Finansial

Bitcoin Menguat Drastis Dekati 70.000 Dollar AS, Hentikan Tren Turun Tiga Hari Berturut-turut

Advertisement

Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan signifikan pada Kamis, 26 Februari 2026, mendekati level 70.000 dollar AS setelah menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan aset kripto terbesar ini terjadi seiring dengan penguatan saham teknologi dan membaiknya sentimen risiko global, terutama pasca-rilis laporan keuangan optimis dari Nvidia Corp.

Aksi Beli dan Sentimen Pasar Mendorong Kenaikan

Berdasarkan laporan Bloomberg, harga Bitcoin melonjak hingga 9,3 persen, mencapai level 69.987 dollar AS. Kenaikan intraday ini merupakan yang terbesar sejak 6 Februari 2026, setelah sebelumnya aset kripto utama tersebut terakhir menyentuh 70.000 dollar AS pada 16 Februari 2026.

Tidak hanya Bitcoin, altcoin juga turut merasakan dampak positif. Ether (ETH) menguat sekitar 13 persen ke level 2.100 dollar AS, diikuti oleh Solana (SOL) yang meningkat sekitar 16 persen, dan XRP yang naik 10 persen.

Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets, menjelaskan bahwa kenaikan ini kemungkinan dipicu oleh aksi beli setelah periode penurunan yang cukup panjang. “Jika harga Bitcoin berhasil menembus 70.000 dollar AS, narasi pasar akan berubah,” ujarnya.

Penguatan pasar kripto juga didorong oleh pidato Presiden AS yang menenangkan serta prospek pendapatan kuartalan Nvidia yang optimistis. Nvidia, yang dianggap sebagai barometer perdagangan berbasis teknologi AI, mengindikasikan bahwa pembangunan komputasi AI tetap berjalan sesuai rencana.

Dampak Kebijakan Politik AS dan Pergeseran Minat Investor

Sebelumnya, pasar kripto sempat mengalami penurunan awal pekan ini setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kewenangan Presiden Donald Trump untuk memberlakukan tarif timbal balik. Trump sebelumnya menggunakan wewenang berbeda untuk mengumumkan tarif global sebesar 15 persen, yang sempat menekan pasar.

Meskipun permintaan di AS menurun, investor kini mulai beralih ke altcoin, yang menunjukkan kinerja melampaui Bitcoin. Daniel Reis-Faria, CEO ZeroStack, mengamati bahwa Bitcoin kini bergerak dalam sistem pasar yang lebih luas.

“Saat likuiditas menurun, volatilitas meningkat. Aset seperti Solana yang menghasilkan yield nyata akan bertahan lebih baik dibanding aset yang hanya bergerak berdasarkan momentum,” kata Reis-Faria, menjelaskan pergeseran preferensi investor.

Advertisement

Kewaspadaan di Tengah Volatilitas dan Prospek Pasar Kripto

Sejak 5 Februari 2026, harga Bitcoin sempat jatuh 13 persen, menandai penurunan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir. Saat ini, harga Bitcoin masih terpaut hampir 50 persen dari rekor tertingginya yang mencapai hampir 127.000 dollar AS pada Oktober lalu.

Jake Ostrovskis, kepala perdagangan over-the-counter di Wintermute, mengingatkan investor untuk tetap waspada. “Sampai token ini kembali di atas 75.000 dollar AS, sulit bagi banyak pihak untuk menganggapnya serius,” tegasnya.

Data dari Glassnode menunjukkan bahwa hampir 9 juta Bitcoin, atau sekitar 45 persen dari total token yang beredar, bernilai lebih rendah dari harga beli pemegangnya. Kondisi ini menjelaskan mengapa setiap reli sering kali gagal, karena pemegang yang merugi cenderung menjual saat harga naik, sehingga momentum kenaikan terserap.

Alex Kuptsikevich, analis pasar utama FxPro, melihat adanya kesamaan dengan kondisi pasar pada tahun 2022. Saat itu, penurunan tajam diikuti oleh pergerakan sideways selama beberapa bulan sebelum pasar kembali naik dan mencatat rekor baru dalam lebih dari satu tahun.

Secara keseluruhan, pasar kripto masih berada dalam tekanan, dengan nilai total pasar turun lebih dari 20 persen dibandingkan setahun lalu, menurut data dari CoinGecko.

Informasi lengkap mengenai pergerakan pasar kripto ini disampaikan melalui laporan Bloomberg yang dirilis pada Kamis, 26 Februari 2026, serta analisis dari berbagai pakar pasar.

Advertisement