Finansial

BEI Imbau Investor Tetap Rasional di Tengah Gejolak Pasar Akibat Konflik Iran-Israel

Advertisement

Eskalasi konflik antara Iran dan Israel kembali memicu ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, di tengah tekanan jual yang dominan. Menanggapi situasi ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau para investor untuk tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan investasi.

BEI Imbau Investor Tetap Rasional

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menekankan pentingnya sikap tenang dan rasional bagi investor. Menurutnya, gejolak pasar yang terjadi dalam situasi geopolitik umumnya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey kepada wartawan pada Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan bahwa fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan sebenarnya. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap berpegang pada analisis fundamental, termasuk kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, serta posisi utang emiten. Jeffrey juga mengingatkan investor untuk menyesuaikan strategi investasi dengan profil dan toleransi risiko masing-masing.

IHSG Terkoreksi Signifikan

Pada perdagangan Senin (2/3/2026) pukul 11.00 WIB, IHSG terkoreksi 148,607 poin atau turun 1,80 persen, berada di level 8.086,878. Indeks sempat dibuka di posisi 8.092,905 dan menguat terbatas hingga menyentuh level tertinggi 8.133,692.

Namun, tekanan jual kembali mendominasi pasar, mendorong indeks turun hingga menyentuh posisi terendah 8.039,508 sebelum akhirnya bergerak di kisaran 8.080-an. Aktivitas perdagangan tercatat ramai dengan volume mencapai 29,556 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp14,739 triliun, serta frekuensi perdagangan 1.919.861 kali transaksi. Meski demikian, tekanan masih dominan dengan 651 saham melemah, 105 saham menguat, dan 57 saham stagnan.

Analisis Pengamat Pasar Modal: Risiko Ekonomi Global dan Dampak pada IHSG

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke fase risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman.

Advertisement

“Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik, tetapi sudah masuk ke ranah risiko ekonomi global. Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ucap Hendra saat dihubungi pada Minggu (1/3/2026).

Hendra mencatat, harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3 persen. Kenaikan harga energi ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan dari Timur Tengah, kawasan yang menjadi pusat distribusi minyak dunia. Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz, jalur distribusi minyak tersibuk di dunia yang dilewati sekitar 30 persen perdagangan minyak global.

Dampak lonjakan harga minyak tidak hanya pada energi, tetapi berisiko mendorong inflasi global, menekan nilai tukar, serta mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara. Dalam konteks tersebut, tekanan terhadap pasar modal Indonesia menjadi semakin relevan dan besar.

Bagi pasar modal Indonesia, tekanan datang dari dua sisi. “Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi,” beber Hendra. Jika harga minyak bertahan tinggi, beban operasional perusahaan meningkat dan margin laba berpotensi tergerus. Dalam skenario ini, IHSG berpotensi melemah dan menguji support klasik di level 8.133, dengan area psikologis 8.000 sebagai support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di kisaran 8.300.

Meski dibayangi tekanan, tidak semua sektor terdampak negatif. Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang indeks, karena kenaikan harga emas dan minyak membuka peluang bagi saham-saham tambang dan energi.

Informasi lengkap mengenai imbauan BEI ini disampaikan melalui pernyataan resmi Jeffrey Hendrik pada Senin, 2 Maret 2026.

Advertisement