Klub sepak bola Italia, Como 1907, yang dimiliki oleh Djarum Group, kini berada di ambang sejarah untuk berkompetisi di Liga Champions musim depan. Keberhasilan mereka merangsek ke urutan keempat klasemen sementara Serie A hingga giornata ke-30 telah membuka jalan menuju panggung elite antarklub Eropa. Namun, di balik euforia tersebut, sejumlah rintangan administratif dan finansial serius menanti.
Perjalanan Impian Como 1907 Menuju Eropa
Langkah Como 1907 untuk mengunci tiket Liga Champions musim depan semakin nyata berkat performa konsisten di bawah asuhan pelatih Cesc Fabregas. Kemenangan telak 5-0 saat menjamu Pisa SC, yang dibarengi dengan hasil imbang 1-1 antara Juventus dan Sassuolo, mengukuhkan posisi mereka di zona empat besar klasemen.
Pencapaian ini terbilang fenomenal, mengingat pada musim sebelumnya I Lariani hanya mampu finis di peringkat ke-10. Jika berhasil mengamankan posisi ini hingga akhir musim, ini akan menjadi kali pertama bagi Como 1907 mencicipi atmosfer kompetisi Eropa sejak terakhir kali berpartisipasi di Piala Mitropa pada musim 1980-1981 silam.
Tantangan Infrastruktur: Stadion Giuseppe Sinigaglia
Laporan dari Sportmediaset menyebutkan bahwa kondisi markas Como 1907, Stadion Giuseppe Sinigaglia, belum memenuhi standar kelayakan untuk menggelar pertandingan internasional. Diperlukan langkah rekonstruksi cepat agar stadion tersebut siap sebelum September 2026.
Sebagai langkah antisipasi, klub dikabarkan telah menjajaki komunikasi dengan Sassuolo untuk meminjam Stadion Mapei sebagai kandang sementara. Opsi ini serupa dengan langkah yang pernah diambil Atalanta di masa lalu saat markas mereka direnovasi.
Ancaman Financial Fair Play (FFP) UEFA
Tantangan kedua berkaitan erat dengan aspek finansial klub. Sejak akuisisi oleh keluarga Hartono pada 2019, Como 1907 tercatat melakukan investasi masif untuk belanja pemain yang mencapai lebih dari 150 juta euro, atau sekitar Rp 2,93 triliun.
Investasi besar ini mengakibatkan kerugian sekitar 105 juta euro pada penutupan tahun keuangan Juni 2025. Kondisi ini membuat klub harus berhadapan dengan regulasi Financial Fair Play (FFP) dari UEFA. Meskipun kabarnya akan ada keringanan untuk musim perdana, pihak manajemen wajib menyepakati perjanjian penyelesaian agar kondisi keuangan klub kembali seimbang sesuai parameter yang telah ditetapkan oleh federasi.
Krisis Pemain Binaan Lokal dan Regulasi UEFA
Isu terakhir yang tidak kalah krusial adalah komposisi pendaftaran pemain. Berbeda dengan regulasi Serie A, UEFA menerapkan aturan ketat mengenai kuota pemain binaan lokal (homegrown). Dalam daftar maksimal 25 pemain, setiap klub wajib menyertakan minimal delapan pemain binaan lokal, dengan empat di antaranya harus merupakan lulusan akademi klub itu sendiri.
Saat ini, komposisi skuad asuhan Fabregas dianggap masih jauh dari ideal. Skuad utama mereka tercatat hanya memiliki dua pemain asli Negeri Piza, yakni penjaga gawang Mauro Vigorito dan bek Eduardo Goldaniga. Ironisnya, baik Vigorito maupun Goldaniga bukanlah pemain hasil didikan asli akademi klub tersebut, sehingga pemenuhan kuota pemain binaan lokal akan menjadi tugas berat di bursa transfer mendatang.
Informasi lengkap mengenai tantangan dan persiapan Como 1907 ini disampaikan melalui laporan media olahraga Italia dan analisis regulasi UEFA yang berlaku untuk kompetisi antarklub Eropa.
