Perjalanan Barito Putera di Championship Liga 2 musim 2025-2026 bukan sekadar memburu tiket promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Lebih dari itu, klub ini membawa cerita tentang menjaga warisan keluarga, konsistensi perencanaan jangka panjang, serta keyakinan bahwa degradasi adalah ruang evaluasi, bukan akhir dari sebuah perjalanan.
Sebagai pengelola klub, Hasnuryadi Sulaiman memandang Barito Putera sebagai legasi orang tua yang harus dirawat dengan nilai dan semangat yang sama seperti saat pertama kali didirikan.
Barito Putera: Menjaga Warisan dan Semangat Pemersatu
Hasnuryadi Sulaiman mengungkapkan bahwa Barito Putera adalah warisan dari almarhum ayahnya, Haji Abdus Salman Suleiman bin Haji Basyurun, dan almarhumah ibunya, Haji Asyidin Nur Hayati binti Ayang Nullah. Klub ini didirikan pada tahun 1988, di era Galatama, dengan gagasan besar tentang persatuan.
“Alhamdulillah ini kan merupakan warisan ya, legasi dari abah yang tercinta Haji Abdus Salman Suleiman bin Haji Basyurun dan almarhumah mamah yang tercinta Haji Asyidin Nur Hayati binti Ayang Nullah. Beliau mendirikan dari tahun 1988,” tutur pria yang biasa disapa Hasnur tersebut. Ia menambahkan bahwa nama klub, seperti Persenus (Persatuan Sepak Bola Nusantara) sebelumnya dan Barito Putera yang merujuk pada nama sungai, bertujuan untuk mempersatukan semua elemen.
Degradasi 2024-2025: Ujian Konsistensi dan Adaptasi Regulasi Liga 2
Musim 2024-2025 menjadi titik balik ketika Barito Putera harus turun kasta. Namun, keputusan manajemen untuk membangun tim dengan kontrak jangka panjang sejak awal membuat masa transisi tidak terlalu sulit.
“Kami tidak pernah berpikir setahun-dua tahun, tapi berpikir jangka panjang. Dalam hal mengontrak pemain, bahkan pelatih, itu juga jangka panjang,” kata Hasnuryadi Sulaiman. Model ini membawa konsekuensi ketika regulasi Liga 2 berbeda dengan Liga 1, sehingga penyesuaian komposisi pemain, kuota asing, hingga efisiensi anggaran menjadi tantangan tersendiri.
Pria berusia 50 tahun itu menjelaskan, “Agak sulit pada waktu penyesuaian, karena kan ada regulasi-regulasi yang harus kami sesuaikan. Akhirnya kami juga harus berpikir keras tentang budget-nya, tentang penyesuaian-penyesuaian setelah dari Liga 1 ke Liga 2. Memang perlu waktu untuk kami melakukan itu, karena banyak pemain-pemain yang sudah kami kontrak untuk jangka panjang.” Situasi ini juga membatasi ruang pelatih, Teco, dalam membentuk ulang tim. “Dengan keluasan hatinya, Teco bilang ya sudah kita manfaatkan pemain yang ada. Alhamdulillah pemain-pemain ini bisa dimaksimalkan dengan baik,” imbuhnya.
Liga 2: Ruang Pembinaan Pemain Muda dan Kontribusi Timnas
Di tengah keterbatasan, Liga 2 justru membuka peluang baru sebagai ruang untuk memberi menit bermain kepada pemain muda. Menurut Hasnuryadi Sulaiman, regulasi yang mewajibkan pemain muda serta pembatasan pemain asing adalah arah yang tepat bagi sepak bola nasional.
“Saya sudah merasa ini sudah benar ya, apa yang dilakukan oleh kita semua, dipimpin oleh Pak Erick Thohir,” kata Hasnuryadi, yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Selatan. Ia menambahkan, “Dengan regulasi memainkan pemain muda, kemudian juga dibatasi pemain asingnya, terus sekarang juga ada VAR dan segala macamnya, dengan semuanya ini sudah kita di jalan yang benar.” Untuk itu, ia berharap klub-klub Liga 2 tidak hanya berpikir promosi, tetapi juga berkontribusi bagi Timnas Indonesia dengan mencetak pemain-pemain nasional.
Perjuangan di Championship 2025-2026: Asa Promosi dan Kekuatan Suporter
Kini, persaingan di papan atas Championship 2025-2026 sedang berlangsung sengit. Dengan enam laga tersisa, selisih poin antar tim teratas relatif tipis. Barito Putera berada di posisi kedua dan masih berpeluang finis sebagai juara grup.
“Kita berharap kita bisa paling tidak di peringkat satu dan dua supaya ada peluang untuk langsung promosi. Karena kan kalau juara langsung promosi, tidak perlu repot-repot lagi playoff. Tapi kalau peringkat dua harus playoff dulu, segala sesuatunya masih memungkinkan,” sambung Hasnuryadi. Sementara itu, keberadaan suporter yang selalu mendukung Barito Putera menjadi fondasi utama, dengan loyalitas yang tidak surut bahkan dalam masa sulit.
“Supporter itu adalah jantung, ruh dari segala organ tubuhnya yang kami ini. Semua organ tubuhnya akan diperintah oleh supporter apa pun itu,” kata mantan EXCO PSSI dua periode itu. Ia menegaskan bahwa suporter adalah ruh Barito Putera yang setia, mendukung, dan memberikan saran konstruktif, menjaga nilai-nilai seperti persatuan, family spirit, wasaka (waja sampai kaputing/fight till the end), pride of banoa, loyalty, konsistensi, dan legacy sebagai identitas klub.
Stadion Baru: Motivasi dan Pusat Pembinaan Masa Depan
Di tengah perjuangan promosi ke Super League 2025-2026, rencana pembangunan stadion baru menjadi suntikan motivasi. Hasnuryadi Sulaiman berharap fasilitas baru itu kelak tidak hanya menjadi kandang kebanggaan, tetapi juga pusat pembinaan, termasuk bagi Elite Pro Academy.
“Terima kasih juga pada Pak Gubernur yang alhamdulillah mulai tahun ini akan membangunkan kami sebuah stadion baru. Dan ini memberi semangat untuk kita,” pungkas Hasnuryadi Sulaiman.
Informasi lengkap mengenai perjalanan Barito Putera di Championship Liga 2 disampaikan melalui pernyataan Hasnuryadi Sulaiman kepada Kompas.com pada Rabu, 04 Maret 2026.
