerupai situasi saat Rusia menginvasi Ukraina. Pada Sabtu (28/2/2026), harga minyak sudah mencapai 73 dollar AS per barel, meningkat dari 65 dollar AS per barel di awal Februari 2026.

“(Dampaknya) yang pasti adalah kenaikan harga minyak akan cukup signifikan. Apa yang dilakukan US, sama saja seperti yang dilakukan Rusia ke Ukraina yang akan menyebabkan gejolak global,” tutur Nailul.

Advertisement

Senada, Ekonom FEB UI, Fithra Faisal Hastiadi, menilai eskalasi konflik ini meningkatkan risiko volatilitas pasar minyak. “Kalau konflik berlangsung lebih dari dua minggu, harga minyak bisa menembus 100–120 dollar AS per barel karena efek langsung ke Selat Hormuz,” kata Fithra.

Rupiah Tertekan, Pasar Keuangan Global Alami Volatilitas

Fithra Faisal Hastiadi juga menyoroti korelasi antara geopolitik dan pergerakan imbal hasil obligasi AS (UST 10-year yield). Saat ini, yield berada di bawah 4 persen karena tingginya permintaan obligasi sebagai safe haven. Namun, jika risiko global meningkat tajam, arus dana dapat beralih ke emas atau yen Jepang.

Bagi Indonesia, dampak utama berasal dari lonjakan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor bersih, kenaikan energi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah. Fithra memperingatkan, jika konflik berlangsung lebih dari tiga hari dan memicu sentimen risk-off global, rupiah bisa menyentuh 17.200 per dollar AS akibat flight to safety.

Selain itu, volatilitas pasar saham juga berpotensi meningkat, terutama menjelang rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan awal pekan depan.

Emas Menguat Signifikan, Jadi Pilihan Utama Aset Lindung Nilai

Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Pada Sabtu (28/2/2026) pagi, pasar emas dunia ditutup di level 5.280 dollar AS per troy ons, sementara harga logam mulia di Indonesia mencapai Rp 3.085.000 per gram. “Kalaupun terkoreksi, penurunannya tipis, kemungkinan di 5.260 dollar AS per troy ons. Untuk logam mulia, bisa di sekitar Rp 3.045.000 per gram,” jelas Ibrahim, dikutip dari Kompas.id.

Ibrahim memperkirakan, level resisten pertama emas dunia berada di 5.365 dollar AS per troy ons, dengan potensi logam mulia menembus Rp 3.150.000 per gram. Dalam sepekan ke depan, harga emas global bahkan bisa mencapai 5.500 dollar AS per troy ons dan logam mulia Rp 3.400.000 per gram. Kegagalan pertemuan delegasi AS dan Iran di Geneva turut memperburuk ketidakpastian, sehingga potensi penguatan emas tetap besar.

Informasi lengkap mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar global ini disampaikan melalui berbagai laporan media dan analisis dari para ekonom pada Sabtu (28/2/2026).

Advertisement