PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,8 triliun sepanjang tahun 2025. Capaian ini terbentuk dari kombinasi tantangan operasional, pergerakan harga komoditas, hingga strategi bisnis di berbagai lini usaha perseroan.
Berdasarkan laporan manajemen yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026, UNTR mencatat pendapatan bersih sebesar Rp131,3 triliun hingga triwulan keempat 2025. Angka ini menunjukkan penurunan 2 persen dibandingkan Rp134,4 triliun pada periode yang sama tahun 2024.
“Laba bersih Perseroan turun 24 persen menjadi Rp14,8 triliun, disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen Kontraktor Penambangan yang terkendala curah hujan tinggi dan segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi akibat harga jual batu bara yang lebih rendah yang sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas,” demikian pernyataan manajemen dalam laporannya.
Pendapatan Bersih UNTR Ditopang Empat Segmen Utama
Pendapatan bersih United Tractors sepanjang 2025 terutama ditopang oleh empat segmen utama. Segmen Kontraktor Penambangan berkontribusi sebesar Rp54,1 triliun, diikuti oleh Mesin Konstruksi dengan Rp36,6 triliun.
Selanjutnya, Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi menyumbang Rp24,2 triliun, serta Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya sebesar Rp14,0 triliun. Masing-masing segmen menunjukkan dinamika kinerja yang berbeda sepanjang tahun.
Dinamika Kinerja Tiap Lini Bisnis Sepanjang 2025
Mesin Konstruksi: Penjualan Alat Berat Bergerak Terbatas
Segmen Mesin Konstruksi mencatat kenaikan penjualan alat berat Komatsu sebesar 2 persen menjadi 4.515 unit. Peningkatan ini didorong oleh permintaan dari sektor kehutanan dan perkebunan.
Pangsa pasar Komatsu, berdasarkan riset internal, tetap berada di level 20 persen, menjadikannya pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan. Penjualan Scania juga meningkat dari 436 unit menjadi 466 unit, sementara UD Trucks mengalami penurunan dari 234 unit menjadi 155 unit.
Di sisi lain, pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun 3 persen menjadi Rp11,3 triliun. Hal ini menyebabkan total pendapatan segmen Mesin Konstruksi secara keseluruhan turun 2 persen menjadi Rp36,6 triliun.
Kontraktor Penambangan: Curah Hujan Menekan Aktivitas
Segmen Kontraktor Penambangan, yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada, menyediakan jasa pemindahan tanah dan produksi batu bara. Hingga triwulan keempat 2025, volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 1.100 juta bcm.
Produksi batu bara klien tetap di level 148 juta ton dengan stripping ratio rata-rata 7,4 kali. Penurunan volume pemindahan tanah ini terutama dipicu oleh curah hujan tinggi serta penurunan stripping ratio pada sejumlah kontrak klien.
Kondisi tersebut berdampak pada pendapatan bersih segmen Kontraktor Penambangan yang turun 7 persen menjadi Rp54,1 triliun.
Batu Bara: Volume Naik, Harga Jadi Pembatas
Pada segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang dikelola PT Tuah Turangga Agung, volume penjualan batu bara tambang mencapai 11,6 juta ton, termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi. Angka ini naik 14 persen dari tahun 2024.
Total volume penjualan batu bara, termasuk dari pihak ketiga, mencapai 14,3 juta ton atau naik 9 persen. Namun, pelemahan rata-rata harga jual batu bara menyebabkan pendapatan segmen ini turun 7 persen menjadi Rp24,2 triliun.
Emas dan Mineral Lainnya: Harga Mengangkat Pendapatan
Berbeda dengan segmen lain, Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya justru menjadi penopang utama kinerja perseroan. Segmen ini mencatat kenaikan pendapatan 41 persen menjadi Rp14,0 triliun, terutama berkat peningkatan harga emas.
Operasi emas melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat total penjualan setara emas 227 ribu ons hingga triwulan keempat 2025, meski turun 2 persen dari tahun sebelumnya. PT Agincourt Resources menyumbang 213 ribu ons, sementara PT Sumbawa Jutaraya membukukan 14 ribu ons.
Di bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel 2,1 juta wet metric ton (wmt) hingga triwulan keempat 2025, terdiri dari 0,7 juta wmt saprolit dan 1,4 juta wmt limonit.
Perseroan juga memiliki 20,14 persen saham Nickel Industries Limited yang terdampak pencatatan penurunan nilai dua proyek RKEF lama pada kuartal terakhir 2024. Hal ini memengaruhi kinerja perseroan pada triwulan pertama 2025, meskipun operasional RKEF perusahaan tersebut melaporkan penjualan nickel metal 93.264 ton sampai kuartal ketiga 2025.
Aksi Korporasi dan Penghargaan UNTR Sepanjang 2025
Selain kinerja operasional, sejumlah aksi korporasi turut membentuk perjalanan perseroan sepanjang 2025. Pada 14 Januari 2026, UNTR menyelesaikan pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun yang dimulai 31 Oktober 2025, dengan total 68,5 juta lembar saham.
Tahap kedua buyback kemudian diumumkan dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 22 Januari hingga 15 April 2026, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan. Perseroan menyatakan program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan, sekaligus mendukung stabilitas pasar modal.
Langkah ekspansi juga dilakukan pada 11 Februari 2026 melalui akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam oleh PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara. PT Arafura Surya Alam merupakan perusahaan tambang emas yang berlokasi di Sulawesi Utara.
Di sisi lain, entitas grup United Tractors mencatat sejumlah penghargaan sepanjang tahun. Antara lain, Indonesian SDGs Awards 2025 yang diraih Turangga Resources bersama dua anak usahanya, Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2025 oleh PT Energia Prima Nusantara, serta penghargaan Eco-Innovation dari B-Universe bagi perseroan.
Informasi lengkap mengenai kinerja keuangan dan aksi korporasi PT United Tractors Tbk sepanjang 2025 disampaikan melalui rilis pers resmi manajemen yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.
