Finansial

Gubernur BI Perry Warjiyo Soroti Rupiah Terlalu Murah: Bukan Krisis, Tapi Sinyal Penting Ekonomi

Advertisement

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, pada Rapat Dewan Gubernur 19 Februari 2026 menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Pernyataan ini muncul di tengah fundamental ekonomi nasional yang dinilai kuat, dengan inflasi terkendali di target 2,5 plus minus 1 persen dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Pernyataan Bank Indonesia dan Kondisi Fundamental Ekonomi

Perry Warjiyo menegaskan, meskipun rupiah tertekan, kondisi makroekonomi Indonesia menunjukkan stabilitas. Imbal hasil instrumen keuangan domestik juga masih kompetitif, mengindikasikan daya tarik investasi yang tetap terjaga. Konsep undervalued ini sejalan dengan teori nilai tukar riil yang mengacu pada daya beli relatif dan kondisi makroekonomi jangka panjang suatu negara.

Dalam pendekatan Purchasing Power Parity (PPP), nilai tukar idealnya akan menyesuaikan dengan perbedaan tingkat harga antarnegara dalam jangka panjang. Ketika nilai tukar aktual menyimpang jauh dari keseimbangan, baik terlalu mahal (overvalued) maupun terlalu murah (undervalued), distorsi dapat memicu tekanan struktural pada perdagangan, investasi, dan stabilitas finansial.

Faktor Eksternal Pemicu Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Ketidakpastian pasar keuangan global, kenaikan premi risiko, dan dinamika arus modal internasional menjadi penyebab utama. Fenomena ini lazim terjadi pada negara berkembang yang terintegrasi dalam sistem keuangan global.

Ketika suku bunga negara maju naik atau risiko geopolitik meningkat, investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang untuk mencari aset yang dianggap lebih aman, sebuah fenomena yang dikenal sebagai flight to quality. Rupiah pun terdampak bukan karena ekonomi Indonesia rapuh, melainkan karena berada dalam pusaran sistem keuangan global yang sensitif terhadap sentimen.

Dampak Rupiah Undervalued: Untung Rugi Bagi Sektor Ekonomi

Posisi rupiah yang undervalued memberikan keuntungan bagi eksportir. Mata uang yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing harga produk di pasar internasional, membuat produk Indonesia relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri. Sektor tekstil, pertanian, dan manufaktur berorientasi ekspor berpotensi mendapat manfaat, serta mendorong neraca perdagangan positif.

Namun, bagi importir dan industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, pelemahan rupiah berarti biaya produksi lebih mahal. Dalam ekonomi yang masih mengandalkan impor barang modal, komponen industri, dan energi, pelemahan kurs dapat memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang elektronik, obat-obatan, hingga bahan pangan tertentu.

Investor juga membaca situasi ini dengan cermat. Dalam teori portfolio balance, keputusan investor sangat dipengaruhi persepsi risiko dan ekspektasi nilai tukar. Volatilitas rupiah yang tinggi dapat meningkatkan premi risiko, mendorong sebagian investor untuk keluar dari pasar domestik.

Advertisement

Respons Kebijakan dan Strategi Jangka Panjang

Bank Indonesia telah merespons melalui kombinasi kebijakan moneter dan stabilisasi pasar. Intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot maupun instrumen lindung nilai seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dilakukan untuk meredam volatilitas berlebihan. Optimalisasi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) juga diarahkan untuk menarik aliran modal masuk.

Pendalaman pasar keuangan domestik terus didorong agar struktur pembiayaan tidak terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek. Namun, kebijakan moneter saja tidak cukup. Koordinasi fiskal dan reformasi struktural menjadi kunci. Teori pertumbuhan endogen menekankan bahwa daya tahan ekonomi ditentukan oleh produktivitas, inovasi, dan kualitas institusi.

Diversifikasi ekspor, penguatan industri substitusi impor, serta peningkatan nilai tambah dalam rantai produksi domestik akan memperkuat fundamental rupiah dalam jangka panjang. Struktur ekonomi yang kokoh akan membuat tekanan eksternal tidak mudah menggoyahkan nilai tukar.

Literasi Publik dan Kredibilitas Ekonomi Bangsa

Urgensi literasi publik muncul agar masyarakat memahami bahwa nilai tukar bukan sekadar angka, melainkan cermin kepercayaan terhadap masa depan ekonomi bangsa. Ketika rupiah disebut undervalued, publik perlu memahami bahwa istilah itu tidak selalu berarti krisis, tetapi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Ini adalah sinyal adanya jarak antara persepsi pasar dan kondisi fundamental.

Stabilitas nilai tukar adalah fondasi bagi kepastian usaha, perlindungan daya beli masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan. Mata uang bukan hanya alat tukar, melainkan simbol kredibilitas ekonomi sebuah bangsa.

Informasi lengkap mengenai kondisi nilai tukar rupiah ini disampaikan melalui pernyataan resmi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada Rapat Dewan Gubernur 19 Februari 2026.

Advertisement