Pasar modal Indonesia diproyeksikan tetap dalam tren penguatan atau bullish sepanjang tahun 2026, meskipun risiko volatilitas tinggi masih membayangi. Investor diimbau untuk tidak terburu-buru mengejar keuntungan instan dan lebih santai dalam mengambil keputusan investasi.
Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, atau akrab disapa Tjoe Ay, menyatakan bahwa pasar modal Indonesia tahun ini diproyeksikan masih tetap dalam tren penguatan. “Tapi you orang santai saja ya, jangan buru-buru, tunggu market, habis MSCI bulan Mei lewat,” kata Tjoe Ay dalam Media Briefing Nanovest bertajuk Golden Hours – Iftar & Market Prediction pada Kamis (26/2/2026).
Proyeksi Pasar Modal 2026 dan Strategi Investasi
Tjoe Ay menambahkan, pengalaman tahun lalu menunjukkan pasar modal sempat lesu hingga Mei, bahkan diwarnai trading halt pada April akibat sentimen pengumuman tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Namun, pasar terus mengalami penguatan hingga akhir tahun. “Tapi ending-nya kita bahagia semua kan? Jadi tidak usah buru-buru,” imbuhnya.
Dalam perjalanan investasi, Tjoe Ay mengingatkan bahwa investor tidak perlu selalu fully invested, artinya tidak sepanjang waktu menaruh seluruh modal dalam portofolio investasi pada aset aktif seperti saham. Strategi ini penting untuk menjaga modal dan meminimalkan eksposur ke aset berisiko. “Tidak usah, orang itu selalu fully invested, sometimes we wait the signal and hold,” ucapnya.
Arus perputaran modal (money flow) di pasar menjadi perhatian utama untuk meninjau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2026. Tjoe Ay mengungkapkan, industri mulai bergerak menuju pendekatan investasi yang lebih disiplin. “Kita expect money flow dari institusi seperti dana pensiun, insurance, dan BPJS ditingkatkan, kalau institution flow meningkat maka saham fundamental akan mendapatkan more money flow,” jelasnya. Oleh karena itu, saham fundamental patut dilirik pada tahun 2026.
Lebih lanjut, Tjoe Ay memproyeksikan tahun ini akan menjadi periode pasar untuk tumbuh lebih dewasa, dengan investor yang mulai mengenal pasar saham AS. Sektor finansial seperti JPMorgan, Visa, dan Mastercard, serta saham teknologi seperti NVIDIA dan Microsoft, diprediksi akan tetap menjadi motor pertumbuhan melalui monetisasi nyata AI dan normalisasi aktivitas ekonomi. Sementara itu, komoditas emas diproyeksikan tetap kuat (higher for longer) sebagai aset safe haven utama, didukung oleh kebijakan pelonggaran Federal Reserve dan inisiatif global seperti Project Vault.
Pergeseran Pola Pikir Investor dan Pertumbuhan Platform Digital
Investment Expert Jason Nathanael menjelaskan, pasar modal ibarat mesin voting dalam jangka pendek, di mana yang paling ramai bisa tumbuh. Namun, secara jangka panjang, yang paling berbobotlah yang akan bertahan. “Yang paling ramai bisa tumbuh, tapi secara jangka panjang bukan masalah yang paling ramai lagi, tapi masalah yang paling berbobot. Itu yang akan bertahan dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Jason berpandangan bahwa portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengombinasikan beberapa peran aset. Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. “Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang,” ucap Jason.
Chief Marketing Officer (CMO) PT Tumbuh Bersama Nano atau Nanovest, Jovita Widjaja, menegaskan bahwa tahun ini bukan lagi era mengejar keuntungan instan. Pihaknya melihat perubahan pola pikir investor, terutama generasi muda. “Fokusnya bukan lagi sekadar mencari investasi yang cepat naik, tetapi bagaimana membangun portofolio yang sehat dan bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian,” terang Jovita.
Sepanjang tahun 2025, platform Nanovest mencatat pertumbuhan signifikan, baik dari sisi pengguna maupun aktivitas transaksi. Tercatat adanya kenaikan trading volume hingga 70 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan total lebih dari 1,1 juta pengguna yang telah terverifikasi (KYC). Pertumbuhan ini didukung oleh peluncuran berbagai produk inovatif Nanovest yang berfokus ke Web 3, seperti IDDB, Crypto Staking, Gadai Digital, dan Web 3 Trading.
Pergerakan IHSG Terkini
Pada penutupan Kamis (26/2/2026), IHSG masih terlihat melemah dan turun 86,97 poin atau 1,05 persen ke level 8.235,26. IHSG dibuka di level 8.351,36, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 8.322,23. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 8.358,96 dan terendah 8.139,82.
Total volume perdagangan mencapai 54,16 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 28,07 triliun dan frekuensi 3,102 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 14.743 triliun. Pergerakan saham didominasi zona merah dengan 594 saham turun, 157 saham naik, dan 207 saham stagnan.
Pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas sektor yang ditutup di zona merah. Sektor transportasi memimpin penurunan setelah turun 100,62 poin atau 4,54 persen ke 2.121,76. Sektor siklikal melemah 31,62 poin atau 2,58 persen ke 1.190,59, disusul sektor infrastruktur yang turun 55,87 poin atau 2,41 persen ke 2.264,89.
Sektor energi terkoreksi 90,84 poin atau 2,13 persen ke 4.169,35. Sektor kesehatan melemah 41,02 poin atau 2,06 persen ke 1.949,44, sementara sektor properti turun 23,09 poin atau 2,10 persen ke 1.074,93. Sektor bahan baku terkoreksi 42,70 poin atau 1,73 persen ke 2.419,96, sektor teknologi melemah 126,30 poin atau 1,46 persen ke 8.532,66, dan sektor industri turun 25,76 poin atau 1,26 persen ke 2.020,16. Sementara itu, sektor konsumer non-siklikal dan keuangan masing-masing melemah 1,33 persen dan 0,52 persen.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management dan Nanovest dalam acara Media Briefing Nanovest yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026.
