Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran berpotensi memicu gangguan besar pada pasokan minyak di Timur Tengah. Eskalasi konflik ini, yang terjadi pada Sabtu lalu, dikhawatirkan dapat menyeret ekonomi global ke jurang resesi, mengingat posisi strategis Iran sebagai produsen minyak utama dan penjaga Selat Hormuz.
Peran Strategis Iran dan Ancaman Selat Hormuz
Iran, sebagai anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), merupakan produsen minyak terbesar keempat di organisasi tersebut. Pada Januari, produksi Iran sedikit di atas 3 juta barel per hari.
Selain itu, Iran memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur air paling krusial di dunia untuk perdagangan minyak global. Selat ini menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global, sehingga gangguan di jalur ini dapat mengerek harga energi internasional secara signifikan.
Mantan penasihat energi Gedung Putih untuk mantan Presiden George W. Bush, Bob McNally, menyatakan bahwa pasar minyak selama ini meremehkan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Ia menyebut ancaman pembalasan Iran terhadap serangan AS adalah “benar-benar nyata”.
Potensi Kenaikan Harga Minyak dan Resesi Global
McNally memprediksi harga minyak mentah berjangka kemungkinan akan naik 5 hingga 7 dollar AS per barel. Pada Jumat lalu, harga minyak mentah Brent ditutup pada 72,48 dollar AS per barel, naik 1,73 dollar AS atau 2,45 persen dari awal tahun yang berada di level 60,9 dollar AS per barel.
Iran disebut berpotensi mengancam Presiden AS Donald Trump dengan membuat Selat Hormuz tidak aman untuk lalu lintas komersial. Hal ini dapat menyebabkan harga minyak melonjak di atas 100 dollar AS per barel. McNally menambahkan, Teheran memiliki persediaan ranjau dan rudal jarak pendek dalam jumlah besar yang mampu mengganggu lalu lintas di jalur air tersebut secara serius.
Menurut data dari perusahaan konsultan energi Kpler, lebih dari 14 juta barel per hari mengalir melalui Selat Hormuz pada 2025. Jumlah ini setara sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut. Sekitar tiga perempat dari barel tersebut dikirim ke Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Tiongkok, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, menerima setengah dari impor minyak mentahnya dari selat tersebut. “Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global,” tegas McNally.
Ia menjelaskan, kapasitas minyak berlebih dunia berasal dari negara-negara Teluk. Jika terjadi penutupan, pasokan minyak tersebut tidak akan dapat melewati selat, yang berarti akan mengisolasi selat tersebut dari pasar. Selain itu, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair dunia, sebagian besar dari Qatar, juga mengalir melalui selat ini dan tidak akan dapat digantikan.
“Anda akan melihat penimbunan, terutama oleh negara-negara Asia yang merupakan importir besar minyak dan gas ketika mereka menyadari bahwa Hormuz ditutup,” kata McNally. Ia menambahkan, “Anda akan melihat perang penawaran besar-besaran.”
Analis tersebut berpendapat, harga minyak harus naik cukup tinggi untuk memicu penurunan ekonomi yang mengurangi permintaan guna menyeimbangkan pasar. “Tidak ada cukup permintaan diskresioner atau elastis untuk minyak,” ujarnya.
Perbandingan Dampak dengan Serangan Venezuela
Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu merupakan kali kedua pemerintahan AS menyerang negara penghasil minyak utama tahun ini. Sebelumnya, AS juga menyerang Venezuela pada Januari lalu.
Direktur Inisiatif Keamanan Energi dan Iklim di lembaga think tank Brookings Institute, Samantha Gross, menjelaskan bahwa Iran adalah produsen minyak yang lebih besar daripada Venezuela. “Sehingga konsekuensi dari gangguan tersebut bisa lebih besar,” kata Gross, dikutip dari Politico.
Ia melanjutkan, “Ditambah lagi dengan lokasi strategis mereka di titik rawan minyak terpenting di dunia, Anda memiliki situasi yang dapat berdampak signifikan pada pasar, tidak hanya di AS.”
Dampak politiknya juga dapat menyeret Tiongkok, yang membeli sekitar 90 persen dari ekspor Iran atau sebesar 1,5 juta barel per hari. Gangguan pasokan besar apa pun dapat menaikkan biaya energi global dan menyebabkan harga bensin yang lebih tinggi bagi warga AS.
Analis pasar di perusahaan konsultan RBN Energy, Robert Auers, mengungkapkan bahwa ladang minyak Iran menawarkan peluang besar bagi perusahaan minyak internasional untuk memperluas produksi jika rezim di sana jatuh. Infrastruktur Iran dianggap kokoh secara struktural, tidak seperti Venezuela yang telah berada di bawah sanksi melumpuhkan.
Menurut Auers, sektor hulu dan hilir Iran jauh lebih baik pengelolaannya daripada sektor Venezuela. “Ada potensi untuk meningkatkan produksi hampir seketika. Anda bisa dengan cepat menambah kembali 500.000 hingga 1 juta barel per hari di Iran,” tutupnya.
Strategi AS dan Potensi Pengalihan Pasokan
McNally menyebut, hanya sebagian kecil minyak mentah yang melewati Selat Hormuz yang mungkin dapat dialihkan. Arab Saudi, misalnya, memiliki jalur pipa yang membentang di seluruh negara dari pantai timur hingga pantai baratnya di Laut Merah. Uni Emirat Arab (UEA) juga memiliki jalur pipa yang berakhir di Teluk Oman, melewati Selat Hormuz.
Analis minyak di Kpler, Matt Smith, menjelaskan bahwa lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk diekspor di Teluk dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Beberapa kapal tanker bahkan telah terlihat mengalihkan rute agar tidak melewati selat tersebut.
Di sisi lain, AS disebut memiliki strategi melalui kepemilikan cadangan minyak ketika terjadi ekskalasi di Timur Tengah. Direktur Pelaksana Riset di ClearView Energy Partners, Kevin Book, mengatakan bahwa pemerintahan Trump dapat memanfaatkan cadangan minyak strategis jika harga minyak melonjak.
Data dari Departemen Energi AS melaporkan, cadangan minyak strategis tersebut saat ini ada sekitar 415 juta barel.
Informasi lengkap mengenai potensi dampak konflik ini terhadap pasar minyak global disampaikan melalui pernyataan para analis dan data dari lembaga riset energi yang dirilis pada Senin, 02 Maret 2026.
