Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi nasional pada tahun 2026 akan tetap terjaga di bawah 3 persen. Meskipun demikian, BI menyoroti adanya faktor teknis dari kebijakan diskon tarif listrik tahun 2025 dan potensi kenaikan harga menjelang Ramadan serta Idul Fitri yang perlu diwaspadai. Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menjelaskan dinamika ini dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Februari 2026.
Proyeksi Inflasi 2026 dan Dampak Kebijakan Listrik
Aida S Budiman menyatakan bahwa perkiraan inflasi untuk tahun 2026 secara keseluruhan akan terjaga, bahkan dengan proyeksi di bawah 3 persen. Namun, ia menggarisbawahi dampak lanjutan dari kebijakan diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari dan Februari 2025.
Diskon tersebut menciptakan efek basis (base effect) terhadap inflasi tahunan di periode yang sama pada tahun berikutnya, yakni Januari hingga Maret 2026. “Yang kedua untuk yang perlu digarisbawahi untuk inflasi di 2026 ini adanya dampak dari diskon listrik di tahun 2025 yaitu pada bulan Januari dan Februari dan nanti masih terasa dampaknya sampai Januari, Februari, Maret 2026,” kata Aida.
Pada Januari 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan, sedikit di atas rentang target inflasi BI yang ditetapkan 2,5 persen plus minus 1 persen. Aida menjelaskan, angka ini bersifat sementara dan lebih banyak dipengaruhi komponen administered prices akibat efek diskon listrik tahun sebelumnya.
Target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah bersama BI untuk 2025 dan 2026 berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen, atau rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. BI berkomitmen menjaga stabilitas harga melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Ramadan dan Lebaran
Selain faktor teknis, BI juga memantau potensi kenaikan harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, periode yang secara historis kerap diikuti peningkatan permintaan masyarakat. Aida menyampaikan bahwa kondisi inflasi pada periode tersebut diperkirakan tetap terjaga.
“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini semuanya masih terjaga,” ujar Aida. Ia menambahkan, angka inflasi diperkirakan sedikit di atas 3 persen karena dampak administered prices dari diskon listrik tahun lalu.
Tekanan inflasi ini tidak berasal dari sisi pasokan pangan. Menurut Aida, kondisi produksi hortikultura saat ini dalam fase panen, sehingga suplai relatif mencukupi. Komoditas seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit yang termasuk kelompok volatile food terpantau aman.
BI melakukan monitoring harga secara rutin untuk memastikan pergerakan harga tetap dalam kisaran proyeksi. “Kami melakukan monitoring mingguan untuk harga-harga semuanya masih dalam kisaran proyeksi dari Bank Indonesia,” tegas Aida.
Penguatan Koordinasi dan Peluncuran GPIPS
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BI memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi ini melibatkan kementerian dan pemerintah daerah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator.
TPIP dan TPID menjalankan strategi pengendalian inflasi kerangka 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Kerangka ini bertujuan menjaga stabilitas harga pangan serta memperkuat sinergi kebijakan pusat dan daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Aida juga mengungkapkan peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini merupakan penguatan dari gerakan sebelumnya dengan penekanan lebih besar pada ketahanan pangan, terutama aspek pasokan dan distribusi.
Peluncuran GPIPS telah dilakukan di Sumatera Selatan oleh Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali dan akan berlanjut di berbagai daerah lainnya. BI akan terus memperkuat respons kebijakan untuk memastikan inflasi inti terkendali dan mengantisipasi risiko global serta domestik.
Informasi lengkap mengenai proyeksi inflasi dan kebijakan pengendalian harga ini disampaikan melalui pernyataan resmi Bank Indonesia dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Februari 2026.
