Harga emas global mencatatkan rekor tertinggi yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya pada awal 2026. Di tengah euforia investor, bank investasi raksasa asal Amerika Serikat, JP Morgan, mengeluarkan peringatan penting mengenai potensi risiko dan ketidakpastian yang menyertai lonjakan harga logam mulia ini.
Harga Emas Melonjak ke Level Tak Terduga
Data pasar yang dikutip The Street pada Selasa, 24 Februari 2026, menunjukkan harga emas dunia telah melampaui 5.200 dollar AS per ounce. Angka ini merupakan bagian dari fase reli yang luar biasa panjang dan kuat dibandingkan siklus sebelumnya, bahkan menembus 5.000 dollar AS per ounce lebih dari tujuh kali dalam beberapa minggu terakhir.
JP Morgan mencatat bahwa lonjakan harga emas didorong oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta ketidakpastian geopolitik yang meluas. Faktor-faktor ini secara historis memicu permintaan aset safe haven. Bank tersebut menegaskan, emas telah mempertahankan perannya sebagai “strategic diversifier” atau aset penganekaragaman risiko, bahkan setelah kenaikan signifikan ini.
Peringatan “Reality Check” dari JP Morgan
Dalam catatannya kepada klien, JP Morgan menyampaikan dua pesan utama yang tampak kontradiktif. Di satu sisi, bank ini tetap melihat prospek harga emas lebih tinggi, namun di sisi lain, mereka mengingatkan klien akan kondisi pasar yang bisa berubah drastis.
JP Morgan mempertanyakan apa yang dapat menghentikan reli harga emas ini. Permintaan yang melaju terutama datang dari bank sentral, yang mencatat pembelian bersih meningkat dua kali lipat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Hal ini terjadi karena upaya diversifikasi cadangan dari dolar AS setelah penerapan sanksi dan pembekuan aset asing.
Lebih lanjut, JP Morgan menyoroti permintaan dari investor ritel, baik melalui kepemilikan emas fisik, emas batangan, maupun produk terkait seperti ETF, bisa berbalik arah jika harga mulai stagnan. Catatan tersebut menyebutkan bahwa “plateauing demand” atau permintaan yang mendatar bukan sekadar risiko teoritis, melainkan kemungkinan nyata yang bisa memicu koreksi harga.
Data Permintaan Emas Global 2025
Laporan JP Morgan merujuk data dari World Gold Council yang menunjukkan permintaan emas global mencapai 5.002 ton pada 2025. Permintaan untuk tujuan investasi mencapai 2.175 ton, dengan aliran masuk ke ETF emas meningkat sebanyak 801 ton. Pernyataan ini mencerminkan lonjakan minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
“Tahun 2025 menyaksikan lonjakan permintaan emas dan harga yang meroket. Investor berlomba-lomba mengakses emas melalui semua jalur yang tersedia karena risiko geopolitik dan ekonomi menjadi hal yang lumrah,” ujar Louise Street, analis pasar senior di World Gold Council.
Proyeksi Harga Emas dan Karakteristik Aset
Meskipun memperingatkan risiko koreksi, JP Morgan juga menyesuaikan proyeksi harga emasnya ke arah yang lebih tinggi. Bank ini memperkirakan harga emas bisa mencapai sekitar 6.300 dollar AS per ounce pada akhir 2026. Proyeksi ini menggambarkan keyakinan mereka bahwa tren diversifikasi cadangan dan permintaan strategis masih memiliki ruang untuk berkembang.
“Meskipun terjadi volatilitas jangka pendek baru-baru ini, kami tetap sangat yakin akan prospek emas dalam jangka menengah karena tren diversifikasi yang berkelanjutan dan struktural,” tulis analis JP Morgan dalam catatannya.
JP Morgan menekankan bahwa emas, berbeda dari aset yang menghasilkan pendapatan seperti obligasi atau saham yang membayar dividen, tidak menghasilkan arus kas. Artinya, investasi pada emas sepenuhnya bergantung pada perubahan harga di pasar dan persepsi risiko investor, sehingga volatilitas bisa lebih tajam.
“Emas bisa sangat fluktuatif, kenaikannya dipengaruhi oleh suku bunga, dan tidak menghasilkan pendapatan,” kata JP Morgan.
Pandangan Lembaga Keuangan Lain
Sejumlah lembaga keuangan global lainnya juga memberikan berbagai pandangan tentang arah harga emas ke depan. Berikut adalah target harga emas untuk 2026 dari beberapa bank investasi besar:
- Goldman Sachs: Memproyeksi target harga emas sekitar 5.400 dollar AS per ounce pada akhir 2026.
- Morgan Stanley: Memproyeksikan harga emas sekitar 5.700 dollar AS per ounce dalam kondisi bull case.
- UBS: Menaikkan prediksinya sekitar 6.200 dollar AS per ounce pada akhir 2026.
Perbedaan target ini mencerminkan ketidakpastian inheren dalam pasar komoditas, terutama di tengah gejolak makroekonomi, fluktuasi nilai tukar, serta kebijakan moneter global yang terus berubah.
Informasi lengkap mengenai analisis pasar emas ini disampaikan melalui catatan resmi JP Morgan yang dirilis kepada klien pada Selasa, 24 Februari 2026.
