Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, mengungkapkan bahwa kesepakatan tarif resiprokal dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat hanya mampu mengamankan sekitar 2 persen dari total perdagangan nasional Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Media bertajuk “Perjanjian Perdagangan Resiprokal: Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan?” di Jakarta Pusat pada Jumat, 27 Februari 2026.
Cakupan Akses Pasar yang Terbatas
Riandy Laksono menjelaskan bahwa dari seluruh ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, hanya sekitar 24 persen yang tercakup dalam tambahan tarif 0 persen. Padahal, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sendiri hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total ekspor nasional.
“Jadi, dari seluruh ekspor kita ke Amerika itu cuma 24 persen yang ter-cover yang dapat tambahan 0 persen. Bear in mind, ekspor kita ke Amerika itu cuma 10 persen. Jadi, total akses pasar yang kita amankan dari total trade kita cuma 2 persen,” ujar Riandy dalam diskusi tersebut.
Akses pasar yang diamankan tersebut berasal dari 1.819 produk Indonesia yang memperoleh tarif resiprokal 0 persen atau pengecualian tarif dari Amerika Serikat. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang memperoleh pembebasan tarif untuk sekitar 1.700 produk.
Kritik terhadap Efektivitas Perjanjian
Riandy menilai capaian akses pasar 2 persen tersebut tidak sebanding dengan reformasi tata kelola perdagangan yang perlu dilakukan Indonesia, terutama untuk produk asal Amerika Serikat. Ia membandingkan dengan berbagai perjanjian dagang lain di mana Indonesia umumnya mampu mengamankan 90 hingga 99 persen dari total perdagangan nasional.
Lebih lanjut, Riandy mencurigai bahwa pengecualian tarif bagi 1.819 produk tersebut sudah menjadi skenario sejak awal. Menurutnya, kebijakan itu bukan hasil negosiasi intensif pemerintah Indonesia selama berbulan-bulan sejak April 2025.
Produk yang Tercakup dan Dampak yang Diklaim Pemerintah
Kesepakatan ART memberikan fasilitas tarif nol persen bagi 1.819 pos tarif produk Indonesia di pasar Amerika Serikat. Produk-produk tersebut mencakup minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang. Sektor tekstil dan apparel juga memperoleh tarif nol persen melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Pemerintah Indonesia menyebut kebijakan ini berdampak langsung pada sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil dan turunannya. Selain itu, kebijakan ini diperkirakan memengaruhi hingga 20 juta masyarakat jika menghitung keluarga pekerja.
Sebagai timbal balik, Indonesia juga memberikan tarif nol persen bagi sejumlah produk impor Amerika Serikat, terutama bahan baku pertanian seperti gandum dan kedelai. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas harga pangan domestik. Produk turunan seperti mi, tahu, dan tempe diharapkan tidak mengalami kenaikan biaya akibat tarif impor.
Informasi lengkap mengenai analisis ini disampaikan melalui Diskusi Media yang diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Jumat, 27 Februari 2026.
