Finansial

Bank Indonesia Tegaskan Kesiapan Intervensi Pasar demi Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Konflik Geopolitik

Advertisement

Bank Indonesia (BI) memastikan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai fundamental di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Bank sentral akan terus memantau pergerakan pasar secara seksama guna merespons dinamika yang terjadi secara tepat dan cepat.

BI Pantau Ketat Sentimen Pasar Global

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Iran berpotensi mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global. Oleh karena itu, BI memastikan nilai tukar rupiah akan bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

“Termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis kepada media pada Senin, 2 Maret 2026.

Strategi Intervensi dan Kebijakan Moneter BI

Erwin juga menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar keuangan untuk melakukan intervensi melalui berbagai jenis transaksi. Intervensi yang akan dilakukan BI meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Strategi ini akan disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Di sisi lain, BI juga akan memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh. Bank sentral akan mencermati ruang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) lebih lanjut, sejalan dengan perkiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Upaya ini juga bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga,” tambah Erwin.

Advertisement

Analisis Pengamat Terkait Pergerakan Rupiah

Sebelumnya, sejumlah pengamat mata uang menilai bahwa memanasnya konflik geopolitik di Iran dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah hingga level Rp 17.000 per dollar AS pada pekan ini. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.750-Rp 16.900 per dollar AS pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, dengan potensi pelemahan hingga Rp 17.000 pada pekan ini.

Kendati demikian, Lukman memprediksi rupiah tidak akan melemah terlalu dalam karena Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan intervensi di pasar uang. Prediksi serupa juga diungkapkan oleh Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat, 27 Februari 2026, rupiah ditutup melemah 0,17 persen ke level Rp 16.787 per dollar AS. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, mata uang Garuda bergerak melemah 0,24 persen atau 41 poin terhadap dollar AS ke level Rp 16.828 per dollar AS.

Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bank Indonesia yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026.

Advertisement