Laga leg pertama semifinal Coppa Italia antara Como racikan Cesc Fabregas dan Inter Milan asuhan Cristian Chivu berakhir tanpa gol di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Selasa, 3 Maret 2026. Hasil imbang 0-0 ini menuai sorotan dari legenda sepak bola Italia, Arrigo Sacchi, yang menilai kedua tim tampil terlalu hati-hati dan minim percikan.
Arrigo Sacchi Kecewa dengan Pendekatan Hati-hati
Arrigo Sacchi, sosok yang sukses mengantar AC Milan menjuarai Piala Champions pada 1989 dan 1990, secara terang-terangan menyatakan kekecewaannya terhadap jalannya pertandingan.
“Pertama-tama, mari kita perjelas bahwa ini bukan soal sistem atau para pemain, mereka tidak ada hubungannya dengan itu. Hal yang seharusnya menjadi sorotan adalah pendekatannya,” ujar Sacchi seperti dilansir dari Football Italia.
Sacchi menyoroti minimnya agresivitas dari kedua tim. Sepanjang 90 menit pertandingan, Como hanya mencatatkan satu tembakan ke gawang, sementara Inter Milan racikan Cristian Chivu bahkan sama sekali tidak membuat ancaman yang mengarah ke gawang kiper Jean Butez.
Minimnya Agresivitas dari Kedua Tim
Menurut Sacchi, pertandingan tersebut didominasi oleh kehati-hatian, di mana kedua tim lebih fokus untuk tidak kebobolan.
“Pertama-tama, ini adalah pertandingan di mana kedua tim mencoba untuk tidak kebobolan dan bermain dengan serangan balik,” jelas Sacchi.
Pendekatan Como di bawah asuhan Cesc Fabregas mengejutkan Sacchi. Tim yang biasanya dipuji karena keinginan dan tekadnya untuk mendominasi lawan, kali ini tidak menunjukkan percikan yang sama.
“Saya kagum dengan tim Fabregas yang sejauh ini dipuji karena keinginan dan tekadnya untuk mendominasi lawan. Kali ini tidak ada percikan,” tambahnya.
Inter Milan Tampil di Bawah Standar
Sacchi juga melihat hal serupa terjadi pada Inter Milan. Tim yang dikenal dominan di Serie A dan hampir mengunci gelar Scudetto dengan keunggulan 10 poin dari AC Milan, tidak menunjukkan kekuatan menyerangnya.
“Inter, yang praktis sudah memegang Scudetto dan hanya akan kehilangannya jika mereka tertidur (mereka unggul 10 poin dari Milan), adalah tim yang menjadikan soliditas dan permainan menyerang sebagai dua kekuatannya. Kita melihat soliditas itu, terutama saat tidak menguasai bola, meskipun Como sempat membuat kiper (Josep) Martinez terancam beberapa kali, tetapi sama sekali tidak ada permainan menyerang,” tutur Arrigo Sacchi, yang juga pernah menukangi timnas Italia di Piala Dunia 1994.
Situasi Masih Terbuka untuk Leg Kedua
Dengan hasil imbang 0-0, peluang kedua tim untuk melaju ke final Coppa Italia masih sangat terbuka. Leg kedua semifinal akan digelar di Giuseppe Meazza pada 22 April 2026.
Sacchi mencoba melihat sisi positif dari hasil ini.
“Untuk bersikap positif, mari kita lihat seperti ini. Como dan Inter menyelamatkan diri mereka untuk leg kedua,” tulis Sacchi dalam kolomnya di La Gazzetta dello Sport.
Ia juga menyoroti jadwal padat Inter Milan yang akan menghadapi derbi melawan AC Milan di San Siro pada Minggu malam, di mana Milan akan berupaya keras mempersulit rencana Cristian Chivu.
“Khususnya Nerazzurri, yang akan menghadapi derbi di San Siro pada Minggu malam, ketika Milan harus memainkan kartu terakhir mereka dalam upaya mempersulit rencana Chivu,” pungkasnya.
Informasi lengkap mengenai analisis pertandingan ini disampaikan melalui kolom Arrigo Sacchi di La Gazzetta dello Sport yang dirilis setelah pertandingan.
