Finansial

Konflik Timur Tengah Memanas: Iran Blokade Selat Hormuz, Ancam Stabilitas Rantai Pasok Komoditas Dunia

Advertisement

Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 memicu guncangan signifikan pada pasar energi global. Serangan militer dan respons balasan dari Teheran tidak hanya meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga mengancam Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran luas karena jalur laut tersebut merupakan salah satu titik penghubung utama perdagangan energi global. Ketika akses terhadap jalur itu terganggu, dampaknya dapat meluas dari pasar minyak hingga rantai pasok komoditas global, termasuk pangan dan pupuk.

Guncangan Pasar Komoditas Global

Menurut Liu Xu, Direktur Eksekutif Center for International Energy and Environment Strategy Studies di Renmin University of China, rangkaian peristiwa tersebut berpotensi memicu guncangan besar terhadap pasar komoditas dunia. Dikutip dari CGTN pada Senin, 2 Maret 2026, Liu menilai konflik ini bukan sekadar ketegangan geopolitik jangka pendek, melainkan peristiwa yang dapat memicu perubahan besar pada struktur ekonomi global.

Operasi Militer dan Respons Iran

Konflik memuncak setelah AS dan Israel melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Operasi yang diberi nama Operation Epic Fury itu menargetkan sejumlah fasilitas strategis di negara tersebut.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan operasi balasan yang disebut “True Promise 4”. Dalam responsnya, Teheran secara efektif memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Liu Xu menyebutkan, langkah ini memutus arteri utama pasokan energi global dan berpotensi menimbulkan guncangan pada pasar komoditas dunia.

Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut tidak hanya memukul sektor energi, tetapi juga dapat dengan cepat menyebar ke seluruh ekonomi global, bahkan berpotensi mengubah struktur ekonomi dan keuangan internasional jika konflik berlanjut.

Selat Hormuz sebagai Arteri Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi global. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadikannya titik transit utama bagi ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk.

Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melewati selat ini setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 30 persen perdagangan minyak laut dunia dan sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global.

Selain minyak, jalur ini juga memiliki peran penting dalam perdagangan gas alam cair (LNG). Qatar, eksportir LNG terbesar di dunia, mengirimkan seluruh ekspor LNG-nya melalui Selat Hormuz, mewakili lebih dari 20 persen perdagangan LNG global.

Negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait sangat bergantung pada jalur ini, dengan lebih dari 90 persen ekspor minyak mereka melewati Selat Hormuz. Karena posisinya yang strategis, gangguan terhadap jalur ini dapat menimbulkan efek berantai terhadap pasokan energi dunia.

Ketergantungan Ekspor Iran pada Pulau Kharg

Selain ancaman terhadap jalur pelayaran global, konflik juga berpotensi mengganggu ekspor minyak Iran secara langsung. Salah satu titik paling krusial dalam sistem ekspor energi Iran adalah Pulau Kharg.

Pulau tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dan dianggap sebagai fasilitas utama yang menopang pendapatan energi negara itu. Menurut Liu Xu, ketergantungan besar pada satu terminal ekspor membuat sistem energi Iran memiliki kelemahan struktural.

Ia menuturkan, “Jika Pulau Kharg mengalami kerusakan berat atau tidak dapat beroperasi dalam waktu lama akibat konflik, ekspor minyak Iran sekitar 3 juta barel per hari bisa berhenti secara tiba-tiba.” Hal ini berarti pasar minyak global akan kehilangan pasokan signifikan dalam waktu singkat.

Penghentian Pengiriman dan Dampak Pasar

Setelah Iran mengumumkan pembatasan navigasi di Selat Hormuz, banyak perusahaan energi dan pedagang minyak dunia menghentikan aktivitas pengiriman di wilayah tersebut. Radio militer Iran dilaporkan menyiarkan peringatan bahwa “tidak ada kapal yang boleh melintas”, sehingga sejumlah kapal tanker memilih berhenti beroperasi di sekitar perairan tersebut.

Keputusan untuk menunda pelayaran mencerminkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan kapal dan stabilitas jalur perdagangan energi. Gangguan pada jalur ini juga terjadi di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan, yang telah menyasar berbagai lokasi strategis di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer dan infrastruktur energi.

