Barce Eynstend Layaba, atlet tenis meja disabilitas asal Dobo, Kabupaten Aru, Maluku, berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Ia meraih medali perak pada ajang ASEAN Para Games 2025 yang diselenggarakan di Kota Korat Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 20-26 Januari 2026.
Prestasi membanggakan ini diraih setelah Layaba berhasil mencapai peringkat kedua dalam final cabang olahraga tenis meja. Ia berhadapan dengan tuan rumah, Thailand, dalam pertandingan yang ketat.
Perjuangan Meraih Medali Perak
Layaba, yang akrab disapa Aces, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Medali perak tersebut menjadi bukti kerja kerasnya setelah melalui serangkaian latihan panjang dengan berbagai keterbatasan.
“Beta bersyukur sekali bisa dapat juara 2 kalahkan tuan rumah. Setelah latihan panjang dengan segala keterbatasan, beta mewakili Maluku harumkan nama Negara Indonesia,” ujar Layaba kepada Kompas.com, Selasa (24/3/2026).
Jejak Pengorbanan dan Latihan Intensif
Perjalanan Aces menuju podium juara di ASEAN Para Games 2025 tidaklah mudah. Alumni Fakultas Seni Keagamaan Kristen, Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKPEN) Ambon, ini harus rela meninggalkan usaha makanan khas Maluku bernama Warung Wetan yang didirikannya di Kota Solo, Jawa Tengah.
Selama lima bulan, pria kelahiran Dobo, 25 Mei 1996, ini menjalani latihan intensif bersama para atlet terbaik perwakilan 33 provinsi di Indonesia di Solo. Latihan tersebut menguras sebagian besar waktunya, sehingga ia terpaksa menutup sementara warungnya. Layaba, yang juga magister Musik Grejawi angkatan 2020 dari Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, yakin niatnya mengharumkan nama daerah dan bangsa akan terlaksana dengan konsisten mengikuti program pembinaan National Paralympic Committee (NPC).
“Beta juga latihan mandiri biar lebih siap. Memang untuk sampai di posisi ini butuh pengorbanan. Segala aspek, keluarga, waktu sampai dana pribadi,” jelas peraih medali perak pada ajang tunggal International Table Tennis Federation (ITTF) World Para Challenger Giza-Mesir, November 2025.
Pertandingan di Mesir tersebut diikuti Aces dengan dukungan dana pribadi untuk mengejar poin menuju Olimpiade 2028. Menurutnya, dukungan finansial dari pemerintah daerah dan pusat saja tidak cukup untuk mengejar ajang tunggal seperti di Mesir.
“Beta punya tabungan selama menang ikut pertandingan beta simpan. Jadi pakai tabungan juga untuk dukung beta dapat juara,” kata peraih medali emas nomor ganda campuran kelas XD10 di ajang Asian Para Table Tennis Championship 2025 di Beijing.
Dominasi di Kancah Internasional dan Target Selanjutnya
Aces, yang telah meraih berbagai medali di tingkat nasional (Peparnas) maupun internasional, menyadari pentingnya konsistensi dan fokus. Kualitas atlet teruji oleh latihan rutin, yang membantunya mengenal kemampuan diri serta melatih adaptasi dengan sesama pemain.
Pria yang mahir memainkan biola ini dikenal dengan sistem bertahan yang kuat. Saat tampil di Beijing bersama rekannya asal Riau, Leli Marlina, keduanya membuktikan hal itu. Performa mereka berhasil mematahkan dominasi juara dari China pada pertandingan 2025.
“Saat ini beta sedang bersiap untuk ikut Asian Para Games Nagoya Jepang pada Oktober 2026. Memang sejauh ini provinsi juga lagi susah tapi tetap bantu berikan perhatian terbaik untuk kami atlet. Beta lewati itu dan sampai di titik ini dapat hasil baik. Lewat usaha keras dan dukungan dari berbagai pihak,” terangnya.
Ia tidak menampik kondisi tiap daerah berbeda, terkadang membuatnya cemburu dengan rekan dari provinsi lain yang dibekali dukungan finansial besar dari pemerintah daerah. Namun, keterbatasan dana itu tidak menahan langkahnya membawa nama Maluku di tingkat dunia. “Keterbatasan itu bukan tembok. Harus tahu cara lewati,” katanya optimistis.
Bakat Ganda: Olahraga dan Seni
Di sela-sela waktu latihan, Aces bersama beberapa rekan atlet disabilitas lainnya juga disibukkan dengan aktivitas lain. Mereka menjadi bagian dari video klip single terbaru Charly van Houten alias Charly ST12.
Dalam unggahan di akun media sosial Instagram, Aces membagikan momen saat syuting di Gunung Bromo, Jawa Timur. “Kami jadi bagian dari kisah di lagunya Charly ST12 judul Para Juara dengan beberapa atlet disabilitas lain,” aku Aces, yang memiliki darah seni kental mengalir dari sang ayah.
Selain sukses sebagai atlet olahraga, Aces juga aktif sebagai komposer dan bagian dari orkestra di kampusnya dulu. Darah seninya itu mengalir dari sang ayah, Albert Layaba, yang merupakan pencipta mars dan desainer logo Kabupaten Aru. Dengan talentanya yang besar, Aces yakin usahanya akan menjadi semangat juang bagi banyak orang.
Informasi mengenai perjalanan dan prestasi Barce Eynstend Layaba ini disampaikan melalui wawancara dengan Kompas.com pada Selasa, 24 Maret 2026, serta berbagai catatan kejuaraan internasional.
