Sejumlah petani sawit mandiri di berbagai wilayah Indonesia menghadapi tantangan besar akibat penggunaan bibit tidak bersertifikat atau “abal-abal”. Bejo, seorang petani di Desa Suak Putat, Muaro Jambi, menceritakan pengalamannya tertipu bibit murah yang berdampak pada rendahnya hasil panen selama bertahun-tahun.
“Pertama kali beli bibit itu yang abal-abal, jadi kini hasilnya sangat mengecewakan sekali,” ujar Bejo pada Kamis (19/2/2026). Minimnya akses informasi dan pengetahuan teknis membuat banyak petani tergiur harga miring tanpa menyadari risiko jangka panjang terhadap produktivitas kebun mereka.
Tantangan Edukasi Agronomi bagi Petani Mandiri
Selain masalah bibit, keterbatasan pemahaman mengenai dasar agronomi juga menjadi kendala utama. Sumarni Ningsih, petani asal Desa Long Tesak, Kutai Timur, mengaku selama ini hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun dalam mengelola kebunnya.
“Saya dulu hanya ikut cara orang-orang sebelumnya. Tidak tahu apakah itu sudah benar atau belum,” kata Sumarni. Ia baru menyadari pentingnya pemilihan bibit dan teknik pemupukan yang tepat setelah mengikuti pelatihan teknis yang intensif dari pihak profesional.
Program Perkasa: Upaya Peningkatan Kualitas Petani
Untuk mengatasi persoalan tersebut, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) menginisiasi program Perkasa (Petani Berkualitas dan Sejahtera). Hingga akhir 2025, program ini telah menjangkau petani mandiri di 69 desa yang tersebar di 10 kabupaten wilayah Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Pelatihan ini menitikberatkan pada praktik lapangan sebesar 60 persen, mencakup identifikasi bibit bersertifikat, teknik pemupukan dosis tepat, hingga metode panen yang benar. Sumarni berharap melalui edukasi ini, pendapatan para petani dapat meningkat seiring dengan perbaikan cara berkebun yang lebih modern.
Dampak Perubahan Praktik Bertani di Lapangan
Perubahan signifikan juga dirasakan oleh Subeki, petani dari Desa Baung, Seruyan, Kalimantan Tengah. Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai menerapkan teknik pruning atau pemotongan pelepah secara disiplin sesuai aturan agronomi yang benar untuk menjaga tumbuh kembang tanaman.
“Dulu saya pikir asal pelepah dipotong saja sudah cukup. Ternyata pruning ada aturannya dan sangat berperan penting untuk kemudahan saat panen nanti,” jelas Subeki. Ia menambahkan bahwa tim perusahaan juga rutin melakukan pemantauan langsung untuk memberikan masukan teknis kepada petani di lapangan.
Kontribusi Industri Sawit bagi Ekonomi Nasional
Sektor kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dengan capaian yang signifikan pada tahun 2024. Industri ini tercatat menyumbang devisa ekspor mencapai 27 miliar dollar AS dan menyerap sekitar 16 juta tenaga kerja di seluruh tanah air.
| Indikator Ekonomi 2024 | Nilai/Jumlah |
|---|---|
| Devisa Ekspor | 27 Miliar Dollar AS |
| Tenaga Kerja | 16 Juta Orang |
Meskipun memiliki kontribusi besar, industri ini masih dihadapkan pada tantangan tata kelola lahan, isu lingkungan, serta fluktuasi harga global. Informasi mengenai inisiatif peningkatan kapasitas petani ini bersumber dari laporan kegiatan PT Triputra Agro Persada Tbk yang dirilis secara resmi.
