Harga Bitcoin (BTC) kembali tersungkur, melemah ke level 64.854 dollar AS pada Selasa, 24 Februari 2026. Penurunan ini menandai koreksi signifikan di pasar kripto, dengan aset digital terbesar itu ambles lebih dari 27 persen dalam 30 hari terakhir.
Tekanan jual yang masif ini tidak hanya memukul Bitcoin, tetapi juga merata ke mayoritas kripto berkapitalisasi besar lainnya, memicu kekhawatiran di kalangan investor global.
Harga Bitcoin Terus Tertekan
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat turun 3,64 persen. Kinerja periodik menunjukkan tekanan yang lebih dalam, dengan koreksi 5,81 persen dalam tujuh hari terakhir dan ambles 27,19 persen selama 30 hari.
Secara year to date (YTD), pelemahan Bitcoin mencapai 25,89 persen. Saat ini, jumlah Bitcoin yang beredar mencapai 19,99 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.
Meskipun demikian, Bitcoin masih memimpin pasar dengan kapitalisasi 1,29 triliun dollar AS, volume transaksi harian menyentuh 51,25 miliar dollar AS, serta dominasi pasar 58,08 persen, berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.36 WIB.
Altcoin Ikut Anjlok
Penurunan harga juga melanda sejumlah altcoin dengan kapitalisasi pasar besar. Ethereum (ETH) turun 4,22 persen ke 1.862,95 dollar AS, sementara Solana (SOL) terkoreksi 4,78 persen ke 78,16 dollar AS.
Bitcoin Cash (BCH) mencatat pelemahan terdalam di kelompok aset utama, anjlok 13,03 persen ke 493,84 dollar AS. Kripto lainnya seperti XRP melemah 1,83 persen ke 1,355 dollar AS dan BNB turun 2,09 persen ke 599,29 dollar AS.
TRON (TRX) terkoreksi 2,93 persen ke 0,2814 dollar AS, Dogecoin (DOGE) turun 2,18 persen ke 0,09308 dollar AS, dan Cardano (ADA) melemah 2,31 persen ke 0,2638 dollar AS.
“Buy on Dip” Tak Lagi Efektif
Mengutip Bloomberg, Bitcoin menghadapi tekanan terdalam sepanjang sejarahnya, merosot lebih dari 40 persen dari posisi puncaknya tanpa tanda-tanda pemulihan yang jelas. Pola klasik “buy on dip” atau aksi beli saat harga turun, yang selama ini menjadi penyelamat pasar, tidak lagi efektif.
Minat pembeli melemah, sementara faktor-faktor yang biasanya mendorong pemulihan justru berbalik arah menjadi beban. Dalam lanskap makro, emas dinilai lebih unggul sebagai aset lindung nilai, dan stablecoin dianggap lebih efisien serta stabil untuk kebutuhan pembayaran.
Perhatian investor juga mulai bergeser ke pasar prediksi dan instrumen lain di luar kripto untuk spekulasi.
Narasi Utama Bitcoin Dipertanyakan
Kondisi pasar saat ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang peran Bitcoin ke depan. Owen Lamont, manajer portofolio di Acadian Asset Management, menilai narasi utama Bitcoin selama ini bertumpu pada kenaikan harga.
“Kisah utama Bitcoin selama ini adalah harganya terus naik dan sekarang kita tidak lagi memiliki itu,” ujar Owen Lamont. “Yang terjadi sekarang justru ‘harganya turun’. Itu bukan cerita yang bagus.”
Berbeda dengan saham atau komoditas yang memiliki indikator fundamental seperti laba dan arus kas, nilai Bitcoin sangat bergantung pada kepercayaan dan narasi yang mampu menarik investor baru. Ketika narasi tersebut melemah, daya tariknya pun ikut tergerus.
Menariknya, tekanan ini terjadi meskipun pemerintah Amerika Serikat dinilai semakin akomodatif terhadap industri kripto dan adopsi institusional semakin dalam dengan partisipasi Wall Street yang kian luas. Legitimasi yang diperjuangkan Bitcoin belum cukup menopang harganya.
Persaingan dengan Aset Makro Lain
Trader ritel yang masuk saat reli dipicu sentimen politik sebelumnya kini banyak yang berada dalam posisi merugi. Di sisi lain, munculnya instrumen spekulatif baru ikut mengalihkan perhatian investor.
Noelle Acheson, penulis buletin Crypto is Macro Now, mengatakan bahwa ketika Bitcoin telah diposisikan sebagai aset makro, maka ia harus bersaing dengan berbagai alternatif lain yang dinilai lebih mudah dipahami dan dijelaskan kepada klien maupun pemegang kepentingan.
“Wahana spekulatif baru seperti pasar prediksi, bahkan bursa komoditas, mulai menyedot perhatian dari pasar kripto,” ucap Noelle Acheson. “Sekarang ketika BTC diposisikan sebagai ‘aset makro’, ia harus bersaing dengan begitu banyak alternatif lain, yang sebagian besar lebih mudah dipahami dan lebih mudah dijelaskan kepada wali amanat, klien, maupun dewan direksi.”
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan Bloomberg dan analisis dari para pakar industri kripto yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026.
