Finansial

Ancaman Tarif Impor Trump 15 Persen: Analis Jelaskan Sektor Ekonomi Indonesia yang Paling Terdampak

Advertisement

Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menaikkan tarif impor menjadi 15 persen berpotensi besar memberi tekanan signifikan terhadap pasar saham domestik. Kebijakan proteksionis ini diperkirakan akan memicu sentimen risk-off global, sebuah kondisi di mana investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman.

Dalam situasi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia berpotensi terkoreksi, terutama pada sektor-sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perdagangan internasional dan fluktuasi nilai tukar. Ketidakpastian global yang meningkat akibat isu perang dagang umumnya direspons cepat oleh pasar keuangan, mengingat dampaknya pada arus perdagangan, pertumbuhan ekonomi, dan proyeksi laba korporasi.

Dampak Kebijakan Proteksionis AS terhadap Pasar Saham Domestik

Sentimen risk-off global mendorong dana asing untuk keluar dari emerging market seperti Indonesia. Dana tersebut kemudian beralih ke aset safe haven, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, yang dianggap lebih stabil di tengah gejolak ekonomi. Fenomena ini dapat menyebabkan tekanan jual yang signifikan di pasar saham domestik.

Sektor Manufaktur dan Komoditas Paling Rentan

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti sektor manufaktur berbasis ekspor dan komoditas industri sebagai yang paling rentan. “Sektor yang paling rentan adalah manufaktur berbasis ekspor dan komoditas industri seperti nikel, karena sangat sensitif terhadap perlambatan permintaan global. Jika ekonomi Tiongkok dan AS melambat, harga komoditas bisa terkoreksi,” ujar Hendra saat dihubungi pada Jumat (27/2/2026).

Hendra menambahkan bahwa batu bara juga berpotensi tertekan apabila proyeksi konsumsi energi industri melemah, terutama jika perlambatan ekonomi berlangsung luas. Prospek saham batu bara dan nikel akan sangat bergantung pada kedalaman perlambatan global. Jika kenaikan tarif hanya memicu gejolak jangka pendek, koreksi harga komoditas diperkirakan terbatas. Namun, jika terjadi kontraksi perdagangan global yang lebih luas, tekanan bisa berlanjut.

Senada dengan Hendra, pengamat pasar modal Reydi Octa juga menilai manufaktur berbasis ekspor menjadi sektor paling rentan. “Manufaktur berbasis ekspor paling rentan karena langsung terdampak pelemahan demand global. Komoditas seperti nikel juga sensitif karena sangat tergantung China,” ucap Reydi.

Advertisement

Resiliensi dan Risiko Sektor Perbankan

Sektor perbankan kerap mengalami tekanan jual asing karena bobotnya yang besar dalam IHSG dan likuiditasnya yang tinggi. Saham bank sering menjadi sumber dana saat investor global melakukan rebalancing portofolio. Meski demikian, secara fundamental perbankan dinilai relatif lebih tangguh dibanding sektor berbasis ekspor.

“Perbankan memang bisa terkena sentimen jual asing karena bobotnya besar di IHSG dan likuiditasnya tinggi, sehingga sering menjadi sumber dana saat investor global melakukan rebalancing. Namun secara fundamental, bank besar relatif lebih tahan karena struktur permodalan kuat dan pasar domestik masih dominan,” beber Hendra.

Reydi Octa menambahkan bahwa perbankan relatif defensif, namun tetap bisa terkoreksi karena perlambatan ekonomi. “Bank besar likuid dan bobotnya besar di indeks, jadi sumber likuiditas saat asing keluar. Tapi justru biasanya itu juga yang paling cepat rebound ketika sentimen membaik,” pungkas Reydi.

Ancaman Risiko Nilai Tukar bagi Emiten

Reydi Octa juga menyoroti risiko nilai tukar yang dapat memperparah tekanan pada beberapa emiten. Emiten dengan eksposur utang dalam dolar AS dan pendapatan berbasis rupiah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar ketika rupiah melemah. “Emiten dengan eksposur dolar besar dan pendapatan rupiah akan paling tertekan, terutama sektor properti, infrastruktur, atau manufaktur. Beban bunga naik dan selisih kurs bisa menggerus laba,” katanya.

Informasi mengenai analisis dampak kebijakan ini disampaikan oleh pengamat pasar modal Hendra Wardana dan Reydi Octa pada Jumat, 27 Februari 2026.

Advertisement