Penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam operasional energi panas bumi menjadi sorotan utama dalam kunjungan akademik ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak di Sukabumi, Jawa Barat, pada 3 Februari 2026. Kunjungan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Magister Teknik Energi Terbarukan Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada (Unsada) untuk melihat langsung proses pembangkitan listrik berbasis panas bumi.
Kegiatan ini bertujuan untuk memahami peran energi panas bumi dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus menekan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan.
Kunjungan Akademik Perkuat Pemahaman Energi Bersih
Sebanyak 25 peserta, terdiri dari mahasiswa magister lintas semester, sarjana, dan dosen pendamping, mengikuti kunjungan tersebut. Sebelum memasuki area operasional, seluruh peserta mendapatkan safety induction dari tim Star Energy Geothermal Salak Ltd untuk memahami prosedur keselamatan kerja di lingkungan pembangkit.
General Manager PLTP Gunung Salak, Irwan Januar, memaparkan alur pembangkitan listrik panas bumi kepada peserta. Penjelasan mencakup proses dari sumur produksi, pemisahan uap, turbin, generator, hingga sistem pengendalian beban di ruang kontrol.
PLTP Gunung Salak: Pilar Strategis Transisi Energi Nasional
Ketua Pelaksana Kegiatan, Akhmad Muji Hartono, menegaskan bahwa PLTP Gunung Salak memiliki kapasitas produksi yang signifikan dalam bauran energi nasional. “PLTP Gunung Salak merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi saat ini lebih dari sekitar ±400 MW,” ujar Akhmad di Sukabumi, Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, “Pembangkit ini berperan strategis dalam mendukung transisi energi nasional serta memberikan pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan.”
Integrasi ESG dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan
Melalui plant tour di area Plant AWI-1, peserta memperoleh pemahaman bahwa operasional pembangkit tidak terlepas dari tanggung jawab lingkungan hidup dan sosial di wilayah sekitar. Akhmad Muji Hartono menyatakan, “Kami ingin ruang kuliah tak lagi bersekat dinding.”
Direktur Magister Teknik Energi Terbarukan Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, As Natio Lasman, menjelaskan bahwa kunjungan ini dirancang untuk menjembatani teori dan praktik. “Dengan melihat langsung proses pembangkitan, mahasiswa tak sekadar memahami aspek teknis, tetapi juga menangkap gambaran besar, yakni bagaimana panas bumi menjadi salah satu kunci transisi energi nasional,” ujarnya.
Pakar geothermal sekaligus dosen Unsada, Riki Firmandha Ibrahim, menambahkan, “Ini soal membentuk karakter profesional.” Menurutnya, menyaksikan langsung budaya kerja di perusahaan seperti Star Energy memberikan pelajaran bahwa kompetensi profesional perlu berjalan seiring dengan pemahaman nilai korporasi. “Unsada ingin menjadi bagian dari solusi manajemen energi masa depan Indonesia,” tegasnya.
Kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan industri, termasuk membuka ruang riset ESG di sektor panas bumi. “Pengalaman dan data empiris ini akan menjadi referensi tesis dan publikasi ilmiah yang berkontribusi bagi teknologi geothermal nasional,” pungkas Akhmad.
Tantangan Pemanfaatan Potensi Panas Bumi Indonesia
Di sisi lain, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia tercatat baru mencapai 11,5 persen dari total potensi nasional, meskipun kapasitas terpasangnya saat ini menempati posisi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Capaian ini memunculkan tantangan bagi industri panas bumi nasional dalam mengejar target bauran energi baru dan terbarukan.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai tingkat pemanfaatan tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan yang telah mengoptimalkan sumber daya panas bumi mereka. “Filipina mampu memanfaatkan sekitar 48,07 persen dari total potensi panas buminya,” ujar Komaidi dalam paparannya, dikutip Senin (8/12/2025).
Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kontribusi energi baru dan terbarukan ditargetkan mencapai 51 persen atau 27,4 gigawatt hingga 61,3 persen atau 42,6 gigawatt dari tambahan kapasitas pembangkit listrik nasional, dengan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 gigawatt.
Meski memiliki keunggulan sebagai pembangkit yang tidak bergantung pada cuaca serta mampu beroperasi sebagai beban dasar dengan faktor kapasitas mencapai 90 hingga 95 persen, pengembangan PLTP masih menghadapi sejumlah kendala di tingkat pasar dan kebijakan. Kondisi pasar listrik panas bumi yang monopsoni, di mana hanya terdapat satu pembeli listrik, dinilai turut memperlambat realisasi proyek karena banyak pengembang masih menunggu kepastian perjanjian jual beli listrik dan uap sebelum melanjutkan tahapan eksplorasi.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi pihak penyelenggara dan narasumber terkait yang dirilis pada Februari 2026 dan Desember 2025.