Ketidakpastian tersebut meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran, perusahaan energi, dan negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Advertisement

Keterbatasan Jalur Alternatif

Salah satu alasan mengapa Selat Hormuz sangat penting adalah terbatasnya jalur alternatif untuk menyalurkan minyak dari kawasan Teluk. Beberapa negara memiliki pipa alternatif yang dapat mengalihkan sebagian ekspor energi.

Misalnya, Arab Saudi memiliki pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di Teluk dengan pelabuhan di Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa menuju Fujairah. Namun, kapasitas gabungan kedua jalur tersebut hanya sekitar 6,8 juta barel per hari.

Kapasitas itu jauh lebih kecil dibandingkan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Selain itu, pipa tersebut juga tidak selalu memiliki kapasitas kosong yang cukup untuk menggantikan jalur laut sepenuhnya. Artinya, jika Selat Hormuz tidak dapat digunakan, hampir sepertiga pasokan minyak yang diperdagangkan melalui laut berisiko terhenti.

Risiko Lonjakan Harga Energi

Ketika pasokan energi global terganggu, harga minyak biasanya merespons dengan cepat. Sebelum konflik meningkat, harga minyak Brent sudah berada di sekitar 73 dollar AS per barel akibat meningkatnya ketegangan di kawasan.

Liu Xu menilai, jika blokade Selat Hormuz berlangsung cukup lama, harga minyak dapat melonjak secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. “Apabila mediasi internasional berhasil dengan cepat dan operasi militer dihentikan, harga minyak kemungkinan dapat naik ke atas 120 dollar AS per barel sebelum kemudian kembali turun,” terang dia.

Namun, jika konflik berlanjut, pasar energi global berpotensi menghadapi periode volatilitas yang berkepanjangan.

Dampak pada Komoditas Pertanian dan Pupuk

Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada pasar minyak, tetapi juga pada sektor pertanian. Energi merupakan komponen penting dalam produksi pangan modern, memengaruhi biaya bahan bakar untuk irigasi, panen, dan transportasi hasil pertanian.

Menurut Liu Xu, kenaikan harga energi secara langsung akan meningkatkan biaya produksi pertanian, yang dapat memicu kenaikan harga pangan. Kondisi ini menegaskan bagaimana konflik geopolitik dapat memicu tekanan harga yang meluas hingga sektor pangan.

Selain energi dan pangan, sektor pupuk juga berpotensi terdampak oleh gangguan di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan pupuk dunia, terutama produk seperti amonia dan urea. Sekitar 25 hingga 35 persen perdagangan global kedua bahan tersebut melewati kawasan Teluk dan menggunakan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.

Iran sendiri juga merupakan eksportir penting metanol. Jika jalur perdagangan terganggu, pasokan bahan kimia dan pupuk global dapat mengalami tekanan, yang pada akhirnya berdampak pada produksi pertanian di berbagai negara.

Efek Berantai terhadap Ekonomi Global

Karena energi, pupuk, dan pangan merupakan komponen penting dalam ekonomi global, gangguan pada salah satu sektor tersebut dapat memicu efek berantai. Ketika harga energi naik, biaya transportasi dan produksi juga meningkat, yang dapat meningkatkan harga berbagai barang dan komoditas di pasar global.

Selain itu, gangguan pada jalur pelayaran utama juga berpotensi memicu ketidakpastian di pasar keuangan dan perdagangan internasional. Dalam analisisnya, Liu Xu menilai, konflik di kawasan Teluk dapat memicu guncangan yang meluas pada rantai komoditas global.

Ia menekankan, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian ekonomi dunia. Dengan ketergantungan besar dunia terhadap jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, perkembangan konflik di kawasan tersebut terus menjadi perhatian utama pasar global.

Informasi lengkap mengenai analisis dampak konflik ini disampaikan oleh Liu Xu, Direktur Eksekutif Center for International Energy and Environment Strategy Studies di Renmin University of China, yang dirilis melalui CGTN pada Senin, 2 Maret 2026.

Advertisement