Finansial

BI Umumkan Kredit Perbankan Januari 2026 Melonjak 9,96 Persen, Sektor UMKM Justru Melemah

Advertisement

Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 mengalami penguatan signifikan, mencapai pertumbuhan 9,96 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,69 persen (yoy). Namun, di tengah kinerja positif ini, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru menunjukkan kontraksi.

Kinerja Kredit Perbankan Januari 2026 Meningkat

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit perbankan yang positif ini ditopang oleh peningkatan pada seluruh jenis penggunaan kredit, terutama kredit investasi. “Kinerja positif tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 22,38 persen (yoy), kredit konsumsi sebesar 6,58 persen (yoy), dan kredit modal kerja sebesar 4,13 persen (yoy),” ujar Perry dalam konferensi pers pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perry menambahkan, penguatan penyaluran kredit juga didukung oleh peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial BI, serta realisasi program prioritas pemerintah. “Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus makin diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Data BI menunjukkan, total kredit yang disalurkan perbankan pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp 8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 sebesar 9,3 persen (yoy).

Rincian Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Sektor

Dari sisi jenis penggunaan, kredit modal kerja (KMK) pada Januari 2026 tumbuh 4,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,4 persen (yoy). Peningkatan KMK ini terutama bersumber dari sektor listrik, gas, dan air bersih serta sektor konstruksi.

Sementara itu, kredit investasi (KI) tumbuh 21,9 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 20,5 persen (yoy). Pertumbuhan ini terutama ditopang sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan serta sektor konstruksi.

Adapun kredit konsumsi (KK) tumbuh 7,2 persen (yoy), naik dari 6,4 persen (yoy) pada Desember 2025. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan kredit multiguna sebesar 9,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan 7,7 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Secara sektoral, kredit yang disalurkan kepada sektor swasta domestik pada Januari 2026 mencapai Rp 8.416,4 triliun. Kredit investasi ke sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan tumbuh 32,1 persen (yoy), sedangkan sektor konstruksi tumbuh 38,0 persen (yoy).

Kontraksi Kredit UMKM di Tengah Penguatan Sektor Properti

Pada segmen properti, penyaluran kredit properti tumbuh 14,1 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 13,1 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kredit konstruksi yang tumbuh 34,4 persen (yoy).

Namun, kredit kepada UMKM pada Januari 2026 tercatat terkontraksi 0,5 persen (yoy), setelah sebelumnya terkontraksi 0,3 persen (yoy). Kontraksi tersebut terutama bersumber dari penurunan kredit modal kerja UMKM yang terkontraksi 4,8 persen (yoy).

Advertisement

Kredit skala usaha mikro masih tumbuh 0,1 persen (yoy), sedangkan kredit usaha kecil dan menengah masing-masing terkontraksi 1,0 persen dan 1,1 persen (yoy).

Likuiditas Perbankan dan Dana Pihak Ketiga Tetap Memadai

Dari sisi pendanaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp 9.489,1 triliun atau tumbuh 10,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 10,5 persen (yoy). Peningkatan DPK didorong oleh komponen giro dan tabungan yang tumbuh masing-masing 19,0 persen (yoy) dan 8,8 persen (yoy).

Kondisi likuiditas perbankan dinilai tetap memadai, tecermin dari Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tercatat sebesar 27,54 persen pada Januari 2026. DPK tumbuh 13,48 persen (yoy), menopang kapasitas pembiayaan bank.

Perry menyampaikan, BI optimistis pertumbuhan kredit masih cukup kuat ke depan, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Nilai fasilitas kredit yang belum digunakan (undisbursed loan) pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp 2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia.

“Minat penyaluran kredit oleh perbankan juga terus membaik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” kata Perry. BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8 sampai 12 persen.

Perkembangan Uang Beredar dan Suku Bunga

Pertumbuhan kredit tersebut sejalan dengan perkembangan likuiditas perekonomian. BI mencatat, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 sebesar 9,6 persen (yoy), sehingga mencapai Rp 10.117,8 triliun.

Berdasarkan komponennya, pertumbuhan M2 didorong oleh uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,9 persen (yoy) dan uang kuasi yang tumbuh 5,4 persen (yoy). Faktor yang memengaruhi pertumbuhan M2 pada Januari 2026 terutama berasal dari tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.

Pada Januari 2026, suku bunga kredit dan suku bunga simpanan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Januari 2026 sebesar 8,79 persen, sedikit menurun dibandingkan 8,80 persen pada Desember 2025. Suku bunga simpanan berjangka juga menurun pada tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.

Informasi lengkap mengenai kinerja kredit perbankan dan likuiditas perekonomian ini disampaikan melalui konferensi pers Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada Kamis, 19 Februari 2026.

Advertisement