Finansial

Rupiah Berpeluang Tembus Rp 16.900 per Dollar AS, Pengamat Soroti Dampak Rating MSCI dan Moody’s

Advertisement

Nilai tukar rupiah diproyeksikan mengalami tekanan signifikan hingga berpotensi menyentuh level Rp 16.900 per dollar AS selama periode Ramadhan 2026. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal global dan penilaian negatif dari sejumlah lembaga keuangan internasional terhadap pasar keuangan domestik.

Proyeksi Pergerakan Rupiah di Bulan Ramadhan

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat bahwa pergerakan mata uang garuda cenderung melemah meskipun sempat mengalami apresiasi tipis. Menurutnya, penguatan yang terjadi bersifat terbatas dan tidak cukup kuat untuk mengubah tren pelemahan secara keseluruhan.

“Ya kalau saya lihat untuk rupiah sih masih sedikit melemah ya. Kalau seandainya menguat juga menguat terbatas, tapi indikasi mendekati Rp 16.900-an kemungkinan besar akan terjadi,” ujar Ibrahim pada Rabu (18/2/2026).

Dampak Penilaian MSCI dan Lembaga Keuangan Global

Fluktuasi rupiah saat ini tidak terlepas dari persepsi pasar global, terutama terkait kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pengelola indeks global tersebut sebelumnya membekukan evaluasi terhadap indeks saham Indonesia dan memberikan ancaman penurunan status dari emerging market menjadi frontier market.

Kondisi ini diperparah dengan langkah sejumlah bank investasi dunia yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia. Berikut adalah daftar lembaga yang melakukan revisi peringkat:

  • Nomura: Menurunkan rekomendasi menjadi netral dari sebelumnya overweight.
  • Goldman Sachs: Menurunkan rekomendasi menjadi underweight pada akhir Januari 2026.
  • UBS Group AG: Memangkas rekomendasi menjadi netral akibat kekhawatiran terkait investabilitas pasar domestik.

Faktor Geopolitik dan Kebijakan Moneter AS

Selain sentimen pasar saham, revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif turut berkontribusi pada volatilitas nilai tukar. Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump membuat dollar AS tetap perkasa di mata investor.

Advertisement

Situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, juga menjadi beban tambahan bagi pasar keuangan global. Sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar, eskalasi di Iran dinilai akan memengaruhi struktur harga minyak dunia yang berdampak pada negara importir energi seperti Indonesia.

Kondisi Domestik dan Ketergantungan Impor

Ibrahim menilai koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sejauh ini cukup membantu menahan tekanan agar rupiah tidak terperosok lebih dalam. Namun, fundamental eksternal tetap menjadi penentu utama mengingat tingginya ketergantungan Indonesia pada impor minyak dengan harga internasional.

Dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dollar AS. Penguatan yang berkelanjutan baru akan terjadi jika arus modal asing kembali stabil dan tekanan geopolitik global mulai mereda.

Informasi mengenai proyeksi nilai tukar ini disampaikan berdasarkan analisis pasar dan pernyataan resmi pengamat ekonomi pada 18 Februari 2026.

Advertisement