Finansial

Rupiah Tertekan Konflik Iran-Israel: Simak Prediksi Pergerakan dan Langkah Stabilisasi Bank Indonesia

Advertisement

Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah signifikan pada perdagangan Senin, 02 Maret 2026. Mata uang Garuda berada di level Rp 16.838 per dollar Amerika Serikat (AS), turun 0,30 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 16.787 per dollar AS.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah memanasnya peperangan di Timur Tengah, menyusul serangan Israel dan AS terhadap sejumlah titik strategis di Iran. Situasi geopolitik yang tidak menentu ini memicu sentimen risk off di kalangan investor global.

Dampak Konflik Global pada Mata Uang Asia

Mayoritas mata uang kawasan Asia tercatat tertekan pada perdagangan pagi ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,80 persen, diikuti peso Filipina yang turun 0,60 persen.

Selain itu, baht Thailand melemah 0,46 persen, sementara ringgit Malaysia turun 0,29 persen. Tekanan juga dialami dollar Taiwan yang melemah 0,27 persen, yen Jepang turun 0,18 persen, dollar Singapura melemah 0,17 persen, serta yuan China yang terkoreksi 0,12 persen. Hanya dollar Hong Kong yang menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat terhadap dollar AS, meski terbatas sebesar 0,01 persen.

Analisis Pasar dan Prediksi Pergerakan Rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah diperkirakan akan terus bergerak melemah terhadap dollar AS. Hal ini didorong oleh meningkatnya sentimen risk off akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Advertisement

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS di tengah sentimen risk off dari eskalasi perang di Timur Tengah,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong investor global mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dollar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Langkah Stabilisasi Bank Indonesia

Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. BI diprediksi akan melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun pasar obligasi.

“Namun BI diperkirakan akan mengintervensi,” papar Lukman. Upaya tersebut bertujuan meredam gejolak yang berlebihan serta menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.900 per dollar AS dalam jangka pendek.

Informasi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah ini disampaikan berdasarkan analisis pasar dan pernyataan resmi dari analis mata uang Doo Financial Futures yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.

Advertisement