Finansial

BNBR Umumkan Rights Issue Rp 6,5 Triliun, Perkuat Modal dan Pangkas Utang Akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung

Advertisement

“Kami baru mendapat persetujuan RUPSLB untuk penerbitan saham melalui rights issue,” ujar Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya Bakrie, di Jakarta Selatan usai RUPSLB.

Target Dana dan Tujuan Utama Rights Issue

Melalui mekanisme PMHMETD, BNBR akan menerbitkan saham baru seri E sebanyak-banyaknya 90 miliar saham. Saham baru ini berasal dari portepel perseroan dan akan dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Anindya Bakrie menilai rights issue ini berdampak positif karena bertujuan melakukan deleveraging atau menurunkan beban utang. Beban utang tersebut merupakan akibat dari pembiayaan akuisisi Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Strategi Deleveraging dan Dampak pada Rasio Utang

Setelah akuisisi, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) BNBR sempat melonjak hingga sekitar 500 persen. Pembelian saham tol tersebut dibiayai melalui pinjaman.

Dana hasil rights issue akan digunakan untuk membayar kewajiban terkait akuisisi tersebut. Dengan demikian, DER diproyeksikan turun kembali menjadi sekitar 200 persen. “Apa gunanya rights issue ini adalah untuk membayar hutang daripada akuisisi tersebut,” papar Anindya.

“Memang debt to equity naik menjadi 500 persen. Tapi dengan rights issue ini kembali ke 200 persen. Jadi mengatakan bahwa hasil daripada akuisisi ini telah dibayar hutangnya. Kecuali hutang yang tertera di dalam Tollways itu sendiri,” tambah pria yang akrab disapa Anin tersebut.

Detail Akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung

BNBR sebelumnya telah menyelesaikan pengambilalihan 100 persen saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Transaksi ini ditandai dengan penandatanganan Sale & Purchase Agreement (SPA) antara BTI, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, dan PT Waskita Toll Road (WTR) di Jakarta pada Jumat, 28 November 2025.

Advertisement

Akuisisi dilakukan setelah muncul peluang untuk mengambil seluruh saham CCT yang sebelumnya dimiliki SMI sebesar 55 persen dan WTR sebesar 35 persen. Sebelum transaksi tersebut, BNBR telah menguasai 10 persen saham CCT secara langsung maupun melalui BTI.

“Sebenarnya kami telah memiliki tol ini 100 persen sebelumnya. Tapi kami menjual 90 persen ke pihak lain dan kita punya 10 persen. Pada saat kesempatan ada kami membeli 90 persen ini dengan harga Rp 3,5 triliun. Sehingga dengan rencana right issue yang ada ini kita bisa membayar segala macam, pun hutang yang terkait,” jelas Anin.

Potensi dan Prospek Investasi Jalan Tol

Secara fundamental, Anindya Bakrie menilai akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung merupakan langkah strategis. Tol sepanjang 26 kilometer tersebut mencatat lalu lintas sekitar 43.000 kendaraan per hari.

Pendapatan dari tol ini mencapai sekitar Rp 3 miliar per hari, meningkat dari sebelumnya sekitar Rp 2 miliar per hari. Tol ini juga berperan penting dalam mengurangi kemacetan, terutama di koridor Cikampek dan kawasan penyangga Jakarta.

“Nah tol ini sangat menarik karena setiap harinya itu masukkan Rp 2 miliar. Bahkan sekarang sudah Rp 3 miliar per hari. 43.000 kendaraan per hari menghasilkan Rp 3 miliar. Dan ini ada 26 km di Cimanggis-Cibitung yang mengurangi congestion atau kemacetan di daerah tersebut, terutama di Tol Cikampek,” lanjutnya.

Dari sisi kelayakan investasi, arus kas harian yang stabil dan prospek pertumbuhan trafik menjadi dasar perhitungan internal rate of return (IRR). Imbal hasil dinilai lebih menarik dibandingkan biaya pendanaan. Perbaikan struktur modal melalui rights issue diharapkan menyeimbangkan kembali profil risiko dan imbal hasil perseroan.

Informasi lengkap mengenai aksi korporasi ini disampaikan melalui pernyataan resmi PT Bakrie & Brothers Tbk setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Jumat, 27 Februari 2026.

Advertisement