Finansial

Pertamina Patra Niaga Ungkap Inovasi Bioavtur dari Minyak Jelantah, Libatkan Ribuan Warga Cilacap dalam Ekonomi Sirkular

Advertisement

PT Pertamina Patra Niaga melalui Refinery Unit Cilacap secara aktif melibatkan masyarakat sekitar dalam program ekonomi sirkular yang mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar aviasi berkelanjutan, Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF). Inisiatif ini tidak hanya mendukung produksi energi hijau, tetapi juga memberdayakan ribuan warga di wilayah operasional kilang.

Pelibatan Masyarakat dalam Ekosistem SAF

Corporate Secretary PPN, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat diimplementasikan melalui kelompok mitra binaan yang berfokus pada isu lingkungan. Menurut Roberth, isu lingkungan telah menjadi perhatian Pertamina sejak lama. Sebagai perusahaan energi, Pertamina Patra Niaga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, salah satunya dengan berinovasi melahirkan bahan bakar ramah lingkungan seperti PertaminaSAF.

“Selain itu, program ini akan menumbuhkan sirkular ekonomi bagi masyarakat di sekitar kilang,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis pada Selasa, 24 Februari 2026.

Empat kelompok mitra binaan yang terlibat antara lain Bank Sampah Abhipraya di Kelurahan Kutawaru dan Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegalkamulyan, keduanya beroperasi sejak Juli 2025. Ada pula Bank Sampah Beo Asri di Kelurahan Tegalreja yang aktif sejak Oktober 2023, serta Komunitas Mom’s Go Green yang beranggotakan istri pekerja dan pekerja perempuan di Kilang Cilacap sejak Januari 2024.

Sepanjang tahun 2025, program ini berhasil mengumpulkan lebih dari 4.300 liter minyak jelantah. Pengumpulan dilakukan dari lebih 1.000 warga di Kelurahan Kutawaru, Kelurahan Tegalreja, Kelurahan Tegalkamulyan, serta warga Komperta Lomanis, Gunung Simping, dan Katilayu.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan dari Minyak Jelantah

Roberth menjelaskan, minyak jelantah yang diperoleh dari warga dihargai rata-rata Rp 5.000 per liter, sehingga menghasilkan omzet sekitar Rp 20 juta per tahun. “Pengumpulan minyak jelantah ini tak hanya mencegah pencemaran lingkungan, tapi juga menanamkan kebiasaan baru pada masyarakat, yakni memilah sampah sejak dari rumah,” katanya.

Advertisement

Ia menambahkan, “Gerakan ini juga mewujudkan kemandirian masyarakat, yang merupakan salah satu tujuan digelarnya program TJSL.”

Kilang Cilacap juga tercatat sebagai pelopor produsen energi hijau di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada Agustus 2025, PertaminaSAF pertama kali digunakan dalam penerbangan komersial maskapai Pelita Air untuk rute Jakarta-Denpasar.

“Kami bangga bisa menjadi yang terdepan dalam inovasi SAF, dan kami berkomitmen untuk terus mendukung produksinya,” tambah Roberth. Upaya ini merupakan komitmen Pertamina untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 yang telah ditetapkan pemerintah. “Kami optimis PertaminaSAF dapat segera digunakan secara luas dan menjadi standar baru dalam industri aviasi global,” tutup Roberth.

Informasi lengkap mengenai inisiatif ini disampaikan melalui pernyataan resmi PT Pertamina Patra Niaga yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026.

Advertisement