Harga Bitcoin menunjukkan pergerakan yang rapuh pada Minggu (1/3/2026), setelah sempat menguat tipis menyusul kabar wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama seiring ketidakpastian pasar akibat eskalasi konflik geopolitik pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Latar Belakang Geopolitik dan Reaksi Pasar
Aset digital, termasuk Bitcoin (BTC), bereaksi cepat terhadap kabar kampanye militer gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026). Bitcoin anjlok tajam hingga menyentuh level 63.000 dollar AS, menyebabkan nilai pasar kripto secara keseluruhan menyusut 128 miliar dollar AS dalam waktu singkat, berdasarkan data CoinGecko.
Hayden Hughes, Managing Partner Tokenize Capital, menjelaskan bahwa lebih dari 128 miliar dollar AS lenyap dalam hitungan menit, diikuti likuidasi paksa beruntun. “Setelah tekanan jual mereda, pantulan harga yang terjadi bersifat mekanis,” ujar Hughes, menambahkan bahwa proses pembentukan harga yang sesungguhnya kemungkinan baru terlihat pada Senin, ketika pasar saham AS dan ETF Bitcoin kembali dibuka.
Eskalasi konflik terus berlanjut setelah serangan tersebut, dengan Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah lokasi, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Teheran juga mengancam akan menyerang lebih banyak pangkalan yang terkait AS di Irak, menciptakan situasi yang membuat pasar tetap berhati-hati terhadap aset berisiko.
Analisis Pasar Derivatif dan Sentimen Investor
Di pasar derivatif, sekitar 1,9 miliar dollar AS opsi jual (put options) Bitcoin terkonsentrasi pada harga kesepakatan 60.000 dollar AS di Deribit. Kondisi ini mengindikasikan tingginya permintaan lindung nilai terhadap potensi penurunan harga, mengingat Bitcoin baru sekali menyentuh level 60.000 dollar AS sepanjang tahun ini, yakni pada 6 Februari.
Rata-rata pergerakan harga 200 pekan, yang dianggap sebagian analis teknikal sebagai level penopang penting, berada di sekitar 58.000 dollar AS. Sementara itu, opsi beli (call options) Bitcoin terkonsentrasi di sekitar level 75.000 dollar AS, menunjukkan adanya spekulasi terhadap potensi kenaikan harga di masa mendatang.
Richard Galvin, salah satu pendiri hedge fund Digital Asset Capital Management, menilai serangan AS sebagian besar sudah diperhitungkan oleh pelaku pasar. “Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan harga sebagai peluang untuk membeli saat turun (buy the dip) atau menutup posisi jual (close their shorts),” kata Galvin.
Aktivitas spekulasi juga terlihat di Polymarket, di mana sebanyak 529 juta dollar AS kontrak diperdagangkan terkait waktu serangan AS terhadap Iran. Lonjakan ini mencerminkan tingginya perhatian dan spekulasi pasar terhadap perkembangan konflik yang masih berlangsung.
Prospek dan Indikator Penting
Menurut Hayden Hughes, arus dana ETF Bitcoin akan menjadi indikator penting saat pasar kembali dibuka. Pekan lalu, ETF Bitcoin mencatat arus masuk dana sebesar 1 miliar dollar AS selama tiga sesi berturut-turut. Jika tren itu berbalik, Bitcoin berpotensi menembus ke bawah 63.000 dollar AS.
Di sisi lain, sebagian pengamat menilai kenaikan tipis pada Minggu menjadi tanda bahwa pasar mulai mencoba melihat melampaui gejolak Iran. Markus Thielen, Head of Research 10x Research, menyatakan bahwa trader umumnya tidak memperkirakan konflik Iran akan menimbulkan dampak ekonomi negatif yang besar. “Permintaan untuk opsi beli Bitcoin dengan potensi kenaikan harga jelas meningkat dalam beberapa hari terakhir,” ujar Thielen.
Pelaku pasar juga tengah bersiap menghadapi pertemuan Federal Reserve (The Fed) berikutnya, yang dapat memengaruhi sentimen pasar kripto secara keseluruhan.
Informasi lengkap mengenai pergerakan harga Bitcoin dan analisis pasar ini disampaikan berdasarkan laporan dari Bloomberg pada Minggu (1/3/2026) dan pernyataan para analis pasar kripto.
