Finansial

Karyawan UMR Ungkap Cara Lunasi KPR BTN 20 Tahun Lebih Cepat: Strategi ‘Ngebom’ dan Manfaatkan Program Bank

Advertisement

Wicaksono (36), seorang karyawan swasta di Jakarta, berhasil mematahkan stigma sulitnya memiliki rumah bagi pekerja bergaji upah minimum regional (UMR). Ia sukses melunasi kredit pemilikan rumah (KPR) dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dalam waktu delapan tahun, jauh lebih cepat dari tenor awal 20 tahun. Kisah inspiratif ini terjadi di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan menjadi bukti bahwa disiplin finansial serta pemanfaatan program bank dapat mewujudkan impian hunian pribadi.

Perjalanan Wicaksono: Dari Kontrakan ke Rumah Impian

Sebagai perantau asal Jawa Tengah, Wicaksono dan sang istri awalnya menyewa kontrakan di Manggarai, Jakarta Selatan. Siklus membayar sewa tanpa memiliki aset memicu mereka untuk mencari solusi. “Waktu itu masih ngontrak di Manggarai. Tiap tahun mikir, uang habis buat kontrakan terus, tapi enggak jadi aset,” kata Wicaksono kepada Kompas.com pada Senin, 21 Februari 2026.

Pada tahun 2017, dengan gaji UMR Jakarta sekitar Rp 3,2 juta dan tabungan, Wicaksono mengajukan KPR BTN dengan DP 0 persen. Ia membidik rumah seharga Rp 290 juta di Cluster Pelita Bojong, Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang dekat dengan Stasiun KRL Bojonggede. Cicilan awal sebesar Rp 2,6 juta per bulan selama dua tahun pertama, dengan tenor 20 tahun, menjadi tantangan besar.

Sejak awal akad, Wicaksono dan istri sepakat membagi peran. “Waktu itu enggak ada keraguan karena emang pikirannya sudah diplot kayak gitu. Suami bayar rumah (lewat KPR), istri (bekerja) buat kehidupan sehari-hari,” tutur Wicaksono. Namun, kelahiran anak kedua dan kesulitan mencari asisten rumah tangga membuat sang istri harus berhenti bekerja, mengganggu skenario finansial keluarga.

Setelah masa flat berakhir, cicilan KPR naik menjadi Rp 3,5 juta per bulan, sementara gaji Wicaksono baru menyentuh Rp 4 juta. Untuk menutupi kekurangan, ia mengambil pekerjaan sampingan (freelance). Pagi hingga sore ia mengerjakan proyek lepas, sedangkan malam hari ia fokus pada pekerjaan utamanya di kantor.

Strategi Jitu Hadapi Badai Pandemi dan Percepat Pelunasan

Ujian terberat datang pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 melanda. Kantor utama Wicaksono melakukan efisiensi, dan banyak proyek freelance-nya terhenti, menyebabkan arus kas keluarga goyah. “Pahit-pahitnya, sampai di titik se-hopeless ini, kalau emang enggak sanggup (mencicil), ya sudah, rumah kami lepas,” kenangnya getir.

Di tengah keputusasaan, ia mendapat informasi program keringanan dari BTN. Berbekal rekam jejak cicilan yang bersih, ia berhasil mendapatkan persetujuan penurunan suku bunga, menekan cicilan menjadi Rp 2,8 juta. Ketika ekonomi belum membaik, ia mengajukan restrukturisasi. “Kami cuma bayar pokok (utang KPR). Jadi, dari Rp 2,8 juta, aku cuma bayar sekitar Rp 400.000 sampai Rp 500.000. Itu sangat membantu, walaupun tenornya ternyata nambah dua tahun (menjadi 22 tahun),” jelasnya.

Seiring pulihnya ekonomi pasca-pandemi, pendapatan dari jalur freelance kembali mengalir, dan ia mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji lebih baik. Wicaksono memilih untuk tetap hidup sederhana dan menabung agresif untuk “ngebom” atau melakukan pelunasan sebagian pokok utang. Ia menolak godaan untuk take over KPR ke bank lain karena biaya appraisal baru bisa mencapai 11 persen dari total pokok utang.

“Ternyata, lebih menguntungkan jika stay di BTN dengan ngebom,” ungkapnya. Proses pelunasan sebagian di BTN tergolong mudah dengan penalti ringan, hanya 1 persen dari nilai yang disetorkan. Saat ia “ngebom” Rp 50 juta, penaltinya hanya Rp 500.000. Manuver ini dilakukan dua kali, membuat cicilan bulanannya terjun bebas hingga tersisa sekitar Rp 600.000.

Puncak perjuangan tiba pada awal tahun 2025, ketika Wicaksono memutuskan melunasi seluruh sisa pokok utangnya. Sang istri bahkan rela menjual perhiasan dan aset simpanannya demi kebebasan finansial keluarga. Namun, ada rintangan terakhir: akumulasi beban bunga tertunda dari program restrukturisasi sebesar Rp 30 juta. Berkat rekam jejak bersih dan komunikasi baik, petugas bank mengarahkannya mengajukan keringanan, dan beban tersebut dipangkas hingga hanya tersisa Rp 1,5 juta.

Kini, sertifikat rumah di Bojonggede telah beralih nama. “Ada sisi plong karena udah nggak ada utang di bank. Cuma tinggal utang ke istri, ya. Karena ini (pelunasan) dari jual perhiasannya istri,” guraunya.

