Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran serius di pasar energi global menyusul serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada akhir pekan. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia, terutama melalui jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, dan bahkan dapat memicu risiko resesi global.
Eskalasi Konflik dan Dampak Awal Pasar
Serangan AS terhadap Iran telah meningkatkan ketidakpastian di pasar energi. Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush dan pendiri Rapidan Energy, menegaskan situasi ini sangat serius bagi pasar energi global. “Ini (masalah) serius,” kata McNally, dikutip dari CNBC.
McNally memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah dapat melonjak 5 dollar AS hingga 7 dollar AS per barel saat perdagangan dibuka pada Minggu (1/3/2026) malam waktu New York. Kenaikan ini setara sekitar Rp 84.000 hingga Rp 117.600 per barel dengan kurs Rp 16.800 per dollar AS, mencerminkan perhitungan risiko geopolitik baru.
Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak Brent tercatat 72,48 dollar AS per barel, naik 2,45 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada 67,02 dollar AS per barel, meningkat 2,78 persen.
Ancaman Krusial di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama dalam eskalasi konflik ini. Jalur laut sempit antara Iran dan Oman ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Iran sendiri adalah produsen minyak terbesar keempat dalam OPEC, dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari 2026, dan memiliki garis pantai di Selat Hormuz.
Menurut data perusahaan konsultan energi Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada tahun 2025, setara sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia yang diangkut melalui jalur laut. Sebagian besar pengiriman ini, sekitar tiga perempat, menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China, sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, bahkan memperoleh sekitar setengah impor minyaknya melalui Selat Hormuz.
McNally menilai Iran memiliki kapasitas untuk meningkatkan risiko keamanan di jalur pelayaran tersebut sebagai bentuk tekanan geopolitik. Ia menyebut Iran memiliki persediaan besar ranjau laut dan rudal jarak pendek yang dapat mengganggu lalu lintas kapal. “Iran bisa mencoba menakut-nakuti Presiden Donald Trump dengan membuat Selat Hormuz tidak aman untuk lalu lintas komersial,” ujar McNally.
Jika jalur pelayaran tersebut menjadi tidak aman, harga minyak global berpotensi melonjak di atas 100 dollar AS per barel. McNally menegaskan, dampaknya tidak hanya terbatas pada harga energi. “Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global,” katanya.
Dampak pada Pasokan Energi Global dan Skenario Terburuk
Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga merupakan jalur penting bagi perdagangan gas alam cair (LNG), dengan sekitar 20 persen ekspor LNG dunia melewati jalur ini, sebagian besar dari Qatar. Penutupan selat akan mengganggu pasokan LNG global yang sulit digantikan.
Matt Smith, analis minyak di Kpler, mencatat beberapa kapal tanker telah terpantau mengubah rute pelayaran dan tidak melewati Selat Hormuz, meskipun lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk ekspor dari kawasan Teluk. Ini menjadi sinyal awal meningkatnya risiko.
McNally menambahkan, sebagian besar kapasitas cadangan produksi minyak dunia berada di negara-negara Teluk. Jika Selat Hormuz ditutup, kapasitas tambahan tersebut tidak dapat disalurkan ke pasar global, memperparah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
Jalur alternatif seperti pipa Arab Saudi ke Laut Merah atau pipa Uni Emirat Arab ke Teluk Oman memiliki kapasitas terbatas. Hanya sebagian kecil volume minyak yang dapat dialihkan, sehingga gangguan di Selat Hormuz tetap berpotensi menimbulkan dampak besar.
Vandana Hari, CEO Vanda Insights, menyatakan, “Pada titik ini, tampaknya kita sedang menyaksikan konflik militer skala penuh antara AS dan Iran, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lintasannya mustahil untuk diprediksi.” Ia menambahkan, jika konflik berlanjut dan Iran serta sekutunya membalas secara maksimal, pasar minyak dapat menghadapi skenario terburuk, termasuk gangguan besar pada aliran minyak melalui Timur Tengah.
Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee, menyebut pasar kemungkinan akan memperhitungkan potensi kehilangan hingga 2 juta barel per hari dari ekspor Iran, serangan terhadap infrastruktur energi regional, atau gangguan pelayaran di Selat Hormuz. “Jika rezim Iran merasa menghadapi ancaman eksistensial, upaya untuk memblokir Selat Hormuz tidak dapat dikesampingkan,” kata Kavonic.
Kavonic memperingatkan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz bisa menghadirkan skenario dengan tingkat keparahan tiga kali lipat dibandingkan embargo minyak Arab dan revolusi Iran pada tahun 1970-an. Kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak menembus tiga digit serta memicu kenaikan harga LNG hingga mendekati rekor tertinggi 2022.
Opsi Cadangan Strategis dan Kesiapan Pasar
Pemerintah AS memiliki opsi menggunakan Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang saat ini memiliki sekitar 415 juta barel. Namun, Kevin Book, managing director research di ClearView Energy Partners, menilai cadangan tersebut mungkin tidak cukup untuk menutupi gangguan besar dalam jangka panjang. “Krisis Hormuz skala penuh dapat melampaui kompensasi yang disediakan oleh cadangan strategis di AS dan negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA),” tutur Book.
Pasar minyak kini bersiap menghadapi kemungkinan guncangan pasokan setelah serangan AS terhadap Iran. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah konflik tersebut akan berkembang menjadi gangguan pasokan yang berkepanjangan. Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi para analis energi global yang dirilis pada awal Maret 2026.