Dukungan BTN dan Inovasi Digital

Keberhasilan Wicaksono tak lepas dari pendekatan humanis pihak bank. Ia mengapresiasi kemudahan yang dirasakannya selama menjadi nasabah, mulai dari pengajuan KPR, penurunan suku bunga, restrukturisasi, hingga pelunasan sebagian dan penuh. “Alhamdulillah, prosesnya sangat mudah di BTN. Petugasnya jelasin dengan baik dan bisa kasih solusi terbaik bagi nasabah. Bener-bener membantu,” ujar Wicaksono.

Advertisement

BTN sendiri menghadirkan berbagai kemudahan dalam memiliki rumah impian lewat KPR. Asal persyaratan lengkap dan skor kredit bagus, pengajuannya dipermudah. Inovasi digital terbaru BTN, bale Properti, diluncurkan pada 9 Februari 2025, bertepatan dengan HUT Ke-75. Platform ini memungkinkan pencarian rumah, simulasi KPR, pengajuan pembiayaan, hingga pelacakan proses kredit secara daring.

“Lewat bale Properti, kami ingin menjadikan pengalaman memiliki rumah sebagai sesuatu yang mudah, cepat, dan menyenangkan. Inilah bentuk nyata komitmen BTN untuk menjadi mitra utama keluarga Indonesia dalam mewujudkan rumah impian mereka,” ujar SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi dalam siaran pers, Kamis, 7 Agustus 2025.

Kemudahan juga diberikan saat masa pembayaran, seperti sistem auto debet (AGF), program diskon angsuran, keringanan untuk nasabah existing, hingga pengurangan angsuran melalui pemilahan dan penyetoran sampah. Proses “ngebom” atau pelunasan dipercepat juga tidak dipersulit dengan biaya penalti hanya 1 persen.

Dengan sejumlah kemudahan tersebut, sejak tahun 1976 hingga Desember 2025, BTN telah menyalurkan kredit perumahan sebesar Rp 555,11 triliun. Rinciannya, KPR subsidi mencapai 4,4 juta unit senilai Rp 300,99 triliun, dan KPR nonsubsidi membiayai 1,3 juta unit rumah dengan total nilai Rp 218,57 triliun. “Capaian ini semakin menegaskan peran BTN dalam mendukung kepemilikan hunian bagi masyarakat Indonesia,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, diberitakan Kompas.com pada Rabu, 18 Februari 2026.

Resep Sukses Wicaksono untuk Milenial dan Gen Z

Wicaksono membagikan resep rahasianya bagi generasi milenial dan Gen Z yang masih pesimis dengan harga rumah dan memilih mengontrak:

  1. Ubah mindset, KPR harus diniatkan untuk dilunasi sebagian secara bertahap. Langkah pertama adalah mengubah mindset saat mengajukan KPR BTN dengan niat untuk melunasi secara bertahap. Pengaturan keuangan ketat sangat diperlukan. “Saat mengajukan KPR, masuklah dengan niat untuk ‘nembak’ atau ‘ngebom’ (pelunasan sebagian). Jangan pasrah mengikuti tenor 20 tahun. Tekan gaya hidup dan tabung untuk memotong pokok utang,” tuturnya.

  2. Jangan jadi nasabah pasif. Aktiflah bertanya kepada pihak BTN seputar program-program yang memudahkan nasabah. “Kita harus sering komunikasi sama pihak BTN. Karena kita sibuk bekerja, informasi program-program keringanan KPR itu sering kita skip. BTN punya banyak program yang meringankan nasabah kalau kita mau bertanya,” ujarnya.

  3. Haram hukumnya telat bayar. Jangan sesekali telat membayar cicilan. Keterlambatan dapat memengaruhi skor kredit dan menurunkan peluang mendapatkan kemudahan dari BTN. “Jangan telat bayar! Kalau kita telat bayar, minta keringanan dari bank itu bakal jauh lebih susah. Cicilan yang lancar adalah modal utama kita saat butuh bantuan dari bank,” lanjutnya.

  4. Perbanyak koneksi dan cari side hustle. Kiat berikutnya adalah memperbanyak koneksi dan mencari pekerjaan sampingan (side hustle). Penghasilan tambahan ini dapat diinvestasikan ke instrumen aman atau ditabung, lalu digunakan untuk melunasi sebagian utang. “Gaji UMR bukan jalan buntu. Perbanyak side hustle (pekerjaan sampingan) dan jaga silaturahmi. Semakin banyak koneksi yang baik dengan teman-teman sekitar, rezeki kita bakal bertambah. Jangan pernah menyepelekan orang di sekitar kita,” tuturnya.

Bagi Wicaksono, rumah di Bojonggede bukan sekadar bangunan, melainkan penanda perjalanan dari kontrakan sempit di Manggarai menuju hunian milik sendiri. Kini, ia bisa melihat anak-anaknya bermain tanpa dihantui kekhawatiran soal kontrak atau kenaikan sewa. Sertifikat telah di tangan, dan di rumah itulah, ia merasa semua lembur, kurang tidur, serta pengorbanan selama bertahun-tahun akhirnya terbayar.

Informasi lengkap mengenai kisah inspiratif Wicaksono dan berbagai program KPR BTN disampaikan melalui pernyataan resmi BTN dan wawancara dengan Kompas.com yang dirilis pada Rabu, 25 Februari 2026.

Advertisement